Daur-II • 239

Kehati-hatian Terhadap Pakaian Sosial

Sedangkan manusia-manusia yang terpilih menjadi Nabi, sehingga sejak awal penciptakan memang didesain kualitas-kuantitasnya untuk peran itu, sangat berhati-hati dengan pakaian sosialnya.

Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkannya?”. [1] (Al-An’am: 50).

Kalau Rasulullah Muhammad Saw berperang bahkan beberapa kali menjadi panglimanya, apakah berarti beliau seorang militer? Atau, kalau pakai kebodohan cara berpikir modern: karier beliau adalah militer? Kalau beliau berdagang sampai ke luar negeri, apakah berarti profesi beliau adalah pengusaha, atau eksportir importir? Kalau beliau menjadi keranjang sampah tempat semua orang bertanya dan mengeluh, apakah beliau adalah seorang konsultan?

Dengan bahan-bahan Sirah Rasul dan riwayat beliau, cara berpikir modern bisa meletakkan beliau di posisi karier dan profesi apapun yang baik-baik: budayawan, intelektual, filosof, trainer memanah dan naik kuda, rohaniawan, guru Agama, Kiai, Ustadz, Mursyid, dan banyak lagi.

Sementara Kaum Muslimin 14 abad sesudahnya menyematkan ibadah Haji sebagai identitas sosial. Para cerdik pandai di kalangan Ummat Islam menstatiskan kehidupan yang dinamis, dengan menetapkan secara permanen dan berlaku seumur hidup bahwa orang itu Ulama, lainnya Kiai, lainnya lagi Ustadz.

Padahal Islam, Al-Qur`an, taqwa, aqidah, tauhid, akhlaq, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah dan semua itu adalah aliran perilaku, dinamika fluktuatif dari proses hidup manusia. Bukan papan nama, merk, branding.