Eman-Eman Iman

Mukadimah Semesta Maiyah Februari 2018

Sewaktu kita menonton sepakbola kemudian penyerang  menggiring bola sampai didepan mulut gawang lawannya yang 99% peluang menjadi gol tapi akhirnya tidak gol. Yang kita sepakati (sebagai pendukung kesebalasan si penyerang) adalah “eman-eman” karena peluang itu tidak menjadi gol. Kalau kita melihat sisa makanan yang kelihatannya masih enak dan nggak basi kemudian dibuang begitu saja kita juga menyebut hal demikian “eman-eman”. Karena modal pengetahuan kita “seandainya dimakan pasti enak dan mengenyangkan”. Seandainya peluang tadi gol maka tim ku akan menang atau paling tidak draw.

Iman adalah mempercayai sesuatu. Iman kepada Allah mempercayai adanya Allah. Tetapi banyak pula orang  yang  secara  lahiriah  menunjukkan “gejala” beriman,  namun  dalam  penampilan  memperlihatkan  gelagat  dan sikap sebagai orang yang serba khawatir dan takut. Apalagi kalau orang tersebut posisinya menjadi pejabat pemerintahan. Sungguh sangat eman eman (amat disayangkan) hanya gejala lahir saja beriman. Sudah pasti bisa di bayangkan kerusakannya, atas ketidak mampuan mengamankan. Maka iman tidak cukup hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu belaka, tetapi ada pengharusan perwujudan dalam tindakan-tindakan yang baik dan benar. 

Modal kita dari Si mbah, beliau pernah menulis . “Amirul Mu’minin”, adalah pemimpin yang proses menuju “aman”, dengan landasan “iman”, membawa senjata “amanah”, dengan ujung doa “amin”. Amirul Mu’minin membangun iman amin amanah aman beras rakyatnya, aman sekolah anak-anaknya, aman pasarnya, aman kesehatannya, aman keadilannya, aman hartanya, aman kerjaannya, aman seluruhnya.

Mawas diri terhadap diri kita lebih utama, jangan jangan kita mengakui iman tetapi masih menyakiti, eman-eman. Jangan jangan kita ini mengaku iman tetapi masih ingkari janji, eman-eman. Jangan-jangan kita ini mengaku iman tapi kejam, eman eman. Jangan-jangan kita mengaku iman tetapi bicaranya menyakitkan, eman eman. Bahkan kita bisa  termasuk golongan orang yang tidak beriman bila menyakiti sesama, Nabi bersabda: “Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak beriman!” Lalu orang bertanya, “Siapa, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kelakuan buruknya”. Lalu orang bertanya lagi, “Tingkah laku buruknya apa?” Beliau jawab, “Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan”.

Kita layak eman eman terhadap peluang mestinya gol tetapi tidak gol karena kita tau modal pengetahuannya. Kita layak eman eman terhadap makanan yang di buang sia sia karena kita tau modal pengetahuan baiknya bagaimana. Kita pula layak mawas diri eman eman keimanan kita atas modal tentang pengetahuan Iman aman aminnya. Karena tidak mungkin kita eman-eman imannya pejabat, mengharapkan sesuai modal pengetahuan tentang iman menurut kita. Biarkan mereka beriman menurut yang mereka ketahui, biarkan saja ketidak amanan ini diberikan dari pejabat pejabat itu. Mari kita sibuk eman-eman keimanan kita.

Orang jawa kita mempunyai ungkapan Iman Amin Aman Uman.  Kalau kita beres terhadap iman kita, amanah kita, amin kita. Tentu kita Uman (kebagian) dan kebagian itu dari Allah SWT. Tentunya perasaan aman di dalan diri, nyaman di dalam diri. Dan Uman itu adalah Rahman RahimNya Allah.

Wallahu ‘alam bi showab…