CakNun.com

27 Tahun Kado Muhammad: Cahaya yang Menyelusup ke Mana Saja

Kalau ada orang ujug-ujug datang kepada Anda dan bertanya, “apa album rekaman Indonesia terbaik menurut sampeyan?” Kira-kira Anda akan menjawab apa? Kemungkinan jawaban yang muncul pasti beragam. Mungkin ada yang menyebut album Pandawa Lima dari Dewa 19, mungkin juga ada yang menyebut album Ningrat dari Jamrud, atau album Begadang karya Rhoma Irama.

Judul-judul album lain yang besar kemungkinan muncul dalam jawaban Anda adalah karya-karya Iwan Fals, God Bless, Sheila on 7, Noah, Ebiet G. Ade, atau Koes Plus. Satu pertanyaan dapat melahirkan jawaban yang berbeda-beda. Saya pun kalau ditanya seperti itu juga punya jawaban sendiri: album Kado Muhammad dari Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng.

Album Kado Muhammad ini pertama kali saya dengar di akhir masa saya bersekolah SMA, sekitar tahun 1996. Ayah saya, entah bagaimana ceritanya, suatu sore tiba-tiba mengulurkan kaset Kado Muhammad itu kepada saya. Konon kaset itu pemberian temannya. Saya yang sedang tergila-gila mendengarkan musik rock macam Van Halen, Iron Maiden, dan Sepultura, tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap kaset itu. Saya buka kotaknya. Saya letakkan kasetnya di meja sembari melihat-lihat sleeve-nya. (Ini kebiasaan jaman dulu, ketika album musik berbicara dan dinilai tak hanya melalui lagu atau komposisi musiknya saja namun juga dari garapan sampul albumnya).

Dalam sleeve album berwarna dominan cokelat itu ada lirik lagu dan pengantar yang ditulis Emha sendiri. Pengantar yang menarik dan rendah hati. Bikin tersenyum. Emha menulis: “Ini kaset tegur sapa antar hati manusia. Insya Allah bukan kaset ‘karier’. Bukan musik-musik eksistensi saya atau KiaiKanjeng. Juga bukan nomer-nomer ‘unjuk kebolehan’ — sebab yang banyak kita ‘miliki’ justru adalah ketidakbolehan-ketidakbolehan.”

Saya iseng masukkan kaset ke pemutar tape, dan apa yang saya alami berikutnya adalah rangkaian pengalaman yang menakjubkan yang terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Untuk alasan-alasan berikut ini, saya tak sungkan untuk menyebut Kado Muhammad ini adalah salah satu album (musik) Indonesia terbaik yang pernah lahir.

  1. Kado Muhammad adalah album yang solid. Meski sepertinya tidak diniatkan sebagai sebuah album konsep (padanannya misalnya The Darkside of the Moon dari Pink Floyd untuk album luar, atau OST Badai Pasti Berlalu untuk album dalam negeri), saya melihat bahwa album ini adalah album konsep di mana satu nomer dan nomer lain rekat dan terikat dalam sebuah tema besar yang sama. Kita bisa menyebut tema itu adalah kecintaan dan kerinduan kepada Allah dan Rasulullah, pemihakan kepada rakyat kecil yang mengalami peminggiran dan ketertindasan, juga pilihan untuk berani melawan arus besar dan melangkah di jalan yang diyakini meski tersisih.
  2. Kado Muhammad adalah album yang penuh warna. Sebagian pendengar album ini mungkin akan langsung tertarik perhatiannya pada nomor pertama, Tombo Ati, sebuah nomer yang syahdu, menentramkan, dan cocok didengar di segala suasana. Lagu yang enak didendangkan atau disenandungkan lirih sembari merenung atau melakukan kegiatan lain. Tombo Ati pernah begitu populer dan identik dengan Emha dan Kiai Kanjeng, sehingga hadirin selalu meminta agar nomor ini dibawakan saat pementasan, hingga beberapa waktu kemudian industri musik merengkuhnya dan menyematkan nomor ini pada sekian penyanyi lain. Sesungguhnya Tombo Ati, nomor paling kuat di album ini, “hanya” pembuka kepada nomer-nomer lain sesudahnya, yang masing-masing memiliki kekuatannya masing-masing. Di tiap-tiap lagu itu Cak Nun — sapaan akrab Emha Ainun Nadjib — berselang-seling antara menyanyi, bershalawat (suaranya merdu, serasa menembus kalbu), dan membacakan puisinya. Vokal Cak Nun dan lagu/shalawat/puisi yang ia dendangkan terdengar menyatu/kawin dengan musik yang diolah oleh Kiai Kanjeng, menghasilkan pengalaman menyimak yang tak biasa bagi pendengar album itu.
  3. Dari banyak testimoni, dalam kebersahajaannya, Kado Muhammad adalah album yang membawa banyak pengaruh bagi pendengarnya. Pengaruh yang paling mudah dilihat adalah sejak rilisnya album ini, bermunculanlah ratusan, atau mungkin ribuan kelompok sholawat di berbagai penjuru tanah air, yang seperti Kiai Kanjeng, mengusung perpaduan musik dan shalawat. Kelompok-kelompok seperti itu mudah ditemukan di berbagai pelosok desa maupun pojok-pojok urban. Tak hanya mengidentifikasi diri dengan grup shalawat ala Kiai Kanjeng, mereka juga membawakan nomor-nomor Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam pementasannya. Pengaruh lain, dari kesaksian beberapa orang yang saya ketahui, album Kado Muhammad itu mengubah hidup mereka. Ini adalah hal yang menarik. Kado Muhammad, yang pengerjaannya dilakukan di Misty Studio, Jogjakarta tahun 1996 itu, menjadi kawan akrab bagi pendengarnya untuk — meminjam istilah Cak Nun sendiri — istirah sejenak, mengendapkan hati dan bernyanyi. Bahkan lebih dari itu, dengan cara yang rileks, album ini benar-benar membawa pendengarnya untuk melakukan perenungan hidup sehingga mereka bisa “menjernihkan pikiran, menata hati, menemukan kesalahan-kesalahan sendiri agar tidak mengulanginya lagi”.
  4. Menilik pengerjaannya, Kado Muhammad adalah album yang “ajaib”. Ada cerita menarik soal proses bagaimana album ini dibuat. Album ini dikerjakan setengah spontan. Dalam beberapa nomor, komposisi musik telah dibuat, lalu di dalam studio, Cak Nun meresponnya dengan puisi-puisi yang telah ia tulis sebelumnya. Nah, dalam sebagian yang lain, komposisi belum ada. Baru di studio itulah Kiai Kanjeng melakukan jamming, berimprovisasi menggubah lagu bersama Cak Nun, dan dalam saat yang sama, ketika sebuah nomer muncul, Cak Nun spontan mengisinya dengan puisi/lirik yang ia ciptakan saat itu juga. Proses yang amat tak biasa. Cak Nun menyebut proses itu sebagai mengandalkan takdir Tuhan.

Tahun ini genap 27 tahun sudah Kado Muhammad hadir ke tengah-tengah kita. Bagi perjalanan Cak Nun dan Kiai Kanjeng, album ini adalah penanda penting yang menjadi salah satu tonggak bagi perjalanan mereka di tahun-tahun berikutnya. Format bermusik, berpuisi, dan berproses yang terjadi dalam Kado Muhammad kemudian dengan kreatif juga diejawantahkan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam kehadirannya di tengah-tengah masyarakat banyak hingga belasan tahun kemudian. Masyarakat umum bisa jadi tak terlalu banyak yang kenal album ini. Terlebih di tengah arus industri musik dan kebudayaan tanah air yang mengagungkan kemasan daripada isi, memuja kebanalan bukannya kebaikan.

Kado Muhammad sangat mungkin akan ketlisut dan terlupakan. Dan itu tak mengurangi sedikitpun keistimewaan album ini. Ia bagus karena memang bagus. Ia hadir, bercahaya, dan membawa perubahan hingga hari ini. Dan tak berlebihan kiranya apabila saya juga meyakini bahwa ia akan terus bercahaya hingga berlipat tahun di masa depan.

Lainnya

Meng-Alam-i Maiyah

Meng-Alam-i Maiyah

Dalam rentang waktu kehidupan manusia tak bisa luput dari alam semesta,yang menjadi tempat tinggal manusia.

Tradisi “Urip Iku Urup”

Tradisi “Urip Iku Urup”

Apakah mudah mempertahankan itu semua? Untuk apa? Apa gunanya duduk berjam-jam semalaman? Apa gunanya ngobrol ngalor ngidul tanpa juntrung?