Wedang Uwuh (16)

Kabar dari Tuhan

Kedaulatan Rakyat, 31 Januari 2017

Saya bertanya dalam hati: Yogya mengayomi Indonesia bagaimana maksudnya? Tentu saja Beruk sudah menyiapkan jawabannya di tulisan yang berbentuk surat dan mengalir seperti catatan harian.

Beruk menguraikannya melalui tiga pintu. Pertama, mempertanyakan kembali bentuk, wujud, racikan atau formula kebersamaan Bangsa Indonesia, yang sementara ini Negara Republik dan diadopsi dari Bangsa yang bukan Indonesia.

Kedua, hakikat ngawulo pada kemakhlukan manusia, sebagai sesuatu yang tidak menciptakan dirinya sendiri, melainkan diciptakan, dibikin, di’ada’kan, atau diselenggarakan, oleh satu Maha Subjek Agung, yang tidak bisa dirumuskan, dilihat, digambar, dirupakan, di-wadag-kan oleh seluruh ilmu dan kemampuan manusia sampai setinggi dan sehebat apapun.

Orang Yogya menyebutnya “tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro”. Sang Maha Subjek itu sendiri menyebut Diri-Nya melalui informasi Agama “laisa kamitslihi syai-un”. Kedua kalimat dari Bahasa Jawa dan Arab itu makna substansialnya kurang lebih sama. Atau “la tudrikuHul abshar wa Huwa Yudrikul abshar wa Huwal Lathiful Khobir”. Semua makhluk tidak mampu melihat-Nya, Ia mampu melihat semua makhluk, Ia Maha Lembut dan Maha Menginformasikan.

Mata makhluk, termasuk burung yang spektrum matanya lebih tajam dan detail dibanding manusia, hanya mampu melihat yang wadag dan kasar. Kalaupun dalam kosmos wadag itu ada yang lembut, itu sekadar yang terlembut dari semua yang kasar-kasar. Manusia tidak memiliki alat dan keadaan untuk melihat-Nya. Hanya Sang Maha Subjek itu sendiri yang Al-Lathif, Maha Lembut. Sampai-sampai manusia Jawa menyebut kaum Jin, hantu dan setan dengan “lelembut”.

Berabad-abad dengan penuh cinta dan kesungguhan mencoba meraba eksistensi-Nya. Manusia memberi nama atau sebutan sendiri atas hasil rabaannya: Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, Bhatara ini itu dan sangat banyak hasil “ijtihad” (pencarian kreatif) manusia untuk mencoba menyentuh Maha Kekasihnya.

Bahkan sejarah ilmu dan peradaban ummat manusia membuat kategori-kategori untuk inisial “Dewa” pengelola angin, air dan lautan, pembawa berita langit, pepohonan dan kayu, termasuk pengelola gelapnya sang waktu. Bahkan dalam konsep gunung Merapi orang mengenal Mbah Petruk, Kiai Gringsing, Syekh Jumadil Kubro dan lain-lain.

Yang kemudian disebut “Agama” adalah tatkala Sang Maha Lembut itu menaburkan informasi tentang (sebagian sangat sedikit) Diri-Nya Sendiri. Sehingga berjodoh dengan Al-Lathif, Sang Maha Lembut, Ia juga Yang Maha Mengabarkan, Al-Khobir. Para wartawan tidak bisa meliput Tuhan, para ilmuwan tidak punya metodologi untuk melakukan riset atas Sang Maha Subjek.

Satu-satunya kemungkinan untuk mengenal-Nya adalah Ia sendiri yang bermurah hati menginformasikan kepada manusia tentang Diri-Nya. Bahwa ia “Ahad”, Tunggal. Bahwa Ia “Shomad”, tempat bergantung semua makhluk. Bahwa ia “lam yalid wa lam yulad”, mustahil beranak dan diperanakkan – karena hal itu akan membuat peradaban ummat manusia kehilangan logika wujud, terserimpung oleh hakikat wujudnya sendiri sehingga tak akan menemukan formula sistem peradabannya, kebudayaannya, fisika dan metafisikanya, natural dan supranaturalnya.

Manusia memerlukan “kabar dari Tuhan”, sebab sangkan paran-nya sendiri diliputi kegelapan ilmu dan pengetahuan.

Pertama, mempertanyakan kembali bentuk, wujud, racikan atau formula kebersamaan Bangsa Indonesia, yang sementara ini Negara Republik dan diadopsi dari…