Daur-II • 170

Hubungan Antara Ghaib dengan Kasih Sayang

Kata Mbah Sot dulu, keghaiban yang menjadi perbincangan sehari-hari sepanjang zaman pada kehidupan manusia, hanyalah dialektika kecil-kecil dalam proses pencarian manusia. Manusia yang tidak mencari adalah makhluk yang pada hakikatnya belum manusia: ia hanya hewan yang bergerak makan minum didorong oleh insting dan naluri, atau ‘larahan’ yang kintir di aliran sungai atau daun kering yang diterbangkan oleh angin.

Karena pada kenyataannya mayoritas manusia belum benar-benar beranjak dari tahap itu, maka imajinasi mereka tentang keghaiban hanya dikaitkan dengan pancaindera, terutama penglihatan dan pendengaran. Maka ufuk ghaib bagi kebanyakan manusia adalah hantu, Jin, setan, tempat-tempat angker, dan yang termewah adalah Malaikat dan Dewa-Dewa khayalan.

Memang manusia memperkembangkan ilmu dengan akalnya sampai ke tahap-tahap yang menggiurkan dan mengagumkan mereka sendiri. Tetapi sesungguhnya manusia keliru skala prioritas. Manusia tidak mencari yang secara hakiki seharusnya ia cari, sementara ia sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk mencari dan mengejar sesuatu yang semestinya tidak perlu mereka cari atau temukan. Demikianlah yang lazim disebut Peradaban Materialisme.

Bahkan para pecinta Al-Qur`an pun pada umumnya tidak bisa menarik garis antara keghaiban, keperkasaan, dan kebijaksanaan. Manusia tidak punya tradisi pembelajaran, apalagi Sekolah dan Universitas, yang memungkinkan mereka menarik garis di antara tiga hal itu. Maka tidak terpikir apa-apa juga ketika Allah menyatakan: “Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”. [1] (As-Sajdah: 6).

Setelah keperkasaan dan kebijaksanaan, berikutnya ada alur yang lain: keperkasaan dan kasih sayang. Pantas Mbah Sot sering tertawa terpingkal-pingkal.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra