Insan Instan

Mukadimah Pasemuan Bebrayan Cilacap Maret 2018

Dengan motor matic yang belum lunas angsuran kreditnya, aku melaju melewati jalan yang penuh lubang. Malam hari tepat di persimpangan di mana belum ada lampu jalan, di kanan kiri yang masih dipenuhi pepohonan besar. Motor matic-ku ngadat, tiba-tiba terhenti. Kucoba berulang kali menyalakannya baik menggunakan starter atau oglegan slah belakang, tak kunjung juga ia menyala. Padahal bensin telah terisi penuh.

Akhirnya kuputuskan mengalihkannya ke tepi jalan, kunyalakan rokok. Sambil istirahat sejenak atau menunggu kendaraan lain lewat. Kubakar lintingan tembakau satu persatu dari bungkusnya. Karena jika membakar sekaligus kebun tembakaunya, bukankah itu satu bentuk tindakan pengingkaran terhadap eksistensi petani yang menanamnya? Negara yang mengambil cukainya dan distribusi penghasilan dari pengepul, pengrajin, pabrikan, sales hingga ke tanganku, atau jika aku tidak mau menghisapnya juga, aku khawatir itu bentuk ketidak-syukuranku terhadap satu jenis tanaman yang memang sengaja Tuhan ciptakan untuk dinikmati?

Berbarengan dengan nyala korek dan sebatang rokok yang telah menyentuh bibirku, dari celah pepohonan di tepi jalan yang gulita, seorang tua dengan berbaju serba putih dengan udeng-udeng di kepala layaknya Pangeran Diponegoro menghampiriku. Entah ini ilusi, halusinasi atau aku yang sedang bermimpi, aku pun tak tahu. Yang jelas, tanpa berkepanjangan ia bertanya.

“Hai, kamu siapa?”

“Aku Patur”

“Patur itu sebutanmu saja. Kamu bisa dipanggil dengan Entus, Parlan, Pakur, atau suka-suka kawanmu menamaimu siapa. Yang ia hanya berfungsi untuk menyebutmu agar tak tertukar dengan yang lain. Dan bodohnya kamu yang terjajah oleh namamu sendiri hingga kau berniat mengibarkan ke seantero negeri dan membisikkan ke setiap telinga orang”

“Baiklah, Aku ya aku, badanku ini”

“Oh, jadi kalau badanmu tidak ada, kamu pun tidak ada. Kalau kelak badanmu berkalang tanah, terbaring kaku di bawah kamboja lantas dilumat tanpa sisa oleh cacing tanah, kamu pun tidak ada? Kalau seumpama tiba-tiba tangan dan kakimu tidak ada, entah sebab kecelakaan, karena hukuman atau memang Tuhan melahirkanmu dalam kondisi yang berbeda seperti hari ini di mana tanpa tangan dan kaki, kehadiranmu pun berkurang atau tidak ada. Seperti itu maksudmu ? ”

“Bisa jadi”

“Bodoh kamu, setiap makhluk yang terlanjur tercipta ia langsung bersifat abadi. Lahir hidup dan mati hanyalah proses perpindahan alam. Makhluk bersifat Kholidin lagi Abada. Jasadmu itu hanya wadah. Layaknya keong yang suatu saat meninggalkan cangkangnya. Temukan dan kenalilah dirimu. Belajarlah ilmu titik. Titik koordinat dirimu dalam ekosistem semesta, hingga kelak jika kau temukan ketepatan titik itu, kau akan tahu bahwa sejatinya tidak ada yang benar-benar ada kecuali Ia yang Pasti Ada. Adanya kita hanya dipinjami oleh sesuatu yang wajib Ada. La ilaha Illallah, La Maujuda Illallah

Tak terasa telah habis rokok di tanganku, Bapak Tua itu pun tiba-tiba menghilang. Kudekati motorku, dan dengan gampangnya ia kembali menyala.

Ah motor matic-ku, beda yang paling kentara antara ia dengan motor bebek, standar kopling, sport, vespa atau trail adalah pada penggunaan transmisinya. Pada motor selain matic, transmisi masih manual sehingga pengoperan “gigi” atau gear masih dikendalikan oleh pengemudi. Ada tahapan untuk naik kelas jika hendak melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi atau ada pengurangan kecepatan dengan tersedianya rem mesin, berbeda dengan matic yang telah dilengkapi transmisi otomatis. Sehingga fleksibilitas dan kenyamanan berkendara dengan matic hanya mempunyai dua pilihan. Yakni melaju sekencangnya atau berjalan sepelan-pelannya.

Pada posisi dengan kecepatan tinggi, menurut kami ini berbahaya. Tanpa bantuan rem mesin yang didukung transmisi ini. Posisi mengerem yang tanpa persiapan bisa menyebabkan “blandrang“. Belum lagi posisi lampu depan di persimpangan yang tetap lurus sebelum body matic ikut berbelok, ini menuntut kewaspadaan ekstra baik bagi pengemudi matic atau pengemudi di depannya.

Dalam alam bawah sadar, dengan hanya dua perintah antara gas dan rem tanpa transmisi gear pada motor matic apakah tidak hanya mengajarkan kepada kita untuk hanya memiliki dua pilihan tanpa kontrol otonom dari diri kita yang lain. Artinya apakah tidak mengajarkan untuk hanya selalu memiliki dua pandangan terhadap setiap hal. Kalau tidak hitam ya pasti putih, kalau tidak NU ya pasti Muhammadiyah. Kalau tidak hidup melampiaskan hasrat, ya hidup penuh tirakat prihatin tingkat bunuh diri. kalau tidak bekerja layaknya Romusha atau rodi yang waktu 24 jam pun masih kurang, ya menjadi pengangguran sukses tanpa bergerak sama sekali. Bukankah Khoirul Umur Awsatuha, Yang paling baik adalah yang pertengahan.

Paketan motor tanpa transmisi manual ini pun mengajarkan kita untuk memperoleh sesuatu tanpa nikmatnya marhalah proses. Gigi 1 naik 2 lanjut 3 dan seterusnya seolah memberikan jeda nafas bahwa di tingkatan tertentu seseorang harus paham kalibernya, harus mampu menunjukan dan membuktikan ukurannya. Tidak serta merta ia datang menjadi “the number one” tanpa “track record” dan suku cadang amal dan latar belakang yang memungkinkan dan mengizinkannya untuk naik panggung sejarah. Belum tuntas menjadi tukang ojek, sudah mengincar supir angkot, Baru dilantik supir angkot. Sudah berambisi menjadi sopir truk, belum kelar mengantarkan muatan truk sudah beralih menjadi sopir kontainer. Belum punya pasangan, baru saja akad, belum mampu menghamili. Sudah pengin beristri lagi. Pada motor matic, perjuangan menikmati pergantian gear itu tidak ditemukan. (Yasin FR)

Dengan motor matic yang belum lunas angsuran kreditnya, aku melaju melewati jalan yang penuh lubang. Malam hari tepat di persimpangan di mana belum ada lampu jalan, di kanan kiri yang masih dipenuhi pepohonan besar. Motor matic-ku ngadat, tiba-tiba terhenti. Kucoba berulang kali menyalakannya baik…