Daur-II • 171

Bersegera Mengayomi

Padahal, kata Mbah Sot, tidak perlu proses pemikiran yang pelik, tidak perlu pengerahan kerja akal sampai memaksa dahi berkerenyit. Tinggal bersyukur dan menerima kerangka konteks dari Allah itu.

Kalau Allah menyatakan hanya Ia Yang Maha Mengetahui segala yang Ghaib, yang mampu membedakan antara yang ghaib dengan yang nyata, kemudian mewadahinya dengan kehadiran-Nya sebagai Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, atau di area lain Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang — tinggal ditarik garis antara yang nyata, yang gaib, dengan keadaan perkasa dan bijaksana. Disimulasikan keberlangsungannya dengan cara mengenali subjek-objeknya.

Siapa lagi. Model, acuan atau panutan subjeknya pastilah Sang Maha Subjek, yakni Allah itu sendiri. Kepada siapa? Tentu kepada makhluk-Nya. Misalnya Malaikat, mereka adalah representasi utuh dari keperkasaan dan kebijaksanaan. Alam adalah keindahan yang mewadahi dan menghiasinya. Binatang adalah tahap awal pembelajaran atau cermin agar manusia bisa mengangsur penyadaran atas dirinya. Sampai di ujung prosesnya manusia mencoba mencapai formula harmonisasi antara keperkasaan dengan kebijaksanaan.

Tuhan tidak menampilkan kemaha-perkasaan-Nya tanpa bersegera mengayomi manusia dengan kemaha-bijaksanaan-Nya. Keperkasaan tidak boleh dikerjakan atau diterapkan, kalau tidak lantas melahirkan kebijaksanaan. Hitunglah di Al-Qur`an berapa banyak komposisi aransemen Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Sementara manusia malas belajar. Merasa perkasa di antara alam dan hewan. Sehingga meremehkan kalimat Maha Tuan Besarnya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.  [1] (Luqman: 18).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra