“Hayati Khidmaty”: Hidupku Pengabdianku

Liputan Majelis Maiyah Padhangmbulan Agustus 2018

Pukul 22.00 WIB. Ketika Wirid Padhangmbulan dibaca, jamaah sudah duduk lesehan memadati area di sekitar panggung hingga meluber ke jalan. Geremang doa mengalir dari jamaah.

Tidak banyak perubahan–generasi Z, anak-anak muda yang “potongan” mereka tampak bukan santri, mengikuti wirid demi wirid. Pemandangan yang bikin kecelek siapa saja yang menilai seseorang dari sisi penampilan belaka.

Sebagian dari mereka memejamkan mata, menatap relung hati, matik aji, nyambung dengan kesadaran diri yang mungkin selama ini terlunta-lunta dalam sepi.

Sebentar lagi mahallul qiyam dilantunkan. Kanjeng Nabi Muhammad diundang hadir di semesta rohani kita masing-masing. Memohon jaminan keselamatan ketika Muhammad Saw hadir di tengah kita, Allah Swt tidak akan menurunkan adzab-Nya.

Wakijo, dari Gambang Syafaat, hadir di Padhangmbulan, membersamai jamaah dengan lagu-lagu yang langsung akrab dan nge-klik. Wakijo menyapa jamaah dengan gayeng, seperti bertemu saudara yang lama tidak berjumpa. Kata anak zaman now terjalin chemistry yang alami antara mereka dengan jamaah Padhangmbulan.

Cak Fuad dan Kyai Muzamil telah hadir. Sesi awal, Cak Fuad menceritakan pengamalan selama berkeliling dari Aceh, Banjarmasin, Mataram hingga Saudi Arabia.

Yang menarik, pada acara pengembangan bahasa Arab di Aceh bersama Ikatan Pengajar Bahasa Arab, beliau membacakan puisi Mbah Nun yang berjudul “Air Mata Bagi Aceh.” Apa yang sesungguhnya hendak disampaikan Cak Fuad?

Bencana Tsunami yang melanda Aceh menyimpan hikmah yang luar biasa. Puisi Mbah Nun mengisyaratkan hal itu. Pertama, tsunami yang menyapu bumi rencong memersatukan rakyat Aceh. Lelah oleh perseteruan antara GAM dengan TNI berakhir dengan rekonsiliasi. Kedua, penerapan syariat Islam di Aceh.

Menurut Cak Fuad, warga nonmuslim merasa tenang dengan diterapkannya syariat Islam. Rumah tangga mereka jadi tenteram. Suami tidak lagi pulang ke rumah dengan mabuk afau kalah judi.

“Penerapan syariat Islam tidak seseram yang dibayangkan,” tutur Cak Fuad. Syariat Islam tidak diterapkan secara kaku. Fleksibilitas tetap dijalankan secara adil. Cak Fuad memberi contoh, hukuman mati pagi pembunuh bisa dicabut ketika keluarga korban memaafkan. Keadilan ditegakkan seraya mengutamakan akhlak.

Selain itu Cak Fuad juga menceritakan pengalaman selama di Saudi Arabia. Indahnya silaturahmi menjadi tajuk pengalaman beliau. Mulai dari upaya melakukan umrah yang bersamaan dengan musim haji di saat memasuki kota Makkah bukan pekerjaan yang mudah, hingga pengabdian jamaah Maiyah kepada jamaah umrah atau haji.

“Jamaah Maiyah di manapun mereka berada selalu memberikan kontribusi dan layanan yang membahagiakan,” kata Cak Fuad. Hal ini seiring dengan rencana penerbutan buku: kumpulan tulisan dari para pengabdi Bahasa Arab, yang berjudul “Hayati Khidmaty.” Hidupku Pengabdianku.

Demikianlah, antara musibah dan pengabdian bertemu irisannya dalam cakrawala kesadaran maraton: hidup tidak pernah berakhir. Dalam setiap musibah tersimpan hikmah. Tsunami yang pernah melanda Aceh membuktikan hal itu. Pengabdian untuk melayani sesama menemukan momentumnya manakala musibah akan selalu mengintai negeri cincin api.

Bagaimana dengan musibah yang kini melanda saudara kita di Lombok? Malam ini kita belajar bersama menghikmahi setiap musibah–tema yang diangkat pengajian Padhangmbulan malam ini.

Buku dan Merchandise