Memancar Cahaya dari Ubun-ubun Mereka

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan 4 November 2017 (Bagian III)

“Saya berharap Anda ikhlas mendengarkan dan tidak harus memahami satu kata, satu kalimat, satu alenia, apalagi sepuluh poin dari Tetes Air Maiyah. Saya menancapkan tonggak-tonggak di berbagai tempat. Kalau suatu hari ada gempa, hidupmu berguncang, ada angin kencang, dan kalau suatu hari Anda butuh pegangan, mudah-mudahan tonggak-tonggak itu bisa Anda pegang untuk menyeimbangkan hidup Anda,” tutur Mbah Nun.

Foto: Hariadi

Apa yang disampaikan Mbah Nun tidak untuk menakut-nakuti, mengancam-ancam atau meden-medeni. Kita perlu waspada, karena kita tengah berada dalam situasi ketika Ya’juj dan Ma’juj disambut dengan ucapan “thala’al badru”. Situasi ketika orang saling bertengkar tanpa perlu mengerti apa yang dipertengkarkan dan mengapa harus bertengkar. Situasi ketika kita berharap satu-satunya penolong hanyalah Allah.

Tetes Air Maiyah adalah tonggak yang pada saat ini juga menjadi pegangan untuk menyeimbangkan hidup kita.

Ketika manusia tidak bisa membedakan mana hak mana kewajiban, mana hitam mana putih, mana atas mana bawah, mana malu mana bangga—dan atas semua silang sengkarut tata nilai itu Maiyah tidak bisa menyelesaikan masalah, maka kemampuan kita tinggal memohon kasih sayang Allah. Kalau Allah sayang sama kita, maka siapapun saja yang menyentuh kita dengan kejahatan akan dihalangi oleh Allah dan malaikat-Nya.

Bahagia di Jalan Sunyi

Malam itu Mbah Nun meminta jamaah membentuk lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran diisi limabelas hingga duapuluh orang. Mereka diminta untuk menunjuk satu orang sebagai wakil. Prosesnya memang sederhana. Mekanisme membentuk lingkaran-lingkaran hingga setiap lingkaran menentukan satu orang wakil, kalau dicermati sesungguhnya mengandung pelajaran kepemimpinan. Wakil setiap lingkaran yang menjadi “pemimipin” atau “imam” ditunjuk oleh jamaah. Sebagaimana iman dalam shalat berjamaah diangkat oleh para makmum.

Foto: Adin.

Proses kepemimpinan tersebut pasti berkebalikan dengan mekanisme demokrasi zaman now. Seseorang yang menilai dirinya layak menjadi pemimpin menawar-nawarkan diri, memasang baliho dan sepanduk di ratusan titik strategis. Kalimat yang ditampilkan selalu standar. Mereka adalah pemimpin yang layak dipilih. Cerdas, berani, jujur, amanah. Iklan para “pemimpin” bertaburan di mana-mana, menjadi “penunggu” perempatan dan tikungan jalan.

Setiap pemimpin yang merasa dirinya pantas dipilih menjadi pemimpin mengobral kata: semua kata, sifat dan karakter yang baik diringkusnya tanpa sisa. Branding status mulia di setiap baliho menjadi banjir bandang, menerjang akal sehat, mengguncang nurani, meluluhlantakkan martabat dan harga diri. Kita tengah digulung air bah anti-logika yang sangat dahsyat?

Kita pun gulung-kuming. Tangan meraih-raih pegangan. Tetes Delapan dari Sepuluh, Maiyah Bukan Prestasi, menyatakan:

Maiyah menemani hamba-hamba-Nya di ribuan titik. Memohon pembengkakan jumlah Al-Muhtadin dan Al-Mutahabbina Fillah. Bershadaqah ikhtiar menghimpun mereka ke dalam Cinta Segitiga dengan Allah dan Rasulullah. Tetapi Maiyah tidak memasuki pagar Demokrasi, karena sabda Rasulullah saw: “Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri, Allah tidak mau tahu. Tapi kalau kamu jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.

Foto: Adin.

Manusia saling membunuh untuk rebutan balung. Sesaat kita termangu—merasa sendiri, asing dan aneh. Kita mlipir di jalan sunyi. Para pelaku Maiyah lainnya bertahan dalam sunyi: “Qulillahumma Malikal mulki tu`til mulka man tasya`…”. “Kulla ma nadaita ya Hu, qala ya ‘abdi ana-Llah(Delapan dari Sepuluh, Maiyah Bukan Prestasi).

Apakah dengan jalan sunyi itu kita lantas murung dan bersedih? Tidak. Kita bahagia, selalu bahagia dan akan selalu bahagia. Kita diciptakan Allah dengan default kebahagiaan. Tidak ada yang membuat kita cemas, takut dan sedih, kecuali operating system internal kita sedang kacau. Maka, kita perlu online secara terus menerus, terhubung dengan amr dan iradah Allah setiap saat.

Maiyah: Hadiah dari Allah

Jadi, Padhangmbulan ini apa? Gerakan sosial, gerakan moral, ataukah perkumpulan thariqah? Bisa ya bisa tidak, bergantung sudut pandang, cara pandang, jarak pandang, niat pandang serta berbagai kemungkinan metodologi lainnya. Faktanya, selama 24 tahun Padhangmbulan tetap berlangsung hingga hari ini. Orang berkumpul sampai menjelang shubuh. Kalaupun tidak disebut gerakan sosial atau thariqah, hal itu disebabkan belum ada “wadah” atau kategorisasi akademis yang bisa menampungnya.

Maiyah adalah hadiah dari Allah, bukan karya kita. Semua kekurangan Maiyah berasal dariku. Kita bersyukur Allah menganugerahkan Cak Fuad dan Syekh Kamba, sebagai Marja’ ilmu kita semua. Tetapi kami bertiga bukan Ulama, Mursyid atau Kiai, sebagaimana beliau-beliau di luar sana. Selama 24 tahun ini kita berkumpul dan hanya berjuang mencintai dan mendekat kepada Allah Muhammad kekasih-Nya, mengikhtiari manfaat hidup. Termasuk buat Indonesia (Asyiki Al Qur’an, Maiyah Suburkan. Sepuluh dari Sepuluh).

Foto: Adin.

Karena itu, Mbah Nun mengajak kita bersedekah kepada umat manusia dan bangsa Indonesia melalui ayat-ayat Al-Quran yang dibaca selama sembilan belas menit. Para wakil jamaah sudah kembali ke lingkaran masing-masing usai menerima pengarahan dari Mas Helmi dan Mas Jamal. Beberapa lampu utama kamera dimatikan. Suasana cahaya meredup. Setiap orang memperoleh satu ayat. Bukan dibaca berapa kali itu tidak penting, melainkan tumuse ati, kedalaman dan keikhlasan kepada Allah Swt benar-benar diupayakan semampunya. Sesaat kemudian terdengar suara gemeremang ayat-ayat dibaca.

Ini pengajian dimana yang hadir bukan seratus persen kaum santri. Para jamaah hadir dari bermacam-macam latar belakang pendidikan, pekerjaan dan ekonomi. Malam itu baju-baju status dan sekat-sekat sosial tanggal. Mereka menjalin orkestrasi ruhani melalui bacaan ayat-ayat Al-Quran, lengkap dengan mozaik warna-warni batin yang memancar dari kedalaman hati masing-masing.

Sebelum jamaah membaca ayat-ayat Al-Qur`an, Mbah Nun memberi pengantar sekaligus menyampaikan permohonan kepada Allah Swt. “Saya memohon kepada Allah Swt agar dari anak-anakku jamaah Maiyah akan memancar cahaya dari ubun-ubun mereka ke lingkungan mereka. Kalau mereka berkata dan mengatakan sesuatu, cahayalah yang keluar dari mulutnya. Kalau mereka memadang sesuatu, maka cahayalah yang keluar dari mripatnya. Kalau mereka mendengar sesuatu, maka cahayalah yang dipantulkan oleh suaranya. Apapun yang mereka lakukan, yudlii-u walau lam tamsashu naar, tanpa disulut oleh apapun, Anda akan mendapatkan nyala api Allah Swt.”

Foto: Adin.

Saya meyakini, malam itu, Mumpung Padhang Rembulane, Allah Swt menaburkan berlaksa-laksa cahaya. (Achmad Saifullah Syahid)

“Saya berharap Anda ikhlas mendengarkan dan tidak harus memahami satu kata, satu kalimat, satu alenia, apalagi sepuluh poin dari Tetes Air Maiyah. Saya menancapkan tonggak-tonggak di berbagai tempat. Kalau suatu hari ada gempa, hidupmu berguncang, ada angin kencang, dan kalau suatu hari Anda butuh…