Daur-II • 209

Sungai Terbelah Dua

Ia bergaul dengan para Punggawa, berdiskusi dengan anggota-anggota pertimbangan Kerajaan, bersilaturahmi dengan banyak keluarga Kerajaan, dari yang sepuh, dewasa hingga yang kanak-kanak. Semua kalangan di Kerajaan menyukainya karena di samping berilmu, punya banyak kesaktian, juga ia sangat jenaka dalam bergaul.

Kanak-kanak dan remaja di Kerajaan mengenalnya sebagai semacam pesulap yang handal tapi lucu. Kaum dewasa agak-agak mulai memitoskannya sebagai anak muda mumpuni yang bahkan bisa menghilang, bisa mengubah kerikil menjadi beras, mengubah beras menjadi emas, atau sebaliknya.

Sebenarnya yang ia khawatirkan adalah kalau warga Kerajaan inilah yang dikategorikan oleh Allah sebagai orang-orang yang hidupnya mewah. Maka secara naluriah ia menjalani apa yang Allah firmankan “Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah”. Bahasa jelasnya, ia berdakwah di Kerajaan itu.

Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. [1] (An-Nahl: 125).

Tentu saja dengan harapan mereka menerima ajakan dakwahnya, sehingga Allah tidak mengadzabnya. Sebab pemuda ini sudah sangat akrab dan menyayangi mereka semua, meskipun kepercayaan mereka berbeda darinya.

Sesungguhnya sudah sejak bertahun-tahun silam pemuda ini melakukan semacam dakwah. Bukan karena niat berdakwah, melainkan menjalankan apa yang seyogyanya dijalankan oleh manusia kepada sesama manusia. Hanya saja sesudah ia menatap lautan lumpur, delta sungai, warna remang-remang bahkan gelap di cakrawala jauh — ia memacu apa yang dilakukannya itu di Kerajaan.

Tiba-tiba ia tersadar: “Ya! Delta! Sungai terbelah dua…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra