Hantu dan Peci Reformasi

(“Untuk Saya Saja ya…”)

Jadi hantu, kadang nikmat kadang capek. Orang pasang macam-macam wajah di mukaku, padahal aku hantu Si Mukarata. Kepalaku menggelinding-gelinding melewati pagar-pagar. Ada yang lari terbirit-birit karena dia bilang aku mengajaknya tertawa “mringis”, sehingga aku digelari Hantu Glundhung Pringis. Padahal aslinya aku menangis.

Bagi diriku sendiri aku juga hantu. Kupikir aku kelapa, ternyata semangka. Tetapi di tengah aku berlaku sebagai semangka, ternyata aku kelapa. Ketika kemudian aku turuti fenomena kelapa, ternyata hanya blarak kering. Bahkan terkadang kujumpai diriku hanya serpihan sabut kotor baru karena barusan dipakai untuk “pèpèr”, pembersih anus seperti di hotel-hotel mewah. Sebagai manusia biasa sampai hari ini aku belum sanggup move on dari peradaban “cebok” ke peradaban “pèpèr” itu. Sungguh dekaden aku.

Hidup sebagai hantu itu nikmat ketika mancala putra mancala putri. Dilempar orang dengan batu karena dipikir aku kaca, padahal aku angin. Di saat lain ternyata batu itu aku sendiri. Kemudian orang menyimpulkan aku batu, maka “binuldozer”, tapi tak mengenaiku, sebab aku hinggap di kaki dan tangan orang yang nyetir bulldozer. Kalau perlu aku jongkok sembunyi di sudut hatinya, atau nggandhol di salah satu helai saraf otaknya. Literasi hantu tak ada batasnya. Sedangkan Dalang saja pun tak kurang-kurang lakon di tangannya.

Tapi susah juga jadi hantu pas disuruh tanam jagung padahal nggak ngerti jagung, sehingga tak diakui oleh pemilik sawah jagung. Disuruh mendorong truk mogok, setelah bisa jalan aku lupa berkenalan dengan sopirnya. Aku dijadikan sandal untuk melindungi kaki-kaki dari kotoran dan duri tajam. Setelah putus dan aus: ditinggal di beranda Masjid.

Disuruh ke Rumah Sakit ada orang koma tidak mati-mati, setelah kudatangi 20 menit kemudian menarik nafas terkahir. Kemudian istri Almarhum bertanya; “Berapa biayanya, Pak?”. Rupanya aku Dukun profesional. Orang datang ke rumah atau ketemu di warung, bertanya: “Kalau ngundang Sampeyan tarifnya berapa?”. Kalau yang nanya pakai peci atau serban istilahnya beda: “Bisyarohnya berapa?”

Beberapa waktu yang lalu di atas panggung stadion milik Pemda Uijeongbu Korea, bersama ratusan TKI yang datang dari seluruh Korea Selatan, aku menjelaskan kepada Dubes NKRI yang juga naik panggung:

“Pak Dubes, mereka semua ini memanggil saya Mbah. Semacam Kakek, Opa. Mereka tidak memanggil saya Syekh, Kiai, Ustadz atau Habib. Juga bukan Pak, sebagaimana kalau mereka mengundang orang penting dari tanah air. Jadi hubungan mereka dengan saya bukan hubungan profesional, kami ketemu tidak melalui proses transaksi keuangan. Juga tidak ada hubungan politik, tidak terkait dengan parpol, ormas dan apapun. Kami bertemu karena mereka adalah cucu-cucu saya yang saya sayangi. Entah hubungan apa itu namanya…”

Demikian juga kalau aku dengan istriku datang ke Hongkong, Taiwan, Macau, Malaysia dan Negara manapun yang kumpulan TKI-TKW meminta kedatangan kami. Semua proses “tawar-menawar” yang biasa mereka lakukan, kami tolak, termasuk urusan penjemputan di bandara, kendaraan ke penginapan, bahkan tak perlu hotel. Seadanya saja. “Kami mau datang mengunjungi kalian asalkan posisi kami adalah Ibu dan Bapak kalian”. Sekarang malah meningkat: Kakek dan Nenek.

Harap diketahui bahwa penolakanku untuk menjadi Kiai, Ustadz atau jenis ketokohan lainnya, bukan karena aku orang yang rendah hati. Melainkan semata-mata karena aku memang tidak punya kapasitas untuk itu. Sangat banyak dari kehidupan ini, terutama kehidupan modern di Abad 21, yang tak kupahami. Entitas atau satuan yang masih sedikit dekat dengan kemungkinanku untuk paham adalah Keluarga. Maka puji Tuhan secara alamiah mereka di mana-mana memanggilku Mbah.

Ini sangat menyelamatkanku dari berbagai tuntutan peradaban modern: kapabilitas, berkarakter, ekspertasi, kredibilitas, leadership, ilmu dan seni untuk mempengaruhi orang, kharismatis, punya integritas, berkomitmen tinggi, bersikap adil, beretika, tidak takut perubahan, apalagi sampai tingkat antisipatif terhadap segala proses asimetris.

Ya Allah betapa jadulnya aku. Kalau dalam suatu pertamuan denganku, yang hadir sepuluh orang saja sudah kusyukuri luar biasa. Aku ini hidup sekadar jangan menambah masalah orang. Syukur bisa membesarkan hati mereka untuk tangguh meneruskan hidup. Orang yang kelelahan kupijiti, meskipun lantas masyarakat menyimpulkan bahwa aku beralih profesi sebagai tukang pijit.

Aku shalawatan dan tahlilan dibilang NU. Aku berijtihad dibilang Muhammadiyah. Aku tiru satu dua Sunnah Rasul dibilang Wahabi. Aku shalat tidak pakai peci dibilang liberal. Aku rengeng-rengeng lagu anak-anak kuno “…rante kapal ayo pal, palu ariiit peee-kaaa-i ayo i…” – dibilang pro-PKI. Kuteruskan “…iwak babi ayo bi…bintang sabiiiit ma-syu-mi ayo mi…” dituduh melecehkan Masyumi karena dikaitkan dengan iwak babi. Padahal itu lagu aslinya dan folklore semacam itu tidak ada inter-relasi makna atau maksud antar kata atau kalimat.

Kalau Kartolo sang legenda uro-urowak sarinten klelegen ondho, cekap semanten piatur kulo”, itu bukan penghinaan kepada kaum perempuan, yang diceritakan perilakunya sedemikian rupa sehingga bisa ada “tangga” masuk ke tenggorokannya. Manusia abad 21 semakin kehilangan humor dan kemesraan.

Untung mereka tak peka bahwa aku seorang radikalis: dari seribu wanita kupilih hanya satu untuk kunikahi. Aku makan tidak dengan konsep kuliner. Puluhan tahun hidup beruntung tidak mengenal demokrasi. Sebab kalau atas hak asasi dan demokrasi, aku boleh tidur banyak-banyak dan berkeluarga sakinah, tidak harus melayani ribuan orang dari hari ke hari. Ilmu hidupku sederhana: lapar itu baik, kenyang itu kurang baik, kekenyangan itu tidak baik, kelaparan itu buruk. Tapi karena rumus itu aku di-bully: “Dibayar siapa itu ahli kesehatan dadakan?

Terkadang jengkel benar aku sama Tuhan. Hidup sekali kok ditaruh di tempat yang tidak pada tempatnya. Bikin warung Angkringan saja tidak becus, kok disuruh menjawab konsultasi tentang Migas, Bea Cukai, Pom Bensin, Sekolah Perwira, meredam Perang Suku, mencari akal agar ledakan “busung”, mendamaikan Gank-gank tawur, sakit kanker, istri minggat, membereskan kontroversi penduduk hal pendirian bandara baru internasional, atau orang pinjam modal.

Gusti Pengeran Allahumma tuhno, Allahumma tèkno…Turun dari pesawat, keluar dari bandara menuju kendaraan penjemput, diserobot seorang lelaki pincang sebelah kakinya: “Cak, istriku selingkuh, aku harus gimana?”.  Ini mestinya dialog dan konsultasi panjang di kantor. Tapi tak sempat mikir dan tak ada waktu, aku menjawab: “Pilih, mulia atau laki-laki”. Aku masuk kendaraan. Besoknya balik ke bandara itu lagi mau pakai first flight sehabis maiyahan sampai 04.00 plus salaman 4 jam. Turun mobil, diserobot lagi oleh si pincang dari gua hantu itu: “Cak, lanang!”, katanya, sambil menuding dadanya.

Tiap hari menyeterika bumi, lalu-lalang pindah-pindah tempat. Masuk bandara anak-anak cium tangan sebelum urus check in. Tiba-tiba bertanya: “Ada ID-nya, Cak?”. Sehabis acara diserbu kerumunan, cincinku ditarik dari jari manis, sendalku direbut, sisa kopiku diseruput, peciku dicuri. Seorang petugas keamanan berlari mengejar si penjambret peci. Berhasil merebutnya kembali. Datang kepadaku dengan wajah heroik. “Ini, Cak, pecinya sudah saya ambil kembali”. Kemudian wajahnya mendekat dan berbisik: “Untuk saya saja ya Cak…”. Benar-benar indah. Bagaikan Reformasi 1998.

Sekarang bukan hanya peci. Apa saja. Sampai hampir seluruh NKRI. Kupikir ada pahlawan menyelamatkannya dengan merebut dari penjambretnya. Ternyata ia berbisik “Untuk saya saja ya…”

Yogya, 17 Oktober 2017

Jadi hantu, kadang nikmat kadang capek. Orang pasang macam-macam wajah di mukaku, padahal aku hantu Si Mukarata. Kepalaku menggelinding-gelinding melewati…