Idul Fitri: Kemenangan Personal di ‘Tengah Kekalahan Struktural’

Arti Idul Fitri sepenuhnya ditentukan oleh makna ibadah puasa, karena kondisi fitri seseorang merupakan produk dari aktivitas puasa. Ibadah yang Allah “memintanya secara khusus dari hamba-hamba-Nya” ini memiliki makna yang tak terhingga, sesuai dengan dimensi nilai mana yang dikaitkan oleh pelakunya dalam mengerjakan puasa. Akan tetapi jika puasa diartikan sebagai pembinaan mental, melalui laku badaniyah namun dengan pengolahan intelektual dan spiritual tertentu, maka kondisi fitri menjanjikan akses seseorang terhadap moralitas pribadi maupun moralitas sosial.

Intelektualitas, spiritualitas, mentalitas dan moralitas adalah fungsi-fungsi dalam sistem olah kejiwaan dan perilaku. Kalau seseorang mengolah intelektualitasnya, dalam arti mengasah kecerdasan, mengembangkan pengetahuan dan memperdalam ilmu, maka efeknya bukan hanya menyangkut kepandaian dan ‘kesarjanaan’ tetapi juga berpengaruh terhadap mentalitas dan moralitasnya.

Semakin luas ilmu seseorang dan semakin mendalam ilmunya–maka logikanya–akan semakin kuat pula mentalnya dan semakin baik pula moralnya. Kalau tidak demikian, maka ilmu dan pengetahuan serta cara mengolahnya, kemungkinan besar tidak tepat metodenya, tidak benar kandungan nilainya, serta tidak relevan terhadap nilai-nilai baik dalam konsep tentang manusia dan kemanusiaan.

Kita menjumpai kenyataan bahwa meningkat­nya ilmu pengetahuan tidak menjamin terkuaknya mental dan terbaikinya moral kita. Kesarjanaan atau kedoktoran dan keprofesoran seseorang tidak paralel dengan kekuatan mental dan kebaikan moralnya. Orang yang bertahun-tahun mempe­lajari mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan, tidak dijamin memiliki keberanian mental untuk mengemukakan bahwa sesuatu hal itu benar dan sesuatu hal yang lain itu salah. Tinggi dan luasnya ilmu pengetahuan seorang cendekiawan juga tidak menjanjikan jaminan moral. Artinya, dari kenyataan itu tercermin ketidaktahuan kemanusiaan. Di dalam diri seseorang tidak terdapat keterkaitan positif antara pengetahuan, ilmu, mentalitas dan moralitas.

Di kalangan kaum muslimin, sejak lama terdapat kenyataan bahwa tokoh atau seseorang yang canggih intelektualitasnya tidak diiringi oleh kemurnian spiritualitas serta oleh kekukuhan mental, sehingga ia tidak sanggup meng­aktualisasikan moralitas sosial sebagaimana yang diharapkan dari ketokohannya. Moralitas yang saya maksud misalnya daya kritis atau daya juang untuk melawan ketidakbenaran. Di sisi lain orang yang memiliki keberanian mental untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai yang baik, tidak dibarengi oleh wawasan dan keluasan intelektual.

Bahayanya Ilmu Pengetahuan

Dalam hal ini terdapat sebuah tafsir mengenai idiom maghdlub dan dhallin yang disebut dalam surah al-Fatihah. Maghdlub artinya orang yang dimarahi oleh Tuhan dan dhallin adalah orang yang — dalam bahasa Indonesia mungkin bisa disebut — durhaka. Konteksnya, dalam tafsir itu, maghdlub adalah “orang yang mau tidak tahu” yakni orang yang memiliki kesediaan, semangat dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran tapi ia malas belajar untuk mengetahui medan perjuangannya.

Misalnya; kita banyak kenal orang yang luar biasa upaya perjuangannya untuk membela segala yang benar, tapi ia tertinggal oleh pengetahuan bahwa kebenaran dan ketidakbenaran dewasa ini harus juga didekati secara struktural dan sistematik. Hampir tidak ada setitik debu di zaman ini yang berdiri sendiri, yang steril dan keterkaitan-keterkaitan struktural. Sedemikian rupa sehingga kita juga harus menemukan rumusan tentang beda antara dosa personal dengan dosa struktural. Keter­tinggalannya ini menyebabkan posisi perjuangannya menjadi tidak strategis dan tidak efektif.

Sementara itu dhallin adalah “orang yang tahu tapi tak mau”. Yakni kita-kita semua ini yang belajar ilmu habis-habisan, bertukar informasi secara sangat efektif dan canggih, serta mengetahui persis segala yang benar dan tidak benar dalam dunia kemanusiaan, politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya, tapi tidak cukup melakukan apapun yang sepadan dengan canggihnya pengetahuan kita atas semua itu.

Terdapat nash tertentu dalam teologi maupun acuan dalam fiqh Islam bahwa jika seseorang mengetahui ketidakbenaran lantas berdiam diri saja atasnya, maka ia bisa digolongkan sebagai bagian dari ketidakbenaran itu. Jadi mungkin sekali kadar kemarahan Allah kepada kaum dhallin lebih besar dan lebih serius dibanding kepada kaum maghdlubin. Meskipun demikian Allah masih bermurah hati menghibur kita bahwa kediaman itu sekadar digolongkan sebagai iman yang terlemah, tapi tetap diakui sebagai suatu jenis iman.

Tetapi sampai di sini kita menjumpai betapa berbahayanya ilmu pengetahuan. Orang yang tidak tahu hanya menyandang dosa kemalasan yang membuatnya tak tahu. Tapi orang yang tahu, apalagi yang terlanjur tahu banyak namun tidak mengaktualisasikan pengetahuannya dalam perjuangan, tampaknya logis untuk menanggung dosa sebanyak pengetahuannya yang tidak diamalkan. Apalagi jika kita mengakui adanya kenyataan atau paling tidak kecenderungan di mana berbagai kerusakan manusia dan sejarah banyak bersumber justru dari keterpelajaran manusia, sehingga banyak kalangan dan kemudian mengambil sikap pragmatis untuk lebih memilih “bodoh asal baik” daripada “pandai tapi jahat”.

Banyak kita atau ulama’ yang mendalam spiritualitasnya namun sempit wawasan intelektualnya, sehingga ia gagal memperoleh kematangan mental, dan dengan demikian fungsi kesejarahannya menjadi tidak maksimal. Sebaliknya banyak tokoh cendekiawan yang dahsyat intelektualitasnya, namun tidak memiliki tradisi olah spiritual yang sesungguhnya sangat diperlukan, sehingga sering ada yang terabaikan olehnya ketika harus menyelami situasi-situasi budaya masyarakat dan kemanusiaan.

Kualitas manusia yang sejauh ini kita hasilkan kebanyakan manusia-manusia parsial. Banyak tokoh spiritual keagamaan, tapi kualitasnya stereotipikal, karena rendahnya tradisi intelektual­nya tidak membawanya ke pemahaman-pemahaman yang memadai tentang masalah-masalah zamannya. Kondisi itu membuat mereka tidak memiliki akses ke pusat-pusat struktur sejarah. Sebaliknya kaum intelektual modern yang tidak meng-kerjasama-kan proses intelektualnya dengan olah spiritual, membuatnya sukar ke akses masyarakat, karena sesungguhnya umat dan masyarakat itu lebih karib untuk didekati dengan metode-metode kultur yang muatan utamanya adalah spiritualitas.

Fitri: Ilmu untuk Mati

Oleh karena itu pengertian Idul Firti, atau kembali ke fitrah, kembali ke kemurnian atas kesejatian, memiliki berbagai dimensi. Pada sisi spiritual, fitri berarti ‘membayi’. Ramadhan merupakan bulan suci, bulan tersedianya ampunan dan barakah, sehingga manusia yang mengem­barainya sesuai dengan guidance Tuhan Insya-Allah akan memperoleh penyucian pada jiwanya.

Atau memakai idiom lain; puasa merupakan proses ‘peragian spiritual’, kristalisasi atau esensialisasi. Proses laku puasa memerdekakan jiwa manusia dari beban dan kotoran keduniawian. Dalam hal ini puasa seakan-akan merupakan ilmu untuk mati. Artinya, manusia yang berpuasa belajar menyortir segala sesuatu dalam hidupnya; mana yang sejati mana yang semu, mana yang abadi mana yang temporer, mana yang bisa ia bawa ke kekekalan dan mana yang harus ia tinggalkan ketika dikubur.

llmu mati ialah pengetahuan yang memahami realitas mati, yang sesungguhnya merupakan puncak ilmu hidup. Apa yang tidak bisa dibawa ke kematian itulah yang tidak sejati, sehingga untuk apa mengejar-ngejar sampai begitu susah payah dan menyusahkan banyak orang. Apa yang bisa dibawa ke dalam kematian itulah yang abadi dan sejati. Di dalam Islam kematian adalah awal kehidupan yang asli dan berlangsung abadi, yang telah mengkristalisir dirinya dari kesemuan dunia. Di dalam Islam kehidupan dunia bukanlah tujuan, melainkan jalan, cara, metode, kendaraan pengangkut manusia ke tujuan di ruang dan waktu yang jauh, yang Allah menginformasikannya secara samar-samar namun jelas pedoman-pedomannya.

Pada dimensi intelektual, fitri adalah kematang­an dan kemengendapan. Dengan menyaring ucapan dan ekspresi perilaku dalam puasa, dengan tradisi i’tikaf yang melatih telinga batin untuk mendengarkan suara-suara yang dalam situasi-situasi normal tidak begitu terdengar mekanisme akal manusia akan mengalami sublimasi ke dasar ilmu sejati. Ini bukan masalah ‘kebatinan’. Ilmu sejati adalah pengetahuan jernih yang membeda­kan antara pengetahuan yang berkualitas buih-buih dengan pengetahuan yang berkualitas jernih. Antara pengetahuan yang memang membuat pemegangnya menjadi tahu, dengan pengetahuan yang sia-sia, yang boleh tidak ada karena ketiadaannya tidak merugikan dan keberadaannya tidak menguntungkan atau memberi hikmah.

Adapun pada dimensi mental fitri adalah tertanamnya akar istiqamah; kemendasaran, kekukuhan, konsistensi, kesetiaan, kecerahan dan keberanian. Kefitrian mental bisa digambarkan melalui ‘ke-alam-an Tuhan’ serta sunnah atau tradisi-Nya. Orang yang fitri mental bukan lantas gagah berani, melainkan sampainya seseorang pada hakikat dan syariat perilaku yang pada proses budaya harus ditempuh melalui keberanian dan membebaskan diri dari ketakutan.

Tetapi dengan puasa yang intensif manusia bisa tiba pada kondisi itu dengan posisi ‘pasca berani atau takut’. Matahari bersinar tidak karena ia berani bersinar. Pepohonan tumbuh bukan karena ia tak takut tumbuh. Manusia berjalan, berjuang, melawan ketidakadilan, bergulat melawan kekuasaan yang mengingkari Tuhan, dan lain sebagainya, tidak harus karena ia berani atau tidak takut, melainkan, sebagaimana matahari bersinar; ia memang dengan sendirinya harus melakukan itu semua. Itulah yang saya sebut ‘ke-alam-an Tuhan’.

Produksi dari tiga dimensi kefitrian itu adalah ekspresi dan aktualisasi moral manusia terhadap apapun saja yang dihadapinya dalam kehidupan.

Kematangan Kepribadian

Puasa yang dilakukan dengan benar dan intensif dalam dimensi badaniah, spiritual, intelektual dan mental, menghasilkan kemenangan-kemenangan kepribadian. Idul Fitri disebut Hari Raya Kemenangan karena sesudah 30 hari berjuang, manusia menemukan kemenang­an atas dirinya sendiri. Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia dibina untuk sanggup mempang­limai dirinya sendiri, sanggup melakukan pilihan-pilihan terbaik menurut pandangan Allah, baik dalam dalam soal-soal konsumsi hidup, karier, atau apa pun.

Akan tetapi harus dipahami bahwa kemenangan personal pada seseorang atau sekelompok orang, tidak menjamin bahwa ia juga sanggup menaklukkan kenyataan-kenyataan kolektif dan makro di mana ia terkurung. Kematangan pribadi seseorang yang diperolehnya dari disiplin puasa belum menjamin bahwa ia mampu mengatasi realitas-realitas struktural dalam sejarah yang dilibatinya. Seseorang yang sesudah shalat dan puasa berhasil menemukan kembali kebenaran dan kefitrian nilai di dalam dirinya, akan harus siap babak belur dan kalah ketika kemudian ia masuk ke pasar sejarah, ke birokrasi kantor, ke sistem-sistem sosial di mana manusia saling mengikat satu sama lain dalam pola tatanan kolektif yang seringkali tidak sejalan dengan nilai internal dirinya.

Dalam berbagai acara Ramadhan saya menjumpai kebanyakan keluhan dan kegelisahan para jama’ah yang menyangkut paradoks antara kesadaran pribadi mereka terhadap nilai-nilai baik dengan kondisi kongkret pengalaman hidup mereka, profesi mereka, perusahaan mereka, birokrasi kekuasaan mereka, korupsi sistematik dan kolusi otomatik dalam tatanan negara dan masyarakat mereka, dan seterusnya.

Di ujung setiap kegelisahan itu orang kembali bertanya; Untuk mengubah semua ini harus memulai dari sistemnyakah atau dari manusianya. Dan tampaknya tema itu merupakan isi kecemasan sejarah kontemporer kita. Seseorang bisa berjam-jam sujud ketika malam justru karena sebagai pimpinan di sebuah lembaga industri, secara sistematik ia tidak sanggup menghindarkan lembaganya itu dari ‘keharusan ekonomi’ untuk memproduksi hal-hal yang destruktif terhadap kesehatan mental, jiwa dan kebudayaan masyarakat.

Sesungguhnya kemenangan-kemenangan personal para hamba Allah pada Idul Fitri, harus dicambuk oleh kesadaran tentang kekalahan-kekalahan struktural global mereka di tengah sejarah. Bukan terutama kekalahan suatu pihak oleh pihak lain, bukan kekalahan arus nilai oleh arus nilai yang lain, tetapi terutama kekalahan manusia itu sendiri oleh sistem-sistem destruktif yang mereka ciptakan sendiri.


Dari buku Tuhan pun “Berpuasa”, 1997, diterbitkan oleh Penerbit Zaituna.

Apa yang tidak bisa dibawa ke kematian itulah yang tidak sejati, sehingga untuk apa mengejar-ngejar sampai begitu susah payah dan menyusahkan banyak orang.