Daur-II • 013

Sombong, Kejam, dan Menyakiti

Tetapi menurut Brakodin, di samping kebanggaan bertemu dengan anak-anak muda Mujahidin, para pekerja keras dan para penekun ibadah kepada Allah di Negeri yang secara tradisi tidak mengenal Allah – Mbah Sot juga bercerita tentang kesedihan yang membuatnya berduka.

“Di antara para Mujahidin yang sangat mengharukan dan membesarkan dada itu”, demikian kata Mbah Sot, dikisahkan oleh Brakodin, “ada sekelompok anak-anak muda yang sangat merepotkan kehidupan di dunia dan menyusahkan orang Islam”

Junit, Jitul, Tuling, dan Seger penasaran apa maksudnya ini.

“Mereka ini menyebut Negara di mana mereka bekerja sebagai Negara Kafir, tetapi mereka makan nasi dan menerima gaji dari Bos-bos Kafir Perusahaan-perusahaan Kafir. Mereka mengabdi kepada majikan-majikan sambil mengafirkan mereka di belakang punggung”

“Sementara mereka selalu bersikap sangat sombong, bermulut kejam, dan tiap hari menyakiti hati sesama Muslim. Sejak dulu Kiai dan Ulama pengabdi Tuhan dan penyayang manusia berjuang menambah jumlah orang yang mengislamkan dirinya. Sementara jenis Kiai yang ini setiap hari ribut mengafirkan saudara-saudaranya sendiri sesama Muslim, serta sibuk mengurangi jumlah Kaum Muslimin, hanya karena berbeda pandangan dengan mereka. Mungkin metode Iqra` tingkat tertinggi dari para Masyayikhul-Ulama yang mereka pakai”.

Junit menyahut: “Mereka seperti tidak mendapat rahmat dari Allah. ’Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka’ [1] (Ali Imron: 159). Yang ini bilang asal orang bersyahadatain ia menjadi Islam, yang di sana sudah menjalankan Rukun Islam masih dikafir-kafirkan”.