Daur-II • 061

Memohon Akhirat Kecil

Sundusin juga punya cerita tentang salah satu dialognya dengan Mbah Sot. Pada suatu malam ia menabrak orang tua itu: “Andaikan Cak Sot diperkenankan untuk bertemu, berhadapan dan bertatap wajah dengan Kanjeng Nabi, apa yang Cak Sot kemukakan kepada beliau?”

Mungkin setiap orang akan memiliki jawaban berbeda-beda atas pertanyaan pengandaian semacam itu. Cak Sot sendiri ditanya malam ini mungkin berbeda jawabannya besok malam atau waktu-waktu berikutnya. Tetapi malam itu dia menjawab: “Saya memohon agar Rasulullah saw memohonkan Al-Akhirah As-Shughro kepada Allah.…”

“Apa Al-Akhirah As-Shughro itu Cak?”

“Akhirat kecil”, jawab Mbah Sot.

“Kok ada akhirat kecil. Selama ini istilah yang dikenal adalah Kiamat Kecil. Al-Qiyamah As-Shughro

“Saya menghindari istilah itu karena kiamat terlanjur diartikan oleh kebanyakan orang sebagai akhir dari segala-galanya. Bahkan dibayangkan sebagai bencana paling mutlak atas kehidupan manusia.…”

“Memang makin lama manusia makin aneh”, Seger nyeletuk di tengah cerita Sundusin, “kiamat kok dikonotasikan secara negatif, sehingga semua pada ketakutan”

“Kiamat disamakan dengan tamat.…”, Jitul menyambung.

“Dipandang sebagai berakhirnya kehidupan”, juga Toling.

“Kiamat itu tutup buku. Lembar terakhir segala urusan”, Junit tidak ketinggalan, “manusia cinta benar kepada dunia. ‘Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang’”. [1] (Fushshilat: 50).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra