Desa Tetap Mowo Coro Biarpun Negara Gagal Mowo Toto

Reportase Sinau Bareng Kolaborasi Konservasi Ngramut Merapi, 4 Oktober 2018

Cultuurstelseel benar-benar tertanam menjadi kultur pada masyarakat kita. Sistem tanam paksa, dengan berbagai varian dan jenisnya ini telah menghasilkan berbagai tradisi, kebiasaan, serta pola-pola pemahaman akan tanah. Program Van Den Bosch ini terus dikritik oleh golongan liberal hingga makin melemah dan dihapus secara total pada 1870. Era pengelolaan lahan swasta pun mulai menyeruak.

Van Den Bosch aslinya orang desa juga. Dia lahir di Herwijnen, provinsi Gelderland, saya belum pernah ke sana. Tapi kalau lihat data statistiknya, sepertiya daerah kecil. Mudah melihat bahwa di dalam kebijakan De Bosch ada romantisme desa, komunalitas dan kesetiaannya pada sang raja junjungannya. Hanya memang agak naif, dunia sedang berubah (kapan tidak?). Kerapihan birokrasi dan infrastrukturisme Daendels yang aktivis revolusi Prancis itu, dilanjutkan sistem individualis pengawasan hukum Raffless yang ningrat Britania sudah tertanam di Jawa. Sementara style ekopol global makin Napoleon yang kelahiran Napoli tapi jadi sosok di Prancis, jelas orang kelas menengah kota dia ini.

Van Den Bosch cukup beruntung tidak mesti melihat kegagalan-kegagalan proyeknya ketika kelaparan massal (Cirebon yang paling mengemuka) dan kesejahteraan menurun drastis di wilayah Hindia-Belanda dan menjadi andalan golongan liberal untuk nawur program ini. Van Den Bosch sudah meninggal waktu itu, dia sudah pulang kampung di desanya, pensiun (dipecat) sambil terus dihujat oleh anggota parlemen beraliran liberal. Namanya tidak akan terkenang baik, apalagi pada dunia yang dipegang kendali oleh orang-orang kota. 

Van Den Bosch memang terkenal kejam, tapi sejarawan liberal juga tidak bisa dibilang fair memandangnya. Kepemilikan lahan pribadi masih diangankan sejak runtuhnya tanam paksa. 1870 sistem penyewaan lahan atas nama pribadi mulai marak. Rata-rata 75 tahun usia sewanya. Kapankah 75 tahun sejak 1870 jatuh tempo? Saya agak lupa pada tabel statistik yang mana saya baca status-status tanah serta usia sewanya. Kalau pembaca yang budiman mau repot-repot bisa cari-cari di catatan-catatan Ong Hok Ham, Furnivall, Boeke, Hiroyashi Kano dll. Juga statistik dari Van Laanen sampai mungkin ansosnya Geertz.

Udara dingin di wilayah Dukun ini, saya coba hangatkan dengan secangkir kopi. Bacaan soal status tanah agak muncul dalam ingatan saya ketika Mbah Nun di hadapan warga menantangkan pertanyaan, “Siapa pemilik saham NKRI? Siapa pemilik tanah di seluruh wilayah NKRI?” Menurut saya itu pertanyaan yang sangat penting. Dan juga sangat penting ketika Mbah Nun menegaskan bahwa tanah desa harus tetap dan selalu menjadi milik manusia desanya. Deso mowo coro, biarpun negoro gagal toto sekarang ini (dari dulu sebenarnya), tapi deso harus tetap mowo coro.

Ini adalah gelar Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Bila dipukul rata dengan semua pementasan KiaiKanjeng, Sinau Bareng di Desa Dukun Magelang pada 4 Oktober 2018 M ini adalah panggung ke-4008. Kalau KiaiKanjeng adalah karier musik, saya belum dapat data performer yang seproduktif ini. Bandingannya mungkin kudu sekelas Led Zeppelin, Pink Floyd, GnR, Megadeth atau Metallica.

Sejak manusia Nusantara mulai ter-Eropa-kan sejak pada akhir 1800 hingga awal 1900-an, kemudian menyusul ter-Amerika-kan yang nampak pada kalimat-kalimat Soempah Pemoeda 1928 itu. Kemudian dengan sangat kurang waspada dan presisi menyatakan proklamasi pada 1945, kita sudah total kehilangan akar berpijak. 1965, bertemunya dua kubu yang sama-sama hilang pijakan sejarah adalah panen kebusukan yang pertama dan semoga tak perlu ada lagi.

Adapaun pengantagonisan Eropa dan Amerika, justru adalah hasil dari tiga  setengah tahun bersama Nippon (dua tahun awalnya adalah era bulan madu antara agmawan dan kaum pergerakan dengan pemerintah Nippon). Tapi mengantagoniskan di bibir sajalah, secara gaya pikir kaum elite agamawan hingga elite pergerakan kita sudah ke arah sana berpikirnya.

Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Mangir sempat dibawakan ruhnya oleh Mbah Nun. Ki Ageng Mangir punya nyawa sendiri di sekitar lingkar warga Merapi, termasuk di Dukun ini. Mbah Nun menjelaskan bahwa melingkarkan naga di tubuh gunung Merapi maksudnya adalah sebuah syarat dari Sunan Kalijaga untuk diterimanya Ki Ageng Mangir sebagai murid. Ia juga merupakan sanepa bahwa Ki Ageng bertugas mendaya-Islamkan warga lereng Merapi dan ini bisa dibilang berhasil. Maka diterimalah tombak Kiai Baru Klinting.

Gelar Ki Ageng dan tanah perdikan juga bisa dilihat dari segi yang berbeda kalau secara ekonomi. VOC tidak selalu berhasil memonopoli perjanjian dagang secara utuh. Selalu ada tanah-tanah kecil yang punya strategi perhitungan sendiri menghadapi perjanjian-perjanjian dagang itu. Beberapa mungkin memang punya perjanjian dagang dengan kongsi dagang lain. Beberapa lainnya bertahan dengan pola isolasionisnya.

Islam yang dibawa Sunan Kalijaga (terutama pada era ketika sudah sangat sepuh) tampaknya adalah sebuah jalan tengah kultural, yakni tetap berdagang dengan orang asing namun tidak kehilangan martabat. Isolasionis murni sudah hampir tidak mungkin dipertahankan sejak era itu, kecuali menghadapi kemungkinan suku-suku itu musnah diberangus tapi martabat kan perlu juga dipertahankan. Karena martabat, adalah hal yang berangsur-agsur hilang pada kerajaan-kerajaan serta kesultanan-kesultanan besar yang mulai bergantung secara ekonomi pada kongsi dagang. Perkubuan ekonomi sudah mulai muncul, pilih poros Turki Utsmani atau poros dagang Eropa. Semua ada konsekuensinya masing-masing. Ini mesti diingat, jauh sebelum era kolonial resmi kerajaan, ini pada masa kongsi dagang berarti pra Daendels.