Nabi di Jakarta

(Shiddiq Amanah Tabligh Fathonah)

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kalau Tuhan menyuruh kita pergi Haji, Tuhan sendiri tidak lantas mencontohi pergi Haji. Kalau Tuhan memerintahkan kita bayar zakat dan suka bersedekah, Tuhan sendiri jelas Maha Pemurah dan sangat nyah-nyoh. Kalau Tuhan menyuruh kita berpuasa, dalam makna tertentu Tuhan sendiri selalu sangat berpuasa, menahan diri, menunda hukuman. Kalau tidak, layaklah Pulau Jawa ini longsor seluruhnya ditelan bumi.

Kalau Tuhan memerintahkan manusia bersyahadat, meneguhkan kesaksian atas diri-Nya beserta kekasih-Nya, Ia sendiri bersaksi atas diri-Nya. “Kullama nadaita ya Hu, qala ya ‘abdii ana-Llah”. Setiap kali hatimu memanggil-manggil-Ku dengan cintamu, aku menjawab: “Ya, kekasih-Ku, ini Aku Allah kekasihmu…”. Dan kalau Allah memerintahkan agar manusia bershalawat kepada Muhammad kinasih-Nya, Allah sendiri memeloporinya, memberi teladan dan memulainya: “Innallaha wa malaikata-Hu yusholluna ‘alan-Nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa sallimu tasliima…

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya ber-“Shalat” kepada Nabi. Maka wahai orang-orang yang mengimaninya, “shalatlah kepadanya, sampaikan janji keselamatan kepadanya seselamat-selamatnya”. Shalawat itu plural dari shalat. Allah shalat kepada Nabi dan kita semua, dalam konteks bukan menyembah Nabi dan kita, melainkan mencintai dan memfasilitasi. Nabi shalat kepada Allah dalam posisi menyembah, mengabdi dan bersetia. Nabi “shalat” kepada kita dalam posisi menyayangi, mengasuh dan menyiapkan syafa’at, hak prerogatif dari Allah untuk memperoleh kemurahan ampunan-Nya kepada kita, melapangkan rezeki-Nya kepada kita.

Kita semua “bebekti” kepada Allah dengan shalat lima waktu tiap hari, serta shalat-shalat atau shalawat dalam konteks dan nuansa yang lebih luas dan aplikatif secara budaya sampai politik. Di Komunitas Maiyah dikenal terminologi “Cinta Segitiga”. Yakni saling cinta antara Allah, Muhammad dan kita.

Ada yang tidak paham: Kok mendoakan Nabimu? Apa nasibnya belum beres di depan Allah? Sangat logis dan wajar pertanyaan itu. Karena belum memahami dialektika kolusial segitiga itu. Kalau kita minta kepada Allah membawa hanya diri kita sendiri, kita tak punya cukup bargaining power untuk mendapatkan akses ampunan atau rezeki dari Allah.

Tapi kalau kita “sowan” kepada Allah menyertakan kekasih-Nya, Muhammad saw, atau kita mbuntut saja di belakang beliau, berpegangan serban beliau, “gondhelan klambine Kanjeng Nabi”—maka Allah luluh hati-Nya. Allah tidak tega tidak mengabulkan permintaan kita. Allah menjadi lebih murah hati menyejahterakan hidup kita, menenteramkan hati kita, serta menunjukkan banyak hal yang kita tidak mungkin tahu hanya dengan bekal intelektual dan spiritual default-nya manusia.

Di dalam penuturan Allah kepada manusia tentang “cara menempuh kehidupan”, atau yang biasanya disebut Agama, disepadankan dengan konsep ad-Din – Allah menghamparkan bermacam-macam fenomena informasi. Ada yang sederhana. Ada yang ketetapan padat. Ada aturan tersurat. Ada yang konteks tersirat. Ada yang paparan yang sebagian dimensinya disembunyikan. Ada yang merupakan ajakan diskusi, atau agar manusia terus berdiskusi dengan dirinya sendiri. Ada yang samar-samar. Ada yang seperti kelebatan info tapi susah dikejar.

Kehidupan manusia memang memerlukan keragaman seperti itu. Manusia membutuhkan fakta, tapi juga perlu rahasia. Manusia perlu pengetahuan, tapi dalam hal-hal tertentu lebih baik tidak tahu. Kalau manusia tahu kapan ia mati, bahkan tahu berdagang akan laba atau tidak, tahu komplit isi hati suami atau istri, bisa mendengar tetangga jauh ngomong apa, tahu pertandingan besok yang menang kesebelasan mana, juara turnamennya siapa. Dan seterusnya. Maka kehidupan akan disorganized. Peradaban segera bubar. Kiamat tak perlu ditunggu dari inisiatif Allah, karena kehidupan manusia sendiri sangat efektif mengarah kepadanya.

Maka tatkala hamba Allah yang bernama Khidlir mendapat hak-hak spesial yang para Nabi dan Rasul lain tidak dikasih oleh Allah, itu juga ambil saja rasa syukur dan ilmunya. Khidlir boleh melakukan kriminalitas, bahkan teror. Ia membocorkan kapal yang ditumpanginya. Kemudian membunuh anak-anak. Lantas tanpa dibayar ia memperbaiki pagar besar dan panjang. Musa protes, dan itu yang membuat beliau lulus secara khusus. Bahwa beliau bertanya, itu melanggar janji dengan Khidlir, sehingga Sang Guru meninggalkannya. Hadza firaqun baini wa bainak.

Tetapi Nabi Musa lulus karena teguh pertahanan moral dan hukumnya. Bahkan mempertahankan kebijaksanaan sejarah, tidak langsung memberontak kepada Khidlir, menantangnya berantem atau apapun bentuknya. Perpisahan Khidlir-Musa bukan peristiwa kegagalan ilmu, melainkan peneguhan pemilahan antara kebenaran dengan kebathilan. Musa mengambil ‘Ilmul Khudlur” dari Khidlir. Ilmu kehadiran. Bahwa sehebat-hebat perjuangan Musa melawan Fir’aun, ia tetap memerlukan “kehadiran” kuasa Allah. Maka dihadirkanlah Khidlir. Kuasa bumi tidak bisa berdiri sendiri. Tetap ada kuasa langit.

Itulah yang menyebabkan mayoritas penduduk Indonesia yang adalah Kaum Muslimin, selalu bertahan melakukan kebijaksanaan Nabi Musa. Kalau bicara massa dan kekuatan politik, mana mungkin melawan Ummat Islam Indonesia. Kalau NU dan Muhammadiyah saja bergandengan tangan menangani pengelolaan NKRI, tidak ada yang bisa mengganggu-gugatnya.

Akan tetapi mereka sangat bijaksana. Bahkan para Ulama tidak harus mempertahankan martabat untuk hanya mau kalau “disowani” oleh Umara. Tak apa sebaliknya. Oke diundang ke Istana. Allah berfirman: “Wahai Musa, datanglah kepada Fir’aun”. Idzhab ila Fir’auna innahu thagha. Apalagi tidak ada Fir’aun di Jakarta. Pemimpin tertinggi bangsa ini bersinggasana atas pilihan mayoritas Kaum Muslimin. Ummat Islam tidak akan memilih pemimpin kalau ia bukan representasi dari Nabi Muhammad saw. Pemimpin Indonesia dengan mayoritas penduduk Muslim tentulah “Waratsatun-Nabi”, pewaris Nabi, “Tabi’ut-Tabi’in-Nabi”, pengikutnya pengikut utama Nabi.

Kaum Muslimin sangat meyakini pemimpin yang dibaiatnya. Percaya kepada kebenarannya. Menjunjung karakternya: Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Jujur, bisa dipercaya, bisa dipegang janji dan perilakunya, komunikatif dan cerdas. Beliau bagaikan Nabi itu sendiri. Era sekarang ini adalah Hari Raya sesudah puasa sangat lama bagi Kaum Muslimin dan rakyat Indonesia. Jangan ada yang mengkritik pemimpin pilihan Ummat Islam. Jangan nyinyir. Jaga mulut dari ujaran kebencian.

Yogya, 11 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image