Daur-II • 014

Tak Mungkin Nabi Cekikikan

Uraian Brakodin dan respon lainnya mendadak terhenti karena suara tertawa Tarmihim. Terpingkal-pingkal tapi ditahan. Kedua tangannya menutupi mulutnya. Tapi desakan tawanya sedemikian kuat sehingga semua tahu.

“Ada apa, Him?”, Brakodin bertanya. Agak kaget campur sedikit terganggu, bahkan ada unsur tersinggung.

“Maaf, maaf….”, Tarmihim menjawab sambil mencoba menghentikan tawanya, “saya ini sedang sangat bergembira, tapi campur geli, karena lucu, benar-benar lucu”

“Kok geli? Lucu? Apa yang bikin geli? Apa yang lucu?”

“Ya semua ini”, Tarmihim agak reda tertawanya, “tetapi yang utama tetap gembira dan bersyukur”

Jitul nyeletuk nakal: “Saya sedang banyak mempelajari perilaku Kanjeng Nabi Muhammad, dan yang saya banyak temukan adalah beliau sangat murah senyum, tapi hemat tertawa. Tidak ada kabar bahwa pernah tertawa keras, terbahak-bahak, atau terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh, apalagi cekikikan seperti Pakde Tarmihim”

“Benar sekali, Tul”, Seger menimpali, “akhir-akhir ini saya sering mendengar ceramah yang melarang kita melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, contohnya yang tertawa cekikikan seperti Pakde Tarmihim itu. Tidak mungkinlah seorang Nabi tertawa cekikikan, dan kita kan wajib ittiba’ Rasul”

Junit mengutip firman: “Itulah karunia Allah, menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh”. [1] (As-Syuro: 23). Junit memang sedang rajin Iqra`.

Tetapi mendadak Tarmihim tertawanya meledak.