Daur-II • 210

Pemuda Waliyullah Al-Kubro

Apa yang mengherankan dari Delta? Apa yang tak terbagi dua. Pohon mencabang dahan. Dahan mencabang ranting. Delapan penjuru angin. Ada tidak karena dan ada ya. Kutub utara tak bisa sendirian tanpa kutub selatan

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam”. [1] (Thaha: 53).

Di antara keluarga Kerajaan, para anggota dewan pertimbangan Kerajaan, para pengolah senjata, para pendekar, Punggawa, dan siapapun: ada yang menerima ajakan tokoh besar ini, dan ada yang menolak. Ada yang langsung memeluk kepercayaan yang menakjubkan yang pemuda itu tawarkan, ada yang berproses lama, ada yang seolah-olah mentak-acuhkannya, ada yang menghindarinya, ada yang menjauh karenanya, ada yang mencampakkannya, bahkan ada yang membenci dan memusuhinya.

Apa yang mengherankan dari cabangan bahkan pertentangan arah Delta Sungai Kehidupan. Ada yang turut naik Bahtera Nabi Nuh, ada yang mantap ditenggelamkan oleh banjir. Pemuda Waliyollah Al-Kubro sekadar menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan kabar dan anjuran, informasi dan rekomendasi, kepada kemungkinan masa depan setiap manusia yang ia jumpai di Kerajaan maupun di mana saja.

Tidak semata-mata karena kabar tuntunan Allah itu sendiri. Tetapi berkaitan dengan skenario Allah yang membersamainya: tiga takdir besar yang telah dimulai dengan yang petama, yakni banjir lumpur yang cepat atau lambat akan melumpuhkan kekuatan Kerajaan Besar. Maka pemuda itu memahamkan kepada seluruh warga Kerajaan semua komprehensi dan hari esok yang akan saling terkait: lumpur, kelumpuhan ekonomi, lantas beberapa guncangan  lagi….***