Mukadimah Maiyah Dusun Ambengan

Tandur Walaa Tandzur

Sabtu, 11 Februari 2017 Jam 19.30 WIB

TANDUR adalah kata untuk menyebut para petani ketika mulai menanam bibit padinya di sawah. Tandur, seringkali dikerjakan khusus para petani perempuan, berjajar membentuk barisan, membungkuk dan berjalan mundur sambil menancapkan batang padi di lumpur sawah. Sehingga mutlak butuh kehati-hatian dan presisi, baik untuk lurusnya tanaman dan terjaganya tubuh setiap melangkah.

Orang-orang di perdesaan menemukan musim tandur berarti musim kedamaian, musim harapan dan tanam keyakinan bahwa sebentar lagi akan mengalami masa-masa sulit, paceklik atau musim merawat dan menyiangi tanaman, dan kemudian merasakan kebahagiaan yaitu ketika sudah masuk musim panen. Musim tandur selalu diiringi suasana sejuk dan curah hujan yang dianggap cukup.

Maiyah Dusun Ambengan, 11 Februari 2017
Maiyah Dusun Ambengan, 11 Februari 2017

Orang desa, selalu berpegang teguh pada prinsip, apa yang ditanam itulah yang akan diunduh. Menanam dalam peribahasa arab dikenal dengan sebutan, zaro. Man zaro’a hashoda, barang siapa menanam pasti mengetam.

Tandur, bukan sebatas menanam. Tandur sebagai sikap dan kesiapan memanen adalah proses yang mesti punya keseriusan sejak dari kemampuan membaca musim, mengolah tanah, menyeimbangkan air dan memilih bibit, merawat dengan kesungguhan dan keuletan hidup yang hanya dimiliki para petani, serta perencanaan yang matang untuk mendapat panen maksimal.

Karena unsur tandur yang begitu kompleks, para petani wajib memiliki jiwa membersamai. Tandur bukan mengeksploitasi tanah. Melainkan sebagai upaya memandang dengan penglihatan yang mendalam.

Kata tandur dalam vokabuler bahasa arab juga dikenal dengan arti memandang sesuatu dengan pemikiran mendalam, bukan parsial apalagi sebatas wadak. Kalimat undzur ma qola wala tandzur man qola, menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat desa. Lihatlah perkataannya, jangan lihat yang mengatakan, dipakai sebagai tema Maiyah Dusun Ambengan untuk mempelajari hakekat tandur orang-orang desa. Menanam segala bentuk kebajikan, kebaikan dan kemanfaatan dan bahkan tak pernah melihat yang ditanam sebagai puncak kebaikan setiap pribadi, mesti melekat pada jiwa serta mejadi kesadaran orang-orang Maiyah.

Pada masyarakat desa, dikenal esensi “hanya orang-orang tandur yang mampu mendapatkan kemuliaan hidup.” Sebab, keberuntungan mesti dilalui dengan proses menanam, hati-hati, berjalan pelan agar mendapat kongklusi yang benar.

Ada istilah Al Quran tentang kata keberuntungan atau “al falah”, dimana berasal dari kata “membelah.” Membelah tanah adalah proses penting yang harus dilakukan petani sebelum tandur. Maka tak mengherankan bahasa arab petani adalah “falahun”.

Mengapa banyak ayat Al Quran mencontohkan keberuntungan dengan istilah petani atau dunia pertanian? Beruntungnya petani ketika menanam satu bulir padi, kemudian mampu menghasilkan beratus-ratus biji gabah? Manusia jika meminjam kearifan masyarakat Desa adalah orang yang hanya menanam. Wong kang Nandur.

Kita juga sejatinya hanya sebatas menanam. Baik tandur kebaikan, kebajikan maupun ada juga yang terjebak dalam laku menanam berbagai benih keburukan. Dalam khasanah ilmu maiyah, Guru Emha Ainun Nadjib menandaskan dengan kalimat kunci “kewajiban manusia adalah menanam, sedangkan panennya pasrahkan sepenuhnya kepada hak Allah SWT”.

Sedikit sekali manusia yang sadar diri sedang melakukan tandur, akan tetapi rumus kehidupan dalam ajaran Islam sudah jelas. Manusia menanam jauh lebih mulia daripada orang yang berpangku tangan dan hanya menerima panen dari tanaman orang lain. Karena pentingnya menanam, sampai-sampai Rasulullah menyuruh umatnya tetap menanam, meskipun kiamat sudah dekat. “Jika datang hari kiamat dan di tangan salah seorang kalian ada fasilah (bibit kurma) maka tanamlah.”

Tidak berlebihan ketika majelis rutin digelar di tengah Desa ini berusaha mendedah makna tandur sebagai kebersamaan untuk mencari berbagai buah-buah kebaikan, kebajikan dan terus memproduksi amal ibadah yang bernilai bagi kemanusiaan. Mari melingkar dan berkumpul, ngaji bersama Majelis Maiyah Dusun Ambengan di Rumah Hati Lampung, Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu malam, 11 Februari 2017 jam 19.30 WIB.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image