Menemukan Kembali Default Kebahagiaan

Sejak pulang dari Rumah Maiyah beberapa hari lalu, di otak kepala saya terngiang suara-suara. Tidak sampai mengganggu memang, namun rasanya nyundul-nyundul terus seperti jabang bayi yang ingin keluar dari rahim ibu. Sejak Mas Fadil membonceng saya keluar dari Rumah Maiyah, ketika gerimis lembut menerpa wajah, sejak malam itu pula dua kata yang saya dengar langsung dari Mbah Nun, menempel di telinga saya.

Pukul 22.30 WIB kami berdua meninggalkan Rumah Maiyah, goncengan motor. Jalanan Yogya masih sangat ramai dan padat. Beda dengan nJombang—di atas jam sepuluh malam jalan-jalan kota sudah lengang. Bisa dipakai main sepak bola. Duduk di boncengan belakang saya buta arah. Setiap ruas jalanan Yogya adalah kegaiban bagi saya. Namun saya percaya, Mas Fadil yang membonceng saya akan melalui syari’ yang benar dan shiroth yang tepat.

Dan ternyata kami terdampar di trotoar Malioboro. Ngopi pakai gelas besar. Cukup membuat perut klempoken, sambil menunggu kereta dari stasiun Tugu pukul satu dinihari. Dua gelas kopi menemani kami mengendapkan poin-poin cerita Mbah Nun.

Jangan Sampai Tidak Bahagia

Seperti dua anggota DPR yang nyamar jadi rakyat kecil di trotoar jalan, kami saling bertukar cerita. Orang boleh bilang, bahagia itu sederhana. Namun, tidak setiap orang mencermati apalagi menyadari situasi mental mengapa bahagia itu sederhana. Mengapa manusia cenderung lebih peka merasakan sedih daripada bahagia. Mengapa untuk berbahagia manusia justru bergantung pada pola rekayasa dan conditioning situasi eksternal?

Kita bisa menderet sangat panjang pertanyaan tentang bahagia, berbahagia, membahagiakan dan kebahagiaan. Jawaban atas semua pertanyaan itu cukup dikandung oleh dua kata saja: manusia diciptakan Tuhan dengan default kebahagiaan. Dua frase kata ini: default kebahagiaan, terngiang-ngiang terus di telinga saya.

“Bekerjalah dengan hati bahagia. Menulislah dengan hati bahagia. Bersedekahlah kepada Indonesia dengan hati bahagia. Allah Swt menciptakan manusia dengan default kebahagiaan—lengkap dengan perangkat dan fasilitas internal eksternalnya,” demikian Mbah Nun mengungkapkan.

Bukan terutama kata bahagia dan kebahagiaan yang membuat saya obses, tapi pilihan diksi “default” benar-benar mengusik saya. Kata “default” ini silahkan dilacak makna denotatif dan konotatifnya. Bagi saya, susunan “mudlof-mudlof ilaih” default kebahagiaan, serupa akar yang menopang dan menumbuhkan pohon mental bagaimana kita memanage dan merespon situasi-situasi yang dalam tatanan logika akal sehat menyorong manusia ke dalam jurang kesedihan dan kehancuran.

Di tengah situasi “kesurupan” masal itu kita boleh saja bersedih atau sudah sewajarnya bersedih. Namun, kesedihan itu jangan sampai nyokot ati, ngengleng, mbatin secara berlebihan hingga melampaui takaran laa yukallifullaaha nafsan illaa wus’ahaa. Allah tidak akan membebani kita kecuali sesuai takaran kemampuan. Justru yang mendesak adalah mengerti default takaran, wadah, ruang lingkup, kesanggupan dan kemampuan diri saat merespon, menampung, menanggapi setiap fakta yang bergelimang anti-logika itu. Memakai ungkapan Syaikh Umbu, manusia harus paham sangkan paraning dumadi. Ke Diri. Ke Diri. Ke Diri.

Keutuhan Basyiiran Wa Nadziiran

Jadi, bahagia itu bukan sekadar sederhana. Bahagia itu otentik. Bahwa setiap manusia diciptakan secara otentik, demikian pula default kebahagiaan setiap manusia memiliki otentitasnya masing-masing. Ruang lingkup dan pemetaan otentitas kebahagiaan tersebut bisa berlaku per individu, per desa, per suku, per bangsa. Artinya, subjektivitas otentik kebahagiaan antar individu, antar desa, antar suku dan antar bangsa bisa sangat berbeda. Walaupun kebahagiaan tersebut pasti tidak akan bebas nilai.

Kita mencari setiap saat keutuhan basyiiran wa nadziiran. Baik basyiiran dalam pengertian kabar gembira maupun otentitas basyariah kemanusiaan kita. Serta nadziiran dalam artikulasi makna pemberian peringatan maupun kewaspadaan membaca ayat-ayat peringatan secara luas dan mendasar.

Maka, kita jangan lantas terbuai apalagi kecil hati oleh hasil survei dan angka statistik indeks nasional dan global. Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) Tahun 2017. BPS mencatat Indeks Kebahagiaan Indonesia Tahun 2017 mencapai 70,69 pada skala 0-100. Indeks Kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding penduduk yang tinggal di perdesaan, yaitu 71,64 dibanding 69,57.

Pada skala 0 – 100 semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia. Semakin rendah nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin tidak bahagia.

Baiklah, itu semua adalah versi dan tafsir. Angka-angka tersebut telah menjadi padatan, sehingga terdapat mozaik warna-warni faktual-internal yang belum atau luput dipotret. Kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia) yang menyusun dimensi kebahagiaan, pada wilayah yang lain, tetap menyisakan kegaiban. Adegan yang disampaikan Mbah Nun: dapat rejeki tigaratus ribu al-hamdulillah cukup; duaratus ribu ya cukup; seratus ribu mudah-mudahan cukup; limapuluh ribu dicukup-cukupkan—adalah lorong-lorong “jalan tikus” dimensi fakta kebahagiaan yang otentitasnya belum tentu bisa di-close-up oleh hasil survei.

Atau kita memilih pendekatan yang lebih utuh: di dalam (kabar) gembira (basyiiran) terkandung muatan peringatan (nadziiran), dan di dalam peringatan (nadziiran) terkandung muatan (kabar) gembira (basyiiran). Saat bergembira kita harus tetap waspada, dan di dalam sikap waspada kita bisa tetap gembira.

Apakah Indeks Kebahagiaan Indonesia 2017 dimuati oleh dimensi makna hidup yang utuh dan seimbang? Ataukah mengurung bahagia dan sedih dalam ruang dikotomis kamar yang berbeda?