Bergembira dalam Keseimbangan Atmosfer Basyiiran dan Nadziiran

Reportase Majelis Maiyah Padhangmbulan, 25 September 2018

Anak-anak TPQ sedang menampilkan drama ketika saya memasuki halaman pengajian Padhangmbulan. Drama khas anak-anak merupakan salah satu dari penampilan yang mereka suguhkan sebelum pengajian Padhangmbulan.

Mulai dari puji-pujian khas langgar tempo dulu, shalawat Nabi hingga “sekuel” drama–penampilan dan tradisi kreativitas mereka seperti tidak ada habisnya. Satu hal yang selalu terpancar dari raut wajah mereka: gembira. Ya, mereka melakoni setiap penampilan di atas panggung dengan hati gembira.

Soal ada dialog yang selip, lupa, atau mendadak macet, tidak menggeser rasa bahagia. Anak-anak tetap merdeka menjalani lakon hidup mereka. Kita belajar dari kegembiraan anak-anak yang polos, murni dan otentik.

Kegembiraan itu pula yang memacar dari wajah jamaah Padhangmbulan sepanjang malam hingga menjelang shubuh. Kegembiraan yang mengalir dari ubun-ubun, menggetarkan syaraf berpikir, menyentuh batin.

Pori-pori kesadaran terbuka. Angin, nada, suara, daun, embun, cahaya purnama–semua elemen alam semesta menyuguhkan butiran-butiran prasmanan ilmu. Kita memetiknya dengan hati gembira.

Pertanyaannya, bagaimana kegembiraan ini diselenggarakan? Ada yang mengatakan, gembira itu sederhana. Sementara sebagian yang lain kalang kabut, muter-muter, berburu kebahagiaan. Ada pula yang menyodorkan konsep bahwa bahagia adalah manakala kita berhasil meraih keinginan.

Ringkasnya, orang berburu bahagia, meminjam istilah Mbah Nun, ngebon dari luar. Bahkan untuk sekadar menerbitkan motivasi, mereka ngebon motivator. Supaya sehat ngebon suplemen. Manusia sering berbuat naif terhadap dirinya sendiri.

Padhangmbulan mengurai bundelan-bundelan itu, melacak akarnya, menemukan persimpangan jalannya, membongkar sumbatannya, melepas topeng brandingnya–yang semua itu kerap dijadikan takhayul kebahagiaan oleh manusia.

Malam itu saya harus segera pindah posisi duduk. Wirid Padhangmbulan tengah dilantunkan oleh Lek Ham dan Cak Lutfi bersama jamaah. Orkestrasi lantunan doa dan shalawat mengalir bersama. Wajah-wajah menunduk. Mata memejam. Menghadirkan Rasulullah Muhammad di lubuk kesadaran kita masing-masing.

Jamaah makin padat merapat. Lek Ham mengawali sesi pembuka. Omah Padhangmbulan malam itu meluncurkan undangan untuk pertemuan bersama para pedagang yang biasa “mangkal” atau berkeliling di antara jamaah. Menjalin persaudaraan, menambah keakraban, mempererat jalinan silaturahmi merupakan agenda dari pertemuan yang dijadwalkan pada 20 Oktober 2018.

Lainnya