Tenis Meja Mens Sano in Corpore Sana

Foto: CZ (Dok. Progress)

Tiga bulan lalu, kawan-kawan di Rumah Maiyah Kadipiro menyelenggarakan turnamen tenis meja atau pingpong tingkat lokal. Lokal Jalan Barokah 287 Kadipiro. Saya dikontak untuk bisa hadir dan ikut menyaksikan acara turnamen tersebut. Tak lupa ada juga seremonial pembukaan acara dengan pertandingan pembukaan antara Cak Nun dan saya.

Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi di mana saya bermain tenis meja melawan Cak Nun. Disaksikan oleh Mbak Via, Jembar, dan Rampak. Ternyata beliau fasih juga memukul bola pingpong yang ukurannya sangat kecil bila dibandingkan dengan bola sepak, kesukaan beliau waktu masih muda dulu.

Saya pun sangat niat dengan membawa bed pingpong andalan saya. Bed ini memang saya simpan sudah beberapa tahun. Saya bikin dengan bahan karet spesial, driver tempest untuk menyerang dan super sriver untuk bertahan. Saya membelinya atas saran sahabat lama saya, Mas Guntur, seorang bekas atlet DIY. Atlet seangkatan atlet nasional Gunawan Sutedja. Pernah saya menyaksikan keduanya bermain, berlatih, dan bertanding di