Millata Hanifa

Millata Hanifa—diucapkan Millah Hanifa—adalah ungkapan cinta Sang Pencipta atas perjalanan seorang hamba yang memilih jalan lurus. Secara etimologis, millata berarti “jalan” dan hanifa berarti “benar”. Keduanya bersatu dalam sosok Ibrahim, sang Aba Rahm—“Bapak Rahmat”—yang justru dikenal karena keberaniannya memecah kebohongan kolektif dengan nurani dan akal yang jernih.
Pandangan-Nya yang tajam senantiasa menyaksikan perjuangan jatuh bangun seorang pemuda bernama Ibrahim dalam pencarian menemukan Sang Haq. Seperti jiwa muda di setiap zaman, ia tak mempan oleh “nina bobo” konformitas sosial. Ia menolak tradisi karena hatinya menolak apa yang tak bisa dibuktikan pengamatannya sendiri. Penyembahan berhala bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga tertolak oleh nurani.
Bagi Ibrahim, jika logika kolektif penyembahan adalah “kuat-kuatan”, maka menyembah patung batu sangat irasional. Bukan hanya karena patung itu hanya bisa mematung tak berdaya, tapi juga karena yang memahat patung itu adalah ayahnya sendiri dengan kapak besinya. Ibrahim juga menolak menyembah besi, sebab besi meleleh di tangan api, dan api pun ternyata bisa dipadamkan oleh air atau tanah. Selesai dengan yang di bumi, ia mencari-Nya di ufuk langit melalui bintang, bulan, dan matahari. Namun, ketiganya juga tunduk pada siklus alam. Terbit lalu tenggelam. Baginya, segala yang terikat waktu bukanlah Yang Abadi. Tak ada kekuatan absolut di alam yang layak dipertuhankan.
Ia menemukan Tuhan bahkan sebelum wahyu pertama diturunkan padanya. Ia menemukan-Nya melalui penolakan terhadap yang palsu. Akal dan hati membawanya pada satu kesimpulan: seisi alam ini tak satu-pun yang Tuhan, karena semua tunduk pada mula dan akhir. Tuhan sejati adalah pencipta itu semua, yang suci dari awal dan akhir. Kekal. Tunggal. Itulah Dia.
Tapi pencarian Ibrahim tidak berhenti pada penolakan terhadap benda-benda langit atau patung batu. Di balik deretan berhala yang disembah kaumnya, Ibrahim sebenarnya sedang berhadapan dengan sistem yang lebih kompleks: ada sekelompok elite yang menjaga kekuasaan, ritual yang digunakan untuk menjinakkan rakyat, serta pertarungan ekonomi dan status sosial yang disembunyikan di balik kedok agama palsu. Bagi Ibrahim, meruntuhkan berhala bukan sekadar menghancurkan batu, tapi memutus rantai hegemoni yang membelenggu manusia.
Di sinilah relevansi Ibrahim tidak pernah usang. Di awal 2026, Kenduri Cinta mencoba meneladani daya kritis Ibrahim dalam menempuh jalan kebenaran—Millata Hanifa—dari dua sisi: sosio-teologis. Artinya, tauhid yang tidak menutup mata, tapi juga sekaligus tak terbutakan oleh fenomena sosial. Tauhid yang menjadi ruang mesra bagi kebutuhan rohani, sekaligus basis kokoh bagi social order yang adil dan beradab.
Melalui proses perjalanan dialektis itu, di satu sisi Ibrahim menemukan sebuah epifania kudus sekaligus logis—yang sama-sekali bukan dogma, tapi pengetahuan dan pengalaman yang menuntunnya menemukan yang ia cari, Tuhannya. Tuhan yang mustahil diciptakan oleh makhluk, tetapi Yang Menciptakan semua yang diketahui dan dialaminya. Penemuan inilah yang membuatnya tersungkur dan menemukan kesadaran menyapa-Nya, meskipun belum dengan Nama-Nya, tetapi dengan Hakikat-Nya terhadap realitas materi dan beyond everything.
“Kuhadapkan wajahku kepada Dia yang telah membentangkan langit dan bumi dengan lurus (Hanifan), dan aku bukanlah termasuk mereka yang mempersekutukan-Nya.”
– Al-An’am: 79
Namun, jalan lurus itu tak pernah berakhir di pengakuan spiritual semata. Cepat atau lambat, kedigdayaan risalah Ibrahim membuatnya berhadapan dengan realita kuasa dunia. Di hadapan Raja Namrud, Ibrahim pun tetap digdaya, ketika beliau bersabda:
“Dia menerbitkan matahari dari Timur. Maka (kalau benar kau adalah Tandingan yang pantas bagi-Nya) maka terbitkanlah ia dari Barat. Dan terdiamlah si ingkar itu”
– Al Baqarah 258
Tentu saja setelah itu Ibrahim dihukum dengan hukuman mati dibakar. Namun Sang Kekasih berkehendak lain. Kuasa materi itu milik-Nya, argumen-Nya, bukan penggugur-Nya. Maka Ia perintahkan kepada agni untuk sementara, khusus bagi Ibrahim, untuk tidak menjadi dirinya. Mengapa? Karena semua yang ada hanyalah hamba-Nya. Dan Dia Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Kejadian ini menjadi proklamasi bahwa kekuatan fisik dan materi yang paling perkasa sekalipun akan tunduk di hadapan-Nya. Itulah hakikat ketulusan tauhid.
Dimenangkannya Ibrahim atas api itu menunjukkan bahwa berhala berbentuk fisik sangat mudah ditumbangkan oleh kuasa Tuhan. Namun, tantangan iman tidak berhenti pada kehancuran patung atau dinginnya api Namrud. Sejarah mengajarkan bahwa ketika musuh yang tampak sudah tiada, bahaya baru muncul dalam bentuk yang tak kasat mata.
Jika Ibrahim diuji dengan api yang membakar raga, manusia setelahnya sering kali “terbakar” oleh api yang lebih dingin namun tetap berbahaya: narsisisme, ketergantungan pada pengakuan, atau ilusi merasa paling benar. Di zaman kita, tak ada lagi tungku yang menyala, tak ada Namrud yang mengancam dengan pedang. Tapi justru di situlah letak kerumitannya. Ancamannya kini lebih halus: bukan lagi pemaksaan keyakinan secara kasar, melainkan pembentukan kenyamanan palsu—sebuah ruang di mana kita merasa sedang menyembah Tuhan, padahal sebenarnya kita hanya sedang memuja bayangan diri sendiri, ego, bayangan orang lain, citra palsu, berikut seribu satu jalan ambisi yang dipoles dengan bahasa langit.
Inilah sebabnya mengapa hari ini jalan lurus itu nyaris tak terlihat. Tidak hilang. Tapi, tertutup oleh kepungan berhala modern yang jauh lebih halus, ditingkahi gemuruh banjir bandang disinformasi. Setiap zaman ada berhalanya, setiap zaman punya nabi yang menyampaikan Millata Hanifa. Zaman Nabi Ibrahim, batu berhalanya. Zaman Nabi Musa, kekuasaan jadi berhalanya. Bahkan, legalisme agama diberhalakan pada zaman Nabi Isa. Bagaimana dengan umat Nabi Muhammad hingga zaman kita ini?
Berhala abad ke-21 telah berganti rupa; ia tak lagi kaku dalam bentuk patung, melainkan cair dan menyusup ke dalam cara kita berpikir. Ia adalah abstraksi yang kita pertuhankan tanpa sadar: ambisi yang menghalalkan segala cara, validasi publik yang dikejar layaknya rida Ilahi, atau rasa aman semu yang kita gantungkan pada materi. Yang paling berbahaya bukanlah apa yang kita lihat, melainkan apa yang kita agungkan di dalam batin—sering kali dilakukan justru atas nama pengabdian kepada-Nya.
Sering kali, kita membungkus berhala-berhala ini dengan istilah yang terdengar religius atau mulia. Ketergantungan emosional pada figur, obsesi pada status sosial, atau ketakutan berlebih pada opini manusia hanyalah alienasi spiritual yang disucikan, serta kalimat bijak yang tertata rapi, santun, namun sebenarnya diam-diam mengandung penentangan terhadap kebenaran-Nya. Kita merasa sedang mendekat kepada Tuhan, padahal kita sedang membangun perantara-perantara yang menghalangi cahaya-Nya. Kita lebih cemas kehilangan “restu” duniawi daripada kehilangan kejernihan iman, membuat hubungan kita dengan Sang Pencipta tidak lagi murni, seakan tersandera oleh makelar-makelar hakikat.
Padahal, fondasi iman kita sangat tegas: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” Ayat ini adalah sebuah revolusi kesadaran untuk meruntuhkan segala bentuk perbudakan batin kepada selain-Nya. Menghargai sarana itu perlu, belajar dari sesama itu wajib, namun pusat gravitasi jiwa tidak boleh bergeser. Ketika rasa takut pada kehilangan dunia atau celaan makhluk lebih mendominasi daripada kesadaran akan kehadiran Tuhan, di situlah kita sebenarnya telah mendirikan “patung” baru di dalam kuil hati kita sendiri.
Pertanyaan penting yang bisa kita ajukan adalah: apakah fragmen Ibrahimik itu sudah usai? Atau justru semakin relevan dengan kehidupan zaman now yang orang bilang tak seprimitif zaman Ibrahim?
Secara prinsip, Ibrahim telah meletakkan fondasi peradaban manusia yang menemukan dirinya dan penciptanya melalui pencarian secara sungguh-sungguh dan konsisten tentang hukum-hukum alam semesta di dalam jasad dan rohaninya. Ini sejalan dengan teorema dasar tasawuf: Man arafa nafsahu faqad arofa robbahu—barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.
Secara praksis, peradaban hari ini yang berkembang pesat atas bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi berawal dari skeptisisme, kritisisme, dan konsistensi untuk selalu bertanya—lalu mencari jawabannya dengan risiko apa pun, termasuk keselamatan dan nyawanya sendiri. Algoritma Ibrahim-lah yang menuntun manusia secara jasmani dan rohani, agar selamat dalam pencarian itu, dan tidak terjebak pada kesimpulan atau bahkan perlawanan palsu.
Spirit dan etos Ibrahim ini menjelaskan mengapa ajaran sholat yang dikukuhkan di zaman kenabian Nabi Muhammad tetap menyebut nama Ibrahim pada segmen Iftitah dan Tahiyyat -yang artinya persembahan ta’zhim pada-Nya. Tentu saja sah bagi sebuah pertanyaan kritis untuk menelitinya: apa fadhilah-nya? Mengapa? Apa relevansinya terhadap alam semesta dan fenomena sosial? Kita mayoritas masih gagap membaca fenomena Ibrahim dan merapal namanya tanpa mengadopsi algoritma Ibrahim itu sendiri.
Millata Hanifa adalah Jalan Cahaya. Millata Hanifa adalah Jalan Cinta. Penggenapan Cinta itu menjadi paripurna ketika Nabi Muhammad sebagai salah-satu putra Ibrahim kelak mendapat perintah untuk menggenapkan Iftitah Ibrahimiyah dengan persembahan paripurna itu:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Seluruh Alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).’”
– Al An’am 162-163
Maka genaplah iftitah itu menjadi paripurna. Bagian pertama adalah Iftitah Ibrahimiyah, dan bagian kedua adalah Iftitah Muhammadiyah. Atas inilah hamba-hamba beriman diperintahkan berkenduri, bergembira. Firman-Nya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”
– Yunus 58
Di sinilah pentingnya membedakan menuhankan dan memberhalakan. Dalam tulisannya yang berjudul “Memberhalakan Tuhan”, Cak Nun mendefinisikan bahwa menuhankan-Nya adalah ketika kita berada dalam hubungan riil dengan-Nya sebagai Sosok Yang Maha: kepada-Nya kita berserah diri, tunduk, bertobat, berbuat baik, dan bertindak adil, karena sadar bahwa Allah adalah Maha Nyata, Maha Hidup, dan Maha Melihat. Ini hubungan hidup—otentik, mutual, dinamis, personal, dan tak bisa diwakilkan. Ini relasi mutual uluhiyah dan rububiyah. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Di sisi lain, memberhalakan Tuhan adalah ketika kita membangun sosok khayali yang kita anggap Tuhan dalam alam imaji, yang meskipun tidak terbuat dari batu, namun ia tak kita hiraukan sama-sekali, dan tak berperan apapun dalam hidup kita, kecuali sesekali kita teriakkan namanya ketika dendam kesumat menggelora, sekaligus sebagai sumber pembenaran bisu atas gemuruh dan sepak terjang nafsu angkara serta ketamakan duniawi kita. Ini tak lain hanyalah dimensi Nafsiyah—dimensi dangkal dalam psyche manusia tempat halusinasi dimana nafsu sering disangka ilham, atau bahkan wahyu. Na’udzubillahi min dzalik.
Syekh Nur Samad Kamba, dalam salah satu edisi Kenduri Cinta bersama Cak Nun, mengingatkan lima prinsip jalan kenabian yang bisa menjadi kompas di tengah pekatnya kabut gemuruh nafsiyah ini: independensi (tak bergantung pada selain Allah dalam urusan akidah), penyucian jiwa (membersihkan nafsu dari keterikatan duniawi), kearifan (memadukan akal, hati, dan wahyu), amanah (jujur, bertanggung jawab, tak mengklaim kebenaran mutlak), dan cinta kasih (karena jalan Ibrahim adalah jalan rahmat, bukan kesumat). Lima hal ini adalah penjaga agar kita tak jatuh dari jalan lurus ke jalan kultus.
Maiyah, dalam semangat ini, tak menawarkan pengagungan buta kepada tokoh yang dikarbit untuk dikuduskan bagi tujuan dunia, baik dengan algoritma media sosial atau tidak. Ia menawarkan ruang untuk bertanya, berbagi resah dalam ragu dan mencari—seperti Ibrahim yang berani mempertanyakan bintang, bulan, dan matahari. Karena iman yang utuh bukan yang dibangun di atas kebodohan dan ketaatan buta. Tapi di atas pencarian pribadi yang jujur, yang berani menguji segalanya dengan nurani, akal, dan hati yang bersih. Justru dalam rangkaian tanya yang tulus itulah, cahaya kebenaran muncul.
Maka dii tengah kepungan berhala tak kasat mata dalam kurun waktu kita ini, satu pertanyaan mungkin layak kita tanyakan pada diri sendiri sebagai cermin: Apa yang paling saya takut kehilangan? Allah—atau berhala yang kita beri label dengan membajak Nama-Nya?
Tiada satu-pun makhluk yang sanggup menjawabnya, karena Millata Hanifa Ibrahim sekaligus juga adalah maqam tinggi yang tak tersentuh kegaduhan peradaban manusia. Itu sebabnya ia adalah jalan yang sunyi, sesunyi ufuk langit dimana rasi bintang syi’ra yang ditatap oleh Sang Ibrahim Muda tergantung di atas cakrawala. Tapi di dalam kesunyian Millata Hanifa itulah, kasunyatan-Nya terdengar dengan sangat jelas, bahkan bagi hamba melata seperti kita.
