Daur-II • 062

Kiamat Sebagai Awal Urusan

“Padahal Qiyamah adalah kebangkitan”, Pakde Sundusin menjelaskan, “kiamat adalah awal dari urusan yang sebenarnya, kiamat adalah lembaran kedua yang sangat nyata sesudah lembar pertama yang berisi keputusan-keputusan kita selama hidup di dunia”.

Pakde Sundusin bercerita betapa Mbah Sot sering merasa putus asa menjelaskan kepada siapapun yang datang kepadanya, bahwa kiamat itu bukan kelak, tetapi bisa nanti lima menit lagi, atau bahkan satu menit lagi. Kiamat Besar hanya Allah yang tahu, tetapi bagi setiap manusia, konteks kiamat dimulai begitu ia diakhiri jatahnya di dunia.

Setiap orang diikat oleh otoritas absolut Allah untuk diambil nyawanya sewaktu-waktu. Kemudian ditransformasikan menuju formula lanjutan dari kehidupannya. Dan ketika yang disebut mati itu tiba, maka dimulailah urusan yang sebenarnya.

Dimulailah posisi yang sesungguhnya dari manusia. Konteks dan hakiki kiamat telah dimulai padanya. Diawalilah kasunyatan sejati: bahwa “Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. [1] (HR Muslim).

Manusia di muka bumi yang hidupnya, tradisi kebudayaan dan program peradabannya sangat dikuasai oleh pertimbangan pancaindera, diam-diam selalu berpendapat bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan. Padahal maut adalah awal urusan.

“Terutama manusia abad sekarang ini”, kata Mbah Sot, “mereka pikir kenyataan hidup adalah sebatas yang mereka ketahui. Mereka piker yang mereka ketahui lebih banyak dan luas dibanding yang mereka tidak ketahui. Agama tidak berguna sebagai informasi bagi mereka”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra