Tahlil Keliling

Hampir setiap akhir Ramadhan, suasana begitu riuh oleh gambar-gambar bedug dan ketupat di berbagai tempat. Tempat belanjaan sampai tas kresek hasil belanjaan. Dua makhluk ini menjadi simbol bahwa hari yang dielu-elukan sebagai hari kemenangan sudah mulai nampak. Perkara nanti siapa yang benar-benar menang, itu urusan belakangan.

Siapa yang benar-benar diuntungkan itu tak wajib untuk kita perhitungkan. Yang pasti bersama dengan hari kemenangan bisa dipastikan pula muncul hari kesenangan. Kesenanganmu harus kau turuti sedemikian rupa. Karena begitu momentum akhir Ramadhan lewat, kau akan berpikir sepuluh juta kali untuk menuruti kesenanganmu. Atas nama fitri, fitrah, suci, baru, baru lahir, maka kesenangan itu layak untuk mendapatkan apresiasi dengan berbagai bentuk eskpresi.

Seperti tumbu ketemu tutup. Yang satu menyambut dengan diskon, yang satu mendatangi dengan kantong berisi tunjangan hari kesenangan. Sebelum sanak kadang kembali dipersatukan, maka wajib untuk mendandani diri, harga diri, dan meningkatkan derajat diri. Caranya, belanjalah dan bawalah oleh-oleh sebanyak mungkin kau sanggup membawanya. Diskon membuka kemungkinan itu seluas mungkin. Semakin besar diskon, semakin banyak pula kemungkinan kau gembirakan hati saudara-saudaramu. Tentu saja pengorbanan antri dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan insyaallah akan terbayar ketika bretemu dengan sanak kadang beserta senyum ramahnya. Ada yang benar-benar menanti hadirmu. Tapi tak sedikit juga yang hanya menanti seberapa banyak harta yang mendampingimu. Ada? Semoga saja tidak.

Entah kenapa gambar bedug yang dipilih. Mungkin karena bedug adalah salah satu alat komunikasi paling efektif pada zaman dulu. Sebelum era telekomunikasi digital seperti sekarang ini. Konon, bedug dulu digunakan untuk mengundang orang-orang untuk berkumpul. Karena suaranya yang cukup keras maka radius yang dihasilkan juga lumayan jauh. Ditambah katanya dulu bumi tak seramai ini. Suara bedung akan terdengar nyaring sampai puluhan kilometer. Sama seperti alat musik dalam budaya gamelan yang suaranya bisa mencapai puluhan kilometer tanpa perlu bantuan tata suara kelistrikan.

Bedug masih bisa ditemui di masjid-masjid. Sebagian ada yang dipukul setiap hari menjelang adzan. Sebagian lagi hanya dipukul seminggu sekali setiap menjelang sholat Jumat. Dan sebagian lagi hanya menjadi properti pajangan di masjid dan tidak pernah dipukul sama sekali. Kalau melihat organologinya bedug, bisa menjadi salah satu alat musik perkusi. Keberadaannya yang dulu awalnya hanya sebagai alat komunikasi kemudian karena budaya manusia yang berkembang sesuai jamannya, bedug menjelma sebagai alat musik. Sepertinya sayang kalau bedug berfungsi sebagai alat komunikasi. Kalau bisa dimainkan, kenapa dianggurkan?

Menjelang akhir Ramadhan, bedug identik dengan Takbiran. Dia menjadi ikon kegiatan takbir keliling di Indonesia. Mungkin Indonesia satu-satunya negara di Bumi ini yang menggelar hajatan takbir keliling. Suaranya yang bergemuruh dengan pola pukulan yang diulang-ulang, bedug membuat pengucapan takbir terasa begitu penuh keindahan. Tidak kaku, cair dan enak untuk didengarkan. Tidak mengganggu karena takbiran dibuat tidak untuk menjadi gangguan nasional. Sampai-sampai pihak Kepolisian mengeluarkan beberapa personilnya untuk mengamankan jalannya takbir keliling ini. Khawatir kalau takbir keliling dimodifikasi oleh sebagian manusia-manusia yang tidak ingin melihat anak-anak di kampung bahagia dan begadang sampai malam menjelang untuk kemudian di pagi harinya beramai-ramai memenuhi lapangan melaksanakan Sholat sunnah Idul Fitri dan mencicipi makanan yang sebelumnya jarang atau sama sekali belum pernah mereka rasakan. Takbiran, takbir keliling ekspresi-ekspresi kecil di tengah kebingungan rakyat Indonesia menghadapi kenyataan hidup.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…. Laaillaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillah ilham……”

Anak-anak dan beberapa orang dewasa berada di belakang mobil terbuka. Mereka dengan sumringah memukul bedug dan menabuh perangkat pendukung lainnya. Semacam rebana atau bahkan ditambah dengan kentongan. Sebagian lagi membawa obor atau oncor sebagai sarana penerangnya. Mungkin sedang mengikuti perlombaan takbir keliling. Atau mungkin sekedar ingin bepergian keliling kampung di waktu malam.

Yang terlalu lama hidup di kota besar pasti menyimpan kerinduan yang mendalam terhadap peristiwa ini. Rutinitas yang menyita banyak waktu, akan tertebas begitu saja begitu mendengar suara anak-anak kecil mengumandangkan takbir di jalan-jalan atau speaker surau mushola masjid di dekat rumah di kampung halaman tercinta. Energi berkibar-kibar mengingat kebesaran Sang Maha Besar. Meski dirayakan setahun sekali, tapi setidaknya, kekerdilan diri semakin gamblang terpapar, semaki jelas terbaca mana kala mendengar suara Takbir bersahut-sahutan. Karena konon di belahan Bumi yang sana, gema takbir disuarakan dalam suasana perang.

Takbir, adalah ikrar bahwa kita selalu dan pasti hanyalah makhluk yang sangat sangat kecil. Sebesar apa pun diri kita, pasti masih akan lebih kecil karena ada Sang Maha Besar. Sehebat apapun kita, kehebatan itu tidak membuat kebesaran kita melebihi kebesaran Sang Maha Besar. Sekaya apapun kita kekayaan kita tidak akan mampu membeli kebesaran yang menandingi kebesaran Sang Maha Besar. Secerdas apapun, kecerdasan kita menjadi tidak akan sama sekali berguna ketika kecerdasan itu kita coba gunakan untuk menganulir ketentuan-ketentuan Sang Maha Besar. Begitu kalimat takbir terucap dari mulut-mulut kotor kita, begitu kalimat takbir keluar dari mulut-mulut bodoh kita, begitu takbir menggema dari bibir-bibir takabur kita, maka mengecil dan semakin mengecil kita di hadapanNya.

Sejatinya tidak hanya takbir keliling, melainkan bersama takbir ada tahlil yang mengawalnya. Selain menyeru tentang kebesaran Sang Maha, ada peneguhan kembali kepada siapa persembahan hidup mati ini bermuara. Dalam beberapa hari menjelang akhir Ramadhan lalu Cak Nun dan KiaiKanjeng senantiasa menemani manusia-manusia dari berbagai penjuru dan pelosok untuk memegang teguh ketauhidan di dalam diri masing-masing.

Bahwa hanya ada Allah dan Rasullullah yang memenuhi derap langkah perjuangan kita menjadi manusia. Bekal manusia adalah innalillahi wa inna illaihi roji’un. Tak ada apapun yang tidak kembali kepadaNya. Semua akan terbalas sesuai porsi dan tugas masing-masing manusia. Tak akan ada yang luput satu pun dari perhitungannya. Mungkin ada yang mendapat diskon. Mungkin pula ada yang menanggungnya dengan penderitaan yang tidak bisa diganti dengan sebanyak apapun kekayaan yang kita miliki. Bahwa kehidupan dunia merupakan entitas dengan perhelatan besar di akherat kelak.

Apa yang diucapkan pada saat takbir keliling, bukan sekedar luapan kesenangan sesudah terbebas dari ‘belenggu’ penahanan selama siang hari sebulan penuh. Belajar mengatakan ‘tidak’ kepada yang biasanya ‘iya’. Begitu Cak Nun membekali para jamaah. Supaya fase ‘menahan’ ini tidak segera bermetamorfosis menjadi ‘melampiaskan’ dengan tata kelola dan ukuran yang melebihi nalar. Tidak kalap dalam berbagai bidang dan segala hal.

Mungkin takbir keliling memungkasi penderitaan kita selama sebulan. Mungkin takbir keliling di jalan-jalan membuka kembali jalan kefitrian setiap diri kita. Dan mungkin takbir keliling meluaskan barokah sekaligus diskon besar-besar pengampunan dosa kita. Mungkin saja itu semua terjadi atas kehendakNya. Karena Dia tahu betapa sulitnya menjadi manusia yang hidup sebagai warga negara Indonesia.

Cak Nun dan KiaiKanjeng mungkin tidak ikut gebyar dan gemerlapnya takbir keliling yang melanda negeri. Tetapi beliau-beliau dengan penuh kelembutan dan balutan keindahan mendengangkan melodi-melodi ketauhidan, ngudang awake dhewe kabeh, nganggo tahlil. Tahlil keliling. Ben terus eling lan waspada. Sapa sira, sapa ingsun.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image