Daur-II • 083

Maulidun Nuzul

Sedangkan Nabi Isa, sangat menyentuh hati Maryam Ibundanya, tatkala bayi dituntun oleh Allah untuk berkata-kata, menyatakan siapa dirinya, serta mengucapkan selamat atas kelahirannya, atas kematian serta atas dibangkitkan kembali. Di Negeriku orang ribut hal Iqra` kelahiran Isa ini.

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” [1] (Maryam: 33). Bahkan Allah sendiri merayakan kelahiran Isa, kematian dan kebangkitannya kembali. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [2] (Maryam: 15).

Bagaimana mungkin para pengikut Muhammad, yang mengikuti Muhammad dengan asal usul karena mencintai Allah, bisa tahan hatinya untuk tidak juga merayakan kelahiran Muhammad? Mencintai dan mengikuti Muhammad pastilah berada di dalam spektrum cinta yang lebih besar kepada Allah. Sehingga kalau Allah merayakan Isa yang dicintainya, tidakkah merayakan Muhammad adalah bagian dari dialektika iman dan kepatuhan kepada Allah serta cinta kepada Isa dan Muhammad?

Maka para pecinta Muhammad merayakan “Maulid Nabi” setiap 17 Ramadlan, hari tatkala wahyu pertama diturunkan kepada Muhammad, yang menandai momentum diangkatnya Muhammad sebagai Nabi. Betapa gegap gempitanya perayaan cinta “Maulidun Nuzul” di bulan Ramadlan itu. Turunnya Iqra` adalah detik awal kenabian Muhammad.

Kemudian juga merayakan “Maulid Muhammad” setiap 12 Rabi’ul Awwal. Allah dan Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkannya, dan juga tidak pernah melarangnya. Wajib melakukan apa yang diperintahkan, dan boleh melakukan apa yang tidak dilarang. Iqra`, wahai, Iqra`.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra