Karena Maiyah Cukup Rasional Bagi Saya

Saya pikir, saya memang tidak mencari spiritualitas, sufi-sufian, mursyid tarekat atau sejenisnya di Maiyah. Tentu tidak mengherankan bila ada sedulur-sedulur JM yang menemukan hal seperti itu di Maiyah. Ini juga sama sekali tidak bermaksud merendahkan hal-hal spiritual, kebatinan maupun tasawuf. Hanya memang selera pencarian saya tidak ke arah sana.

Katakanlah, saya tipe orang yang sangat memuja rasionalitas. Bukan, bukan saya pintar, IQ juga seadanya. Kerja otak saya jaga dengan bermain catur dan mengerjakan soal-soal matematika, untuk menemukan fakta bahwa; saya tidak jago dalam kedua bidang itu. Sekali lagi, ini soal selera.

Ada masanya saya gemar berkeliling ataupun diperjalankan menyambangi pondok-pondok, perkumpulan-perkumpulan tasawuf, bertemu beberapa orang yang sepuh dan bijak bestari. Bisa dibilang tidak banyak jumlah yang sempat saya sambangi, tapi cukup beragam.

Tenang saja, tulisan ini tidak akan berakhir dengan pernyataan klise semacam “Saya sudah pernah ke berbagai jenis komunitas, bertemu banyak guru spiritual namun hanya di sini saya menemukan yang saya cari”. Tidak, saya menghindari seperti itu. Kenapa? Karena klise, biasa banget. Bosan.

Pernyataan macam itu bisa kita dengar di hampir semua komunitas atau perkumpulan. Setiap mendengar pernyataan serupa, pertanyaan paling masuk akal yang hinggap di benak saya biasanya adalah “Situ berhenti mencari lagi karena sudah menemukan? Atau cuma lelah aja?” Saya pikir, tolok ukurnya perlu diperjelas dalam hal semacam ini. Dan begitulah, banyak hal di negeri ini berjalan dengan tolok ukur yang kurang tepat.

Beberapa kali saya juga sempat mendengar kiprah tokoh-tokoh yang dianggap “ngerti sakdurunge winarah” wah dahsyat juga pikir saya. Hal yang hinggap dalam pikiran saya sekali lagi bila mendengar hal semacam itu adalah; orang itu pastilah lawan bermain catur yang sangat menyenangkan. Mungkin dia bisa mengalahkan Bobby Fischer?

Entahlah, saya memang kurang begitu terpesona pada aroma-aroma spiritual macam itu. Kisah-kisah para wali dan orang-orang terpilih tetap menjadi bahan yang lumayan saya senangi, dan kisah semacam itu setahu saya ada di berbagai kepercayaan. Kisah wali-wali dalam Islam, para Santo di Kekristenan, Bodhisatva, para Rsi dlsb memang menyenangkan untuk dikaji. Spiritualitas juga rasional koq, bahwa beberapa hal terjadi di luar jangkauan akal manusia, itu juga rasional.

Di samping kisah-kisah spiritual, saya belakangan tertarik dengan kisah para jenius; Kisah pertarungan catur Bobby Fischer dan Boris Spasky, Gregory Parelman yang memecahkan satu dari tujuh rahasia besar matematika, dan banyak lagi. Untuk kemudian saya coba simpulkan sementara ini, bahwa rasionalitas dan spiritualitas tidaklah benar-benar bertentangan. Manusia tidak boleh sombong dengan akalnya. Betul, tapi juga tidak boleh kepedean dengan keyakinan batin semata, bukan?

Pada komunitas-komunitas yang konsentrasi dengan spiritualitas di luar sana, sebenarnya pembagiannya tidak sepadat itu juga. Pembagian kaum intelektual dan kaum kebatinan misalnya, tidak begitu terpisah. Cukup mudah menemukan tokoh-tokoh intelek yang juga berguru spiritual di pelosok-pelosok. Ini juga sering jadi kebanggaan tertentu bagi anggota komunitas “Itu profesor nganu, juga berguru sama guru kami”. Itu sering sekali terdengar kalimat serupa. Dan itu tidak buruk. Biasa saja.

Maka, bila ditanya kenapa saya tetap ber-Maiyah? Kenapa tetap bermakmum ke Mbah Nun? Biasanya jawaban saya ya, seperti judul tulisan ini; Karena Maiyah cukup rasional bagi saya.

Memang, di Maiyah ada bahasan-bahasan sufistik-tasawuf-kebatinan. Ada. Sering. Tapi lambaran kesadarannya adalah pada pengaktifan akal sehat.  Tema-tema semacam itu, yang di tempat lain menjadi lahan basah untuk seorang guru spiritual berkata “ini soal batin, jangan banyak bertanya” tidak selalu terjadi di Maiyah. Atau tepatnya begini, memang ada saatnya kita mesti meletakkan dulu rasio kita tapi itu juga perlu dilakukan dengan perhitungan yang matang dan presisi.

Rasio boleh diruntuhkan dengan cara yang rasional, begitu istilahnya. Kata rasio bisa diganti dengan demokrasi, bisa. Santai saja.

Kita ambil kisah Khidlir As dengan Musa As. Ini kisah selalu jadi legitimasi untuk relasi murid-mursyid. Agar murid ikut saja dulu apa kata mursyid. Untuk kesadaran rendah hati dan agar tetap takdzim pada guru, memang baik. Tapi mungkin kita boleh sedikit membongkar kisah ini.

Kenapa Musa tidak boleh bertanya mengenai perilaku Khidhir? Karena Khidhir lebih tahu? Bisa jadi. Tapi mungkin bisa juga kita ambil seperti ini, jangan-jangan pertanyaan Musa As memang kurang tepat untuk ditanyakan saat itu. Ini spekulasi ya, dan banyak spekulasi lain juga.

Sebab, bukankah hal pertama yang mestinya ditanyakan Musa As adalah soal, Khidlir ini siapa? Anak siapa sama siapa? Asli dari mana? Track record-nya bagaimana? Dan seterusnya, artinya sebenarnya banyak data baik kualitatif maupun kuantitatif yang perlu dikumpulkan oleh Musa As sebelum ujug-ujug minta dibaiat jadi muridnya Khidlir As.

Bisa jadi, kalau Musa As sudah cukup kaya data mengenai Khidlir As, maka pertanyaan soal perilaku Khidlir yang merusak kapal, membunuh anak kecil, dan membangun dinding rumah itu mungkin sudah tidak perlu tercetus.

Nah ini yang saya suka di Maiyah. Mbah Nun mengajak kita untuk memperkaya diri dengan sebanyak mungkin data. Diri kita menjadi subjek mandiri yang terbuka dari beragam data yang selama ini kita lewatkan begitu saja. Pertanyaan: Koq bisa? Apa yang dilakukan oleh Mbah Nun yang membuat kita menjadi (semestinya) kaya akan data?

Sebelum sampai ke situ, perlu kita perjelas dulu mengenai apa sebenarnya data itu. Menyoal ini, sejauh yang saya tangkap pada masyarakat kita, ada dua fenomena besar yang kita hadapi. Pertama, kaum akademisi yang pongah dengan data-data hasil penelitian yang dimilikinya. Kedua, kaum non-akademis yang tidak mau tahu dengan pola pikir ilmiah dan, dengan sendirinya, data akademis.

Sesungguhnya data tidak melulu berkenaan dengan angka-angka atau laporan hasil riset penelitian ilmiah. Bekal data dimiliki oleh setiap orang.

Ada yang melibatkan perhitungan angka-angka statistik, yakni data kuantitatif dan ada yang melalui pengamatan dan observasi yakni kualitatif. Setiap kita sesungguhnya adalah subjek yang mampu menangkap fenomena di sekitar kita. Hasil pengamatan itu juga dapat disebut data sebenarnya. Lalu apa bedanya dengan asumsi?

Nah, menentukan mana asumsi dan mana data yang valid itulah diperlukan diskusi, sidang ilmiah atau minimal adu kuat antar satu data dengan data lainnya. Asumsi juga bukanlah lawan dari data. Dia bisa jadi adalah awal penggalian data, bisa disejajarkan dengan hipotesis dalam penelitian.

Mereka yang berpola pikir ilmiah dan rasional, seringnya tidak terburu-buru untuk membenarkan atau menyalahkan setiap hasil akhir atau konklusi. Bahkan kajian-kajian paling nyeleneh semacam Borobudur-Sulaiman, atau Gajah Mada versi Islam, yang dipersoalkan bukan hasil akhir tapi kekayaan dan kelengkapan data pendukung dulu.

Bedakan dengan debat-debat lepas di socmed yang kebanyakan tergesa-gesa setuju atau tidak setuju. Salah satu doktrin ilmiah adalah tidak ada hal yang selalu pasti benar. Konsentrasi para saintis bukanlah salah benar, melainkan sudah teruji atau belum. Saya menemukan kemiripan soal ini dengan pemahaman yang dibangun di Maiyah. Jadi ya, Maiyah memang sangat saintis pola pikirnya bagi saya.

Yang perlu dipahami adalah bahwa setiap bentuk pengambilan data sesungguhnya memiliki limitasi. Batas jangkauan. Dengan memahami limitasi data kita, itu sudah cukup untuk menghindarkan diri dari dua kubu; akademisi pongah atau yang tidak mau tahu dengan pola pikir ilmiah.

Limitasi data. Karena kita manusia. Daya jangkau kita terbatas. Batasan itu bisa berupa batasan lokasi, batas kedalaman, maupun batas waktu dan batasan lain. Batas waktu misalnya, sebuah data yang diambil dari sampel data di sebuah tempat dan waktu tertentu, sesungguhnya hanya valid pada saat terbatas.

Maka pada pengujiannya, dia harus mencantumkan waktunya. Kalau saya bikin laporan bahwa pada penelitian yang diambil tanggal 17 Agustus 2017,  menghasilkan kesimpulan bahwa 90 persen Jamaah Maiyah merupakan warga Nahdliyin, maka data itu hanya berlaku saat itu. Karena bisa saja besoknya sudah tidak 90 persen lagi dengan beragam kemungkinan. Itu contoh saja.

