Daur-II • 045

Berebut Hiasan Dunia

Mbah Sot berasal dari keluarga yang terbiasa menikmati hidup jelata karena dirahmati kemiskinan oleh Allah. Tatkala berangkat remaja, perhatiannya sangat peka terhadap hiasan-hiasan. Ia sangat termagnet oleh pemandangan di sana-sini di mana hampir semua orang berhias dunia. Dari baju kain halus dan seterikaan, sepeda yang dimotori sehingga mampu mencapai kecepatan tinggi, rumah dengan desain dan rupa penuh warna, hingga teknologi tinggi: internet, hotel berbintang, pesawat jet, atau sikat gigi yang bergerak sendiri menyapu gigi-gigi.

Tetapi semua itu tak terjangkau oleh keuangan keluarganya. Sehingga ia terdidik oleh kebiasaan hidup yang pada akhirnya mencapai suatu kondisi budaya di mana kesederhanaan adalah justru kemewahan baginya. Ia lewati tahun-tahun ingin berhias, tetapi karena tak sanggup membeli, akhirnya tidak berhias adalah hiasan yang senikmat-nikmatnya. Itu, kata Mbah Sot, bergantung pada bagaimana Iqra` atas lipatan-lipatan nilai dalam kehidupan.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”. [1] (Al-Kahfi: 7).

Ketika dewasa ia menyaksikan Negara membangun, dan semakin banyak yang mencuri biaya pembangunan. Perang di sana sini, perebutan harta benda dunia. Mbah Sot kebingungan: kibaran bendera kapitalisme global liberal, freemason dan illuminati,  proxy war, perang asimeteris, perlombaan penyempitan hidup.

Mbah Sot nyeletuk: “Oo, orang sedang berebut hiasan dunia”. Mbah Sot benar-benar gagal memahami perilaku penduduk bumi.  “Mungkin karena aku bukan bagian dari mereka”, katanya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra