Gondhelan Klambine Kanjeng Nabi

Mukadimah Sulthon Penanggungan November 2018

Bulan Rabiul Awal merupakan bulan di mana Nabi yang paling agung, Nabi yang membawa risalah terakhir dilahirkan. Hampir sebagian umat Islam khususnya di Indonesia memperingati hari lahirnya sang pembawa cahaya, yang mengeluarkan umatnya dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang.

Kebanyakan umat Islam merayakannya sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa cinta yang begitu besar kepada Kanjeng Nabi dan merupakan momentum untuk menyatukan semangat dan gairah keislaman.

Sebagai orang yang mencintai Kanjeng Nabi, tentu kita juga ikut mencintai apa yang dicintai oleh beliau dan membenci apa yang dibenci oleh beliau. Jika beliau cinta kepada para sahabat, maka kita juga cinta kepada para sahabatnya. Jika beliau benci kepada orang yang berbuat maksiat, maka kita juga ikut membenci hal tersebut.  Itulah hukum cinta yang berlaku di dalam kehidupan manusia.

Logika sederhana mengenai cinta, bahwa jika sesorang mencintai kekasihnya, maka pasti dia mencintai apa saja yang berhubungan dengan kekasihnya tersebut. Seperti itu juga antara kita dan Rasulullah, jika kita mencintai beliau, pasti kita akan suka dengan cinta dengan hal-hal yang berhubungan dengan beliau, mulai dari kehidupan beliau, cara bergaul, pakaian Rasul, bahkan cara senyum Rasulullah pun ikut diperhatikan oleh umat Islam.

Logika sederhana mengenai cinta itulah yang membuat kita ikut bahagia dan senang tatkala pujaan hati kita Rasulullah dilahirkan ke Dunia ini.

Meski kita semua tidak secara kasat mata melihat Kanjeng Nabi, Namun dalam jiwa tetaplah tertanam akan betapa besar perjuangan beliau dalam menegakkan agama Islam.

Sejak zaman nabi Adam ‘Alaihissalam sampai sekarang, hanya Rasulullah SAW yang dikehendaki Allah SWT memiliki kemampuan memberikan syafa’at bagi umatnya, yakni berupa pertolongan sebanding dengan sebuah syafa’at di hari kiamat. Sungguh suatu keberuntungan menjadi bagian dari umatnya.

Keberadaan umat Islam terus berkembang dan berganti zaman ke zaman. Tentu harapan kita semua, bisa dipertemukan dengan sosok manusia paling mulia sejagat ini. 

Dahulu, para sahabat bisa dipertemukan secara langsung dengan beliau dan bersama-sama berjuang untuk menyebarkan kebenaran hakiki.

Dalam sebuah riwayat, suatu ketika berkumpullah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”

Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.

“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.

“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.

“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda,

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (HR.Muslim)

Di dalam semesta laku hidup orang-orang Maiyah, sudah sejak dini Mbah Nun menanamkan ilmu tentang segitiga cinta Allah-Muhammad-Manusia. Keterkabulan doa kita bisa tercapai kalau kita menyertakan cinta kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Kanjeng Nabi punya hak khusus memberikan syafa’at kepada umatnya. Di hadapan Allah, orang-orang Maiyah tidak mampu dan tidak pantas mengandalkan apapun dari dirinya, apalagi kepandaian, kepintaran, kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya.

Jalan yang tersedia adalah ndherek Kanjeng Nabi, bermodal mencintai Kanjeng Nabi, yakni mencintai orang yang paling dicintai-Nya, mendaftar sebagai rombongan orang-orang yang ada di belakang Kanjeng Nabi. Bahasa sederhananya Gondhelan Klambine Kanjeng Nabi.

Mengenai Gondhelan Klambine Kanjeng Nabi telah dipaparkan lebih jauh oleh Mbah Nun bahwa Rasulullah bukan hanya utusan Allah kepada kita, melainkan juga ‘utusan’ kita kepada Allah. Gondhelan Klambine Kanjeng Nabi itu artinya kita berada di belakang Kanjeng Nabi, tak boleh melampaui. Berada di belakang berarti harus mengikuti beliau

Dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus :62)

Hadits tersebut seolah memberi semangat bahwa setidaknya pejalan Maiyah sedang berusaha menempuh laku tersebut.

Katakanlah, dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah Dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’  (QS.Yunus : 58).

Kanjeng Nabi merupakan Rahmat bagi semesta, sesuai perintah Allah mari kita bergembira dengan terus berusaha Gondhelan Klambine Kanjeng Nabi, melingkar bersama, mengaji dan mengkaji, merindu dan mengintimi segala tentang Nabi kita tercinta.

Buku Cak Nun