Dari keseluruhan yang kita bahas di atas, ada satu kesimpulan sementara. Bahwa, untuk menjadi kaya akan data, sesungguhnya kita perlu menjadi manusia yang peka terhadap fenomena dan gejala.

Ada satu fenomena yang saya selalu perhatikan di pondok-pondok pesantren. Yakni bahwa para santri sebenarnya diajak oleh Kiainya untuk peka. Seringnya, peka terhadap tindak-tanduk Kiainya dulu. Misal; Kiai ngasih bekas kopinya ke santri mana, santri ini tiba-tiba dipanggil dengan gelar apa oleh sang Kiai, Sang Kiai di sebuah momen tiba-tiba mengenakan atau melakukan apa dan macam-macam fenomena serupa. Kemudian, para santri akan menanggapi tindakan Kiainya dengan pemaknaan-pemaknaan beragam. “Oh itu berarti Kiai nunjuk si itu buat jadi kepercayaannya.” Misal gitu. Ini juga pekerjaan data sebenarnya.

Toh namanya tidak mesti data. Yang pasti, para santri mulai belajar untuk peka pada ‘data’ dari Kiainya. Asumsi saya, ini adalah pembiasaan untuk peka, yang kemudian ketika si santri sudah lulus, di dunia luar dia bisa memanfaatkan kepekaan serupa dalam memahami berbagai fenomena. Tapi sayangnya, dalam budaya kita ada ganjalan berupa mitos sosok. Sehingga tidak jarang kepekaan itu hanya dibuka untuk sosok yang dihormati dan dianggap guru tapi tidak berlanjut kepada hal lain.

Mbah Nun, sejauh yang dapat saya jangkau dan pahami, sangat sering menularkan kebiasaan untuk berpikir dengan kepekaan rasa. Sehingga itu tadi, kita jadi terbiasa menyerap data-data yang berseliweran di sekitar kita. Di Maiyah, tradisi berpikir rasional dikembangkan, bukan dinajiskan. Akal diletakkan pada proporsi yang pas, bukan direndahkan.

Mbah Nun pada saat launching buku DAUR sempat menyampaikan penolakan terhadap mitologisasi dirinya. Ini perlu kita kaji dari dua sisi. Pertama, Mbah Nun memiliki potensi untuk dimitoskan melihat kiprah dan sepak terjang beliau dalam berbagai bidang. Kedua, masyarakat kita sendiri memiliki bakat khusus soal memitoskan dan mengkultuskan sosok.

Buat saya, ini adalah salah satu upaya Mbah Nun untuk mengajak kita terus mengaktifkan akal sehat. Soal kultus dan mitos sosok, saya berencana untuk membuat tulisan sendiri mengenainya.

Jadi ini, saya pikir, kita hidup di tengah terlalu banyak kepungan hal-hal yang tidak rasional. Sementara zaman telah bergerak semakin cepat. Zaman baru segera merekah, kita berada di persimpangan jalan, dan untuk meyakini ini kita bisa mengkalkulasinya dengan beragam perhitungan, berbagai variabel bisa kita jadikan acuan.

Ragam kisah-kisah kenabian seringkali merupakan kisah tentang perjuangan yang otentik di hadapan gerbang perubahan zaman di mana berbagai bentuk atau komunitas yang pada awalnya berdiri dengan niat baik dan suci sudah terlalu lama dianut dengan beku dan baku.

Musa As berhadapan dengan Politikus Firaun dan Ekonom liberal Qorun. Yesus atau Isa As, berhadapan dengan dua ormas terbesar pada masanya yakni Farisi dan Saduki yang ditampung dalam majlis ulama Sanhedrin, juga perlawanan-perlawanan garis keras seperti Zeloth dan Sicari. Tentu di setiap golongan pada masa itu, memang ada orang-orang yang baik, bahkan ada kaum yang mungkin sekarang dianggap wali. Tapi ketika zaman baru membuka, maka bentuk-bentuk itu sedikit demi sedikit akan membusuk, ditinggal, dan ditanggalkan. Sedang kita, ummat akhir zaman menghadapi akumulasi permasalahan itu dengan versi yang lebih rumit.

Dalam masa peralihan seperti ini, daya pikir kita ditantang untuk lebih terpacu. Waspada dalam menggunakan istilah. Setiap kemungkinan diperhitungkan dengan cermat dan berusaha presisi. Setiap niat baik mesti ada kalkulasi kualitas kebaikan dan seberapa jauh jangkau kebaikannya. Maiyah sangat tekun dalam soal beginian. Kita perlu berhati-hati dengan kepungan mitos di sekitar kita; mitos agama, mitos nasionalisme, mitos ketokohan, mitos perlawanan, mitos modernitas bahkan mitos rasionalitas itu sendiri. Bahwa manusia melangkah dari era mitos ke era rasional, itu juga mitos kan?

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa Maiyah adalah yang saya butuhkan untuk tetap menjaga akal sehat saya tetap berjalan normal pada zaman yang berjalan serba mitos ini. Karena rupanya saya tidak begitu baik dalam catur dan matematika, maka saya rasa saya perlu optimal dalam ber-Maiyah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image