Dua Peronda Allah

24 Rajab 1439 Hijriyah atau 10 April 2018 kemarin hatiku terguncang karena Allah nimbali dua kekasih-Nya untuk mutasi menuju penugasan baru. Mas Dan (Danarto) dan Ra Lilur (Kholilur-Rahman), Penjenengan berdua berpindah persembunyian, ataukah diperintahkan untuk menyelam lebih dalam ke lubuk gelap kebutaan jiwa manusia hari ini, yakni di per(tidak-ber)adaban yang sedang memuncaki ajhalul-jahiliyah 2018 hingga sepuluh tahun ke depan?

Apakah Panjenengan berdua dipindah-tugaskan ke wilayah perondaan yang lain? Di-sirri-kan di Gua yang lain, ataukah di-serbuk-kan, di-glepung-kan, untuk ditabur-taburkan ke seantero Bumi Nusantara, demi mempercepat proses pembusukannya? Karena tahun depan 2019 mereka sedang merencanakan untuk mempergelap kegelapannya?

Kutuliskan kilasan-kilasan kecil yang tidak salah kalau orang sekarang menyebutnya khayal, fiksi, imajinasi, atau karangan. Beberapa Malaikat, gunung dan lautan yang menawarkan “balasan kepada para penganiaya” kepada Nabi Ibrahim yang dibakar api, Nabi Muhammad yang dilukai di Uhud dan dilempari batu di Thaif, pastilah itu khayal bagi spektrum “illa qalila”.

Tuhan berkelebat-kelebat. Allah membayang-bayang. Kenapa bukan Allah berkelebat-kelebat dan Tuhan membayang-bayang? Kenapa sebaliknya? Maha Pencipta Maha Pengurus Maha Berkuasa Maha Misteri yang ummat manusia abstraksikan sampai 340 juta tuhan paraban karangan mereka sendiri saja tak benar-benar mereka kenali. Apalagi Allah, yang nama itu Ia sendiri yang memperkenalkan Maha Diri-Nya.

Mas Dan, Ra Lilur, apakah Sang Allah itu memperpanjang waktu untuk mempermainkan manusia, ataukah mengulur kesempatan agar mereka mulai Sinau Bareng, ataukah Maha Paduka Allah subhanaHu wa Ta’ala sedang murka? Kenapa bangsa kita belum hancur sebagaimana logisnya? Kenapa Negara “la’ibun wa lahwun” dan Pemerintah “thagha” dan “aba wastakbara” ini dibiarkan tetap beredar dan berkibar-kibar?

Apakah karena cinta-Nya kepada Panjenengan berdua dan 16 dzu karamatin lainnya, terutama beliau Al-Qutb yang diizinkan beredar-edar di penglihatan manusia–mengalahkan tumpukan kekufuran dan himpunan kemunafikan para pemimpin, sehingga Allah menunda adzab-Nya?

Para peronda itu tidak ditugasi melakukan perlawanan apa-apa. Cukup “kekasih-Ku ada di situ”, maka semua di sekitarnya “kuhindarkan dari adzab-Ku”. Muhammad menghibur Abu Bakar as-Shidiq “jangan takut dan jangan sedih, Allah bersama kita”: kau pikir Abu Bakar takut mati dan ngeri pada pedang Abu Jahal? Tidak. Pedang-pedang itu tak kan sampai menyentuh. Sebab kalau kekasih Allah dilukai, maka semua “haulahu” akan luluh lantak oleh murka Sang Kekasih.

Demikian juga banjir bah dianugerahkan kepada Nabi Nuh. Allah “tidak pathèken” seluruh penghuni bumi mengkufuri-Nya. Tapi jangan lukai kekasih-Nya. Itulah yang sedang berlangsung di Bumi Nusantara. Allah sedang menghimpun kekasih-kekasih-Nya.

Maka wahai Syaikhanani Mas Dan dan Ra Lilur, bocorkanlah secipratan rahasia dari sobekan kertas Qadla Qadar di saku dalam celana Panjenengan berdua: apakah bangsa kita beberapa tahun belakangan ini sedang diuji, diperingatkan, di-cuek-in, di-bombong, ataukah di-adzab, oleh Maha Direktur yang sudah sangat dilècèhkan oleh para pegawai, karyawan dan buruh-buruh-Nya ini? Apakah Panjenengan berdua diperintah untuk meninggalkan gerbang itu dan membiarkannya jebol sehingga adzab-Nya akan mulai melindas dan kasat mata?

Ra Lilur bertamu ke rumah pejabat dan melemparkan borgol ke depan pintu rumah itu, sebelum KPK menangkap penghuninya. Ra Lilur bertapa di dalam lautan dan masuk ke dalam jala nelayan. Ra Lilur membakar Pesantren untuk menyampaikan informasi tentang kesejahteraan yang akan dilimpahkan. Ra Lilur pakai kaos oblong bertelanjang kepala, tidak punya surban, peci, jubah atau baju “muslim”.

Mas Dan menyeret tangan saya ke tengah hutan yang tanahnya adalah bara api. Saya tidak berani menapak. “Mas, saya beraninya cuma memadamkan api…”, saya sungguh ketakutan. Mas Dan sampai 75 tahun usianya dibungkus kemiskinan a-la mata dunia, tinggal di kamar kos, melukis tak punya kwas dan cat, menulis dengan mesin ketik jari jemarinya sendiri. Mas Dan didampingi oleh seorang antagonis yang mengantarkan kepadanya penderitaan keduniaan yang tak tertandingi kedalaman dan sakitnya.

Telapak tangan Lurah Peronda itu menempel tiang dan memutar bangunan raksasa Hagya Sofia sehingga bergaris lurus ke Ka’bah. Berkali-kali peronda ini itu menggenggam pasir dan akan melemparkannya ke gedung-gedung tinggi dan Istana supaya terbakar dan roboh. Tapi urung setelah ada suara yang mengucapkan persis sebagaimana kalimat Nabi Ibrahim dan Habibullah Muhammad.

Kalau kau sentuh pohon itu sehingga rontok dan mati seluruh tanaman perkebunan–adalah perintah Allah, maka lakukanlah. Tetapi kalau itu hasil kelemahan hati dan mendalamnya cintamu kepada rakyat, “fa la’allaka bakhi’un nafsaka ‘ala atsarihim” (apakah engkau akan mengamuk atau bunuh diri karena mereka berkhianat kepada Tuhan dan rakyat)–maka tahanlah nafsumu sampai Allah menurunkan perintah-Nya.

Mas Dan menerbitkan buku 5.000 halaman dan membiarkannya kosong, hanya kertas putih, judulnya “Nyepi”. Allah yang akan menorehkan huruf-huruf qadla dan qadar-Nya di buku zaman itu. Mas Dan saya minta bikin cover buku “Metiyem”, yakni tentang dzu karamatin yang lain. Dia mau tapi tak pernah mengerjakannya, sehingga saya tahu “kekasih Allah tidak boleh membuka tabir cinta sesama kekasih Allah”.

Mas Dan memaparkan “Orang Jawa Naik Haji”. Bukan “Orang Islam Naik Haji”, sebab justru sesudah naik Haji menjadi sempurna Islamnya. Mas Dan mengajari logika “beras menjadi nasi”, bukan “nasi gagal me-nasi, karena tidak berangkat dari beras”. Kalau ketemu Mas Dan 100 persen selalu tersenyum bahkan (men)-tertawa-(kan) saya. Senyuman itu sangat menjunjung tinggi hidup saya. Jelas masalahnya: Mas Dan tinggi besar, sehingga kuat menjunjung saya yang pendek kecil. Tak mungkin sebaliknya.

Ra Lilur didatangi calon pejabat dan dikasih cash sekian ratus juta, ia terima, kemudian langsung Ra Lilur kasihkan ke Sopir calon pejabat itu. Ra Lilur tidak sekolah dan ahli bahasa. Ra Lilur tidak mondok dan pakar tadabbur Qur`an, bisa menjawab segala hal tentang Islam, bahkan membocorkan rahasia tentang amanah dan hak milik Islam atas bumi. 

Andaikan Indonesia belajar tentang pembagian tugas antara HOS Tjokroaminoto dan Syaikhona Kholil bin Abdul Lathif, akan sedikit tahu di mana koordinat Ra Lilur dalam peta akselerasi zaman. Tetapi puncak prestasi penglihatan mata Indonesia hanya sampai di lembaran uang, angka bank, hamparan kuliner, gedung tinggi dan jalan tol.

Andaikan diurut alur zaman ini dari Penèlèh dan Bangkalan, terutama tentang pewarisan Pisang, Kitab dan Cincin–lantas menemukan bahwa buku-buku terpental masuk ke penggorengan pisang–mungkin akan sedikit lebih banyak prajurit penyusun lingkaran Cincin Nusantara.

Indonesia hari ini merasa hidup hanya dengan dirinya sendiri, berbuat dan mencapai dengan dirinya sendiri. Indonesia tidak kenal pelaku-pelaku Indonesia yang lain. Indonesia tidak belajar mengenali ada yang lebih berkuasa dibanding mereka, yang lebih berhak mengolah ruang dan waktu. Indonesia tidak belajar berkenalan dengan Tuhan, sejumlah Malaikat, para kekasih Allah, minimal di 18 titik Nusantara, utamanya Koordinator beliau-beliau.

Yang sedang duduk di kursi kepemimpinan Indonesia merasa berkuasa atas besok dan lusa. Bahkan yakin bisa memprogram masa depan. Seolah-olah ia bisa bangun sendiri dari tidurnya. Seakan-akan ia menciptakan dirinya dan menentukan kapan matinya sesuai dengan visi-misinya.

Yogya, 13 April 2018

24 Rajab 1439 Hijriyah atau 10 April 2018 kemarin hatiku terguncang karena Allah nimbali dua kekasih-Nya untuk mutasi menuju penugasan baru. Mas Dan (Danarto) dan Ra Lilur (Kholilur-Rahman).