Budaya Mudik dan Kesadaran Sangkan Paran

Menturo, Minggu Kedua Mei 1990

Ada beberapa indikator yang menandai ramai atau sepi-nya Lebaran. Misalnya, jumlah orang yang mudik. Frekuensi acara-acara hiburan untuk umum, omzet jual beli makanan dan pakaian, semarak-tidaknya suasana budaya selama hari-hari Lebaran, juga “grengseng” di hati Anda.

Photo by Kevin Yudhistira Alloni on Unsplash

Masing-masing kita langsung tahu apakah Lebaran tahun ini lebih ramai ataukah lebih nyenyet dibanding tahun-tahun yang lalu. Tetapi, yang kita belum pernah tahu, juga para ahli dan pengamat masyarakat tidak pernah sungguh-sungguh berusaha tahu, ialah Lebaran tahun depan akan ramai tidak.

Bagaimana meramal atau menghitungnya?

Tanda ramai tidaknya Lebaran kita tahu, tetapi apa yang menyebabkannya? Mungkin kita bisa sebut beberapa faktor: momentum perekonomian (duit sedang ngumpet, bersembunyi di lorong-lorong tempat orang kemruyuk cari nafkah yang teramat licin dan banyak batu-batu sandungan); momentum psikologis (orang sedang ngambek terhadap berbagai problem hidup sehingga malas beromantika ria, atau adakah keleluasaan hati sehingga bersedia berjejal-jejal di kendaraan umum, atau justru sudah melewati titik kulminasi stres sosial sehingga ingin cari kompensasi dengan ramai-ramai berlebaran); momentum kultural (orang sedang dalam situasi kreatif ataukah rekreatif), serta satu-dua momentum bidang lain, termasuk keterkaitannya dengan momentum politik atau momentum-momentum batiniah mistis dan lain sebagainya.

Yang jelas, belum pernah kita dengar ada pakar meneliti soal ini, selain hanya memperkirakan belaka. Padahal, ramai tidaknya orang beridulfitri bisa merupakan pertanda “suasana kemasyarakatan” yang darinya bisa diambil pelajaran- pelajaran bagi orang yang hendak melakukan sesuatu dalam perubahan sejarah. Kalau Anda bikin grafik dari tahun ke tahun tentang situasi Lebaran, lantas mencari kaitannya dengan apa saja peristiwa sejarah yang terjadi dalam setting tersebut; beberapa hal pada masa depan akan juga tampak di mata Anda. Anda bisa “memanfaatkan”-nya untuk keperluan bisnis, untuk inisiatif-inisiatif aktivitas sosial, teknokrasi politik, dan lain sebagainya.

Ramai tidaknya Lebaran juga bisa memberi tolok ukur tentang, misalnya, berapa jumlah “dosa nasional” kita dalam tahun ini. Berapa tingkat kebutuhan untuk menghibur diri, dan dari asumsi itu bisa kita perkirakan tekanan “derita” yang menentukan takaran kebutuhan terhadap “penawar”-nya. Atau, berapa takaran “kesepian sosial” masyarakat sehingga dibutuhkannya “keramaian” pada takaran tertentu.

Dalam hal ini ada rumus-rumus teoretis yang baku sebab gejala sosial dan situasi psikologis manusia itu sedemikian kompleksnya dan penuh kesalingterkaitan, serta senantiasa berdenyut dalam mekanisme dialektis dengan situasi-situasi ekstrinsik.

Orang ramai mudik tidak pasti karena ekonomi sedang lancar. Orang suntuk bermaaf-maafan tidak pasti karena jumlah dosa mereka besar.

Dalam mengamati denyut perjalanan makhluk raksasa yang bernama masyarakat, kita memerlukan bukan saja metode-metode ilmiah yang makro dan multidisiplin, melainkan juga kewaskitaan dan tingkat tertentu dari “makrifat” sosiologis. Seorang profesor tidak pasti lebih prigel menjumpai substansi zaman dibanding seorang tukang becak meskipun kemampuan artikulasi intelektualnya pasti menang. Seperti halnya Anda, pada umumnya kalah dibanding sapi atau kerbau dalam mendeteksi ada tidaknya “getaran lembut”— atau yang kita sebut hantu. Dan, segala sesuatu dalam keberlangsungan zaman ini sesungguhnya “hanyalah” getaran- getaran, gelombang-gelombang, frekuensi, ayat liulil abshar.

Yang menggembirakan dari semua yang tak kita ketahui itu adalah bahwa sampai hari ini, budaya Lebaran masyarakat kita—severbal-verbalnya atau senorak-noraknya—tetap memiliki keterkaitan dengan inti Idulfitri.

Orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia pada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya. Mudik itu menandakan komitmen batin manusia terhadap sangkan paran dirinya.

Orang berusaha berikrar bahwa ia berasal dari suatu akar kehidupan: komunitas etnik, keluarga, sanak famili, bapak-ibu, alam semesta, berpangkal (atau berujung) di Allah melalui runtutan akar historisnya.

Itu lebih ilmiah terhadap hakikat hidup dibanding sikap mencerabut diri dari akar yang merupakan ciri dari komunitas masyarakat yang menyebut dirinya “modern”. Anda tahu “Kebudayaan Meninggalkan Akar”?

Itu Merupakan Salah Satu Kekeliruan Serius Dari Ideologi Modernitas Kita Semua.

Sumber: Sedang Tuhan Pun Cemburu, Bentang Pustaka, 2015, (Hlm. 39-42)