Desa Tetap Mowo Coro Biarpun Negara Gagal Mowo Toto

Reportase Sinau Bareng Kolaborasi Konservasi Ngramut Merapi, 4 Oktober 2018

Ah yang penting beberapa mahasiswi yang seliweran ini manis-manis, beberapa sudah ada gandengan. Ada juga yang terdengar sedang janjian, seorang pemuda yang jelas mempersiapkan busana dan potongan rambutnya agar tampak oke nanya ke seorang gadis di belakang, “Besok di kontrakan kan? Aku main ya?” Nada masih malu-malu lirih khas manisnya pedekate ini mah, saya hampir noleh dan hampir berseru, “Ngajak main apaan Mas di kontrakan perawan? Main karet?” Konon ada data statistik yang menunjukkan bahwa jam main paling seru antara mahasiswa dan mahasiswi di Yogya adalah sekitar pukul 10.00 pagi hingga 14.00 terutama saat hari jum’at. Besok hari jum’at, tapi itu di Yogya, entah di sini. Itu pun konon.

Beberapa hansip tampak hilir-mudik dengan seragam lengkapnya. Sistem keamanan tinggalan Nippon yang dengan lekas diartikulasikan menjadi budaya sendiri, orang desa memang cepat sekali menangkap sesuatu. Gelar Sinau Bareng kali ini memang diinisiasi bersama oleh beberapa badan yang bertanggung jawab atas kemanan wilayah di sekitar Merapi dan juga warga desa Dukun itu sendiri. Pas juga rasanya Mbah Nun mempersilahkan il comandante Ndan BS (Brotoseno) untuk ikut beraksi di panggung. Walau status beliau adalah komandan SAR DIY, dan wilayah ini adalah di luar wilayah penugasan beliau, tapi kecocokan atmosfer terjalin. Tausiyah Ndan BS tentu seperti juga biasanya, berhikmah dan liar nakal brutal.

Mbah Nun sempat memberi poin, “Banyak orang mempelajari gempa, banjir, tsunami, gunung meletus dan selainnya, tapi mereka gagal mempelajari bencana.” Bicara bencana tentu kita sudah paham Jakarta adalah wilayah yang terdampak bencana paling parah belakangan ini, dan nampaknya bencana di Jakarta akan menjadi-jadi tanpa ada terlihat usaha untuk menyelamatkan diri dari para penghuninya, tak ada usaha evakuasi maupun usaha menanggulangi. Bencana-bencana dari saling serang hoaks, saling sikut, jegal dan saling menjatuhkan. Bencana politik, bencana kelaliman, tapi kebanyakan orang merasa baik-baik saja dengan dalih “namanya juga politik”. Ke depan sepertinya kita perlu menghadapi bencana pilpres, tapi kita sudah siap.

“Niatkan saja anda datang ke TPS pada hari H dan tidak usah ada orang yang tahu pilihan anda. Tidak usah gembar-gembor, tidak perlu ngomongin pilihanmu di media sosial sebelum-sebelumnya. Tegas pada diri sendiri bahwa di dalam TPS hanya anda, tuhan dan malaikat yang tahu.” Toh di dalam TPS kan privat, mau nyoblos, pipis atau sekedar ngabisin satu (bungkus) rokok di dalam TPS ndak ada larangannya to? Kenapa banyak orang sekarang dramatis wal lebay memamerkan pilihan pribadinya? Itupun perlu ditambah perparah dengan memamerkan ketidaksukaannya pada yang tidak sepilihan? Bencana jadi lebay juga, sepertinya perlu penanganan khusus memang.

Mbah Nun menegaskan bahwa manusia desa Nusantara adalah manusia yang paling kuat. Segala hal yang berasal dari alam dimesrai. Secara bawah sadar mereka sudah paham bahwa, “Hewan, tumbuhan, wit-witan dan sebagainya itu adalah saudara-saudaramu.” Hubungan mereka selalu harmonis. Pada daerah di sekitaran Merapi, ketika Merapi sedang beraksi, orang desa membahasakannya dengan “Sedang ada gawe”. Semacam Merapi memang punya haknya dalam siklus tertentu untuk melakukan hal yang semacam itu. Merapi kekasih, adalah anugerah dari Maha Kekasih.

Mbah Nun mengajak kita untuk tidak terlalu terpengaruh segala bebencanaan di Jakarta, ibu kota kelaliman itu. Siapapun presidennya kan anda tetap mandi, tetap ngising, tetap adus. Ada ndak ada negara semua yang di desa tetap berjalan baik-baik saja. Hanya mereka yang di sana itu yang merasa apa yang mereka perebutkan akan ada pengaruhnya bagi hidup warga di pelosok-pelosok.

Maka bencana adalah kalau kita ikut hanyut dalam arus besar maha tidak pentingnya perebutan dan persekongkolan di Jakarta itu. Barusan belakangan ini satu kubu politik kena getahnya karena konon termakan berita bohong dari seorang perempuan dewasa. Sekitar setahun dua tahun lalu kubu sebelahnya termakan tulisan copas dari seorang gadis muda. Kekonyolan ada di setiap yang telibat dalam politik Jakarta, dan apakah kita berharap dari hal semacam ini ada pemimpin yang lahir? Kalau sampai berharap, itu mungkin sudah kedunguan yang luar biasa.

Manusia desa sudah berperadaban tanpa pusing sama negara jauh-jah hari lalu. Itu juga tanpa ada keinginan untuk dramatis memberontak, semuanya natural saja, alamiah dan wajar. Ada Hindia-Belanda monggo, ada Nippon silakan. Ganti dijajah NKRI ya sudah biasa. Kalau nanti-nanti kudu ditamatkan ya sudah tamat saja dengan biasa-biasa. NKRI juga nothing special amat kok, Nusantara yang mengagumkan.

Saya sedang baca-baca ulang bacaan saya sejak SMP, Sherlock Holmes. Pada kasus pertama dalam kanon novelnya; Study of Scarlet, Sherlock punya rumusan The Attic Theory. Ini teori fiksi memang, tapi Sherlock kan bagi sebagian orang adalah tokoh fiksi yang lebih dicintai dari tokoh nyata. The Attic Theory itu mengandaikan otak manusia seperti loteng dengan ruangan besar. Seiring waktu manusia memenuhi loteng itu dengan data-data dan fakta yang tidak penting. The Attic Theory menyarankan agar otak manusia hanya diisi oleh data yang urgen dan relevan dengan dirinya. Teori ini biasa saja, hanya dia jadi terkenal soalnya gara-gara ini dalam novel jadi ada adegan Sherlock yag jenius rupanya tidak tahu bahwa bumi itu bulat dan menurutnya tidak penting baginya.

Orang desa seperti itu juga kayaknya, otak mereka efektif. Mereka tidak pusing dengan seliweran di media sosial. Orang kota saja yang agak sibuk dengan hal-hal yang menurut mereka penting tapi ndak berguna. Dari Sinau Bareng ini, ada pesan lantang bahwa biarpun negoro telah sah dan terbukti gagal mowo toto tapi deso mesti tetap dan selalu mowo coro. Dalam hal begini memang kudu radikalis sadumuk bathuk sanyari bumi.

Populer