Daur-II • 240

Muhammad Tak Berwajah

Bahkan Baginda Muhammad Saw tidak memperkenankan orang menggambar wajahnya. Terdapat sangat banyak sekali manfaat dari ketetapan beliau ini.

Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya”. [1] (Al-Anbiya: 98).

Baginda Nabi sangat memahami kecenderungan psikologi manusia yang penuh kelemahan dan sangat mudah terbiaskan oleh banyak hal yang menimpanya. Kalau beliau perkenankan wajah beliau digambar, kemudian akan menjadi “viral” sepanjang zaman, coba simulasikanlah apa saja akibat-akibatnya.

Bagi yang mencintai beliau, gambar itu akan diaplikasikannya menjadi berbagai macam keperluan. Dipasang di rumahnya. Disebar ke segala tempat. Menjadi gambar utama setiap buku. Menjadi foto di status medsosnya. Diselipkan di dompetnya. Dijadikan jimat dengan berbagai cara.

Bagi yang membencinya, gambar itu menjadi bahan dan alat untuk segala macam eksploitasi untuk menghina beliau. Diedit dengan foto-foto lelaki yang sedang bermain seks dengan wanita telanjang. Digambar di poster, baliho, spanduk dan media apapun dengan kalimat-kalimat yang mengutuk dan menghina beliau.

Akan terjadi pengkultusan dengan bentuk dan cara yang mudah karena tersedia bahannya. Ummat Islam bisa terpeleset menuhankannya. Akan muncul kemudahan-kemudahan untuk berlaku syirik. Dan singkat kata, bayangkanlah dengan teknologi internet, kemudahan rekayasa audiovisual, liarnya media sosial: gambar-gambar beliau akan menjadi sumber peperangan di seluruh muka bumi.

Gambar itu kemudian menjadi foto. Dan fotografi meningkat menjadi video. Ketahuilah beliau tidak berkenan digambar wajahnya, sebagai pesan serius bahwa teknologi fortografi, video, televisi, internet, dan berbagai ragam variasinya itu adalah lidah Iblis yang sangat efektif dan revolusioner menghancurkan kehidupan manusia. Maka cintailah beliau selama di dunia, tanpa wajahnya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra