CakNun.com
Tadabbur Hari ini (35)

Hidayah Tak Terhingga

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيم
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

(Al-Fatihah: 1-7)

Ketika akhirnya anak bungsu saya mau bersekolah di PAUD, dan oleh Bu Gurunya mulai dikenalkan pada angka, ia melaporkan kepada Ibunya bahwa angka yang paling menarik baginya adalah 8 (delapan). Kenapa? Ibunya bertanya. Ia menjawab: “Sebab tidak ada akhirnya”. Kalau ia menulis angka delapan, bisa diteruskan mengikuti garisnya tanpa ada ujungnya. Beda dengan 1,2,3, bahkan 9, yang ada ujungnya.

Lama-lama, ketika saya semakin tua, baru saya sadari bahwa delapan (yang biasanya dibaringkan) adalah gambar atau lambang “infinity”, sesuatu yang tidak ada akhir atau ujungnya.

Hanya Allah sendiri yang mengerti dan menentukan sifat-Nya “Huwal Awwalu wal Akhiru”. Tetapi selain Allah tidak mungkin paham apa yang dimaksud Allah dengan Maha Akhir. Karena akhir itu absolut misterius dan tak terjangkau. Apa yang ada sesudah akhir? Kekosongan? Kehampaan? Apa itu kosong dan hampa? Kita tahunya ruang kosong atau ruang hampa, tapi harus tetap ada ruang.

Dan kita ngertinya ruang yang terbatas, ruang dengan batas yang memisahkan di dalamnya dengan yang di luarnya, meskipun kita tidak mampu mengukur di mana batasnya. Tetapi di luar batas itu kita bayangkan tetap ruang. Kita tidak bisa membayangkan sesudah garis terakhir dari ruang: lha di luar itu apa? Kita hanya bisa membayangkan bahwa di luar batas ruang pastilah juga ruang yang lain atau berikutnya. Kalau tidak ruang di luar batas ruang, otak kita tidak bisa mengidentifikasikannya.

Manusia hanya mampu memahami yang “seperti”, atau segala sesuatu yang ada sepertinya, padanannya, simbolisasinya, pembayangannya, perbandingannya. Kalau Allah Swt. adalah “laisa kamitslihi syai`un”, kita kehilangan jejak pengetahuan. Ditambah lagi “walam yakun laHu kufuwan ahad”.

Jadi, sudahlah, kita menyerah saja kepada Allah. Kalah. Pasrah. Give up. Mungkin itulah yang dimaksud Islam.

Juga kita berislam sesungguhnya terhadap apa saja yang Ia ciptakan atau ungkapkan. Aslinya kita tidak pernah sungguh-sunggguh mengerti Al-Fatihah. Makna Al-Fatihah pasti tak terhingga. Ayatnya tujuh (7), tahunya kita kalau diteruskan adalah 8. Infinity. Tak terhingga.

Maka segala yang Allah limpahkan, umpamanya “hidayah”, juga infinity. Bangsa Jawa mengistilahkan “tan kinaya ngapa, tak kena kinira”. Tidak seperti apapun dan tidak bisa disentuh oleh perkiraan yang bagaimanapun. Hidayah Allah, yang sering dibahasakan menjadi “petunjuk”, “ilham”, “inspirasi” atau apapun — luasannya, rentangannya, cakrawalanya, detail dan kelembutannya, makro mikronya, seluas ruang yang juga tak ada batasnya.

Bismillahirrahmanirrahim” bisa kita coba maknai atau tafsirkan atau tadabburi, tetapi semua buku yang kita hasilkan dari upaya itu pada hakikatnya hanya “dhann”, hanya perkiraan, hanya sangka-sangka, hanya “clue” dari asumsi-asumsi. Maka kalau kita sampai terlibat perdebatan menafsirkan atau mentadabburi Al-Fatihah dan Al-Qur`an, itu semata-mata bukti kekonyolan kemanusiaan kita.

Pun “Alhamdu lillahi Rabbil’alamin”. Kita menikmatinya, tapi tidak menjadi produktif atau signifikan untuk meng-egosentris-kan pendapat kita dan beradu di antara kita. “Al’alamin” saja pecah kepala kita. Tidak hanya “al’alam” tapi “al’alamin”. Tidak hanya satu alam, satu semesta, satu jagat raya, melainkan banyak alam-alam, semesta-semesta, jagat-jagat. Dan, coba rumuskan: Banyak itu berapa?

Sejak Copernicus hingga Einstein dan Hawking, sesudah “bigbang”, dipercaya bahwa alam semesta itu terus berkembang dan memuai. Dari kita pikir “al’alam” sampai ternyata “al’alamin”.

Dan bahwa “Arrahmanirrahim, Maliki yaumiddin, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, ihdinashshirathal mustaqim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdlubi ‘alaihim waladhdhoooollin” adalah sesuatu yang engkau jangan sangka bisa rangkum semesta-semesta makna dan hikmahnya.

Maka puncak akhlaq dan ilmu manusia, puncak kebudayaan bangsa dan peradaban ummat manusia adalah “sujud”. Kita mengaku bodoh di hadapan Allah. Kita tawadldlu’. Berendah hati. Tegak “takbiratul ihram” meneguhkan keyakinan kepada-Nya. Kemudian transisi ke “ruku’”, membungkukkan eksistensi kita. Dan puncaknya adalah “bersujud” di kerendahan yang paling bawah.

وَأُلۡقِيَٱلسَّحَرَةُسَٰجِدِينَ

“Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud”. (Al-A’raf: 120).

Kita ini, tukang-tukang sihir kebudayaan, penyihir-penyihir materialisme peradaban, penggendam-penggendam kekuasaan politik, manipulator-manipulator pencitraan, pentakhayul dan mitolog-mitolog identitas, hanya punya satu kemungkinan di hadapan masa depan yang tak seorangpun tahu di antara kita.

Kemungkinan itu sangat pasti dan absolut. Ialah “bersujud”. Atau kalau memilih tenang-tenang saja, maka “fantadhiris-sa’ah”. Nantikan momentum itu sekonyong-konyong menimpamu.

Emha Ainun Nadjib.
3 Juni 2023.

Lainnya

“Kita Tahu Isi Pikiran Tuhan”

“Kita Tahu Isi Pikiran Tuhan”

Ketika Pak Hawking menyatakan “Tidak perlu meminta Tuhan untuk mengatur bagaimana alam semesta bekerja”, kita tidak membantah atau menyalahkan.

Alfatihah Mukibat Mujaer

Alfatihah Mukibat Mujaer

Tampaknya logis kalau tradisi sanad ilmu Islam tidak bersentuhan dengan “’allamal insana ma lam ya’lam”. Allah mengajari manusia segala sesuatu yang ia tidak atau belum tahu.