CakNun.com
Tadabbur Hari ini (31)

Tafsir Baku Al-Fatihah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيم
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

(Al-Fatihah: 1-7)

Membaca Al-Fatihah rasanya berbeda ketika keadaan hidup kita sedang nyaman dan lumayan bahagia, dibanding ketika kita sedang sumpeg, galau atau frustrasi karena problem yang tak henti-henti menimpa.

Berbeda juga ketika kita dalam keadaan sehat wal afiat atau sedang sakit. Bahkan Al-Fatihah rasanya tidak sama ketika kita kanak-kanak dulu, kemudian remaja lantas dewasa, dibandingkan dengan tatkala usia sudah senja.

Demikian juga berbagai keadaan diri dan kehidupan di luar diri kita, baik sekadar situasi keluarga, tetangga, masyarakat atau negara. Setiap manusia menjalani dirinya masing-masing, sehingga amat sangat sedikit sesuatu yang bisa dibakukan di antara mereka.

Bahkan tidak usah yang mendalam-mendalam dan yang menyangkut multi-konteks dan multi-tema kehidupan manusia. Al-Fatihah dibaca ketika shalat dluhur rasanya berbeda dibanding ketika shalat maghrib atau senja. Berbeda pula pada shalat malam, kemudian tidak sama pula pada shalat Subuh.

Kalau jumlah penduduk bumi 7 miliar manusia, maka terdapat 7 miliar macam juga keluaran atau output perjumpaannya dengan Al-Fatihah. Jangankan Al-Fatihah dan Al-Qur`an, sedangkan angin sejuk yang berhembus tidak bisa dijamin terasa sejuk pada orang yang badannya sedang tidak sehat.

Mungkin kita mengidentifikasikan itu sebagai “refleksi subyektif”. Sementara tafsir obyektif atas Al-Fatihah kita optimis ada pada pemikiran para Mufassir, Ulama, Asatidz, Cendekiawan, serta Kiai-kiai. Apapun keadaan dan situasi subjektif manusia, kalau bisa tetap punya standar objektivitas tafsir dari para pakar.

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا

Terjemahan resminya: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 148).

Mustahil penerjemahan ini keliru. Semua penerjemah dan penafsir Al-Qur`an sudah teruji matang oleh sekian metodologi dan praksis ujian-ujian. Tapi anak kalimat pertama ayat di atas bukan “wa li kulli ummatin wijhatun”, sehingga diterjemahkan “bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri)”. Kata-katanya hanya “wa likullin”, tidak pakai “ummat”. Kayaknya ia berlaku lebih universal. Tidak diikat oleh kesempitan konstelasi antara ummat-ummat yang berbeda, misalnya Ummat Islam, Ummat Kristiani, Ummat Hindu dll. Wallahu a’lamu bis-shawab. Siapa tahu maksud Allah adalah bahwa setiap dan segala sesuatu (benda, perkara, peristiwa, fenomena dll) masing-masing menghadapi “kiblat”nya sendiri-sendiri. Udara angkasa adalah “wijhah”nya burung-burung. Air laut atau sungai adalah “kiblat”nya masyarakat ikan.

Yang harus dihadapi bumi adalah atmosfer dan panas matahari. Setiap “mur” ada “baut”nya dengan ukuran sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Lombok dan brambang menghadap atau berhadapan dengan layah dan huleg-huleg. Demikian juga hal-hal lain yang tak terbatas pada kehidupan manusia. Wijhah setiap Negara adalah globalisasi, kapitalisme liberal, hedonisme budaya, IT dll. hingga AI.

Dan itu merupakan landasan untuk “fastabiqul khairat”. Berlomba-lomba membangun atau memproduksi kebaikan. Di segala bidang. Dari hal peribadatan, bebrayan sosial budaya, olahraga, pendidikan, silaturahmi kemanusiaan, bahkan pertanian dan pasar, hingga politik, kekuasaan dan perekonomian.

Agama Islam dengan firman-firman dalam Al-Qur`an merangkum segala hal dalam kehidupan manusia. Bahkan tidak ada bagian apapun dan menapun dari hidup ini yang tidak disentuh atau tidak relevan dengan firman-firman Allah.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.“ (Al-Baqarah: 26).

Jadi kayaknya ayat “walikullin wijhatun” di atas tidak hanya menyangkut ummat beragama, masyarakat yang berbeda-beda, parpol-parpol dan ormas-ormas, PBB, KPK, BPK, Muhammadiyah dan yang raksasa-raksasa lainnya. Melainkan juga tentang nyamuk di air tergenang yang kotor, gathul, semut, uget-uget dan apapun biar sekecil “dzarrah” dan seremeh debu pada pandangan manusia,

Begitulah Al-Qur`an. Apalagi Ibunya: Al-Fatihah, Ummul Qur`an.

Emha Ainun Nadjib
29 Mei 2023.

Lainnya

Suka-Suka Tuhan lah

Suka-Suka Tuhan lah

Tetapi jangan kaget memang mungkin ada yang menanggapi: “Ya semau-mau Tuhan lah”. “Suka-suka Allah dong”. “Innallaha ‘ala kulli syai-in Qadir”.

Kerapuhan Psikologis dan Wudlu Kehidupan

Kerapuhan Psikologis
dan Wudlu Kehidupan

Kita tenang-tenang saja. Seakan-akan pasti aman sampai Kiamat. Tidak mungkin terjadi hal-hal yang di luar perkiraan kita. Sampai suatu hari “mak bedunduk”. “Innallaha Khobirun bima ta’malun”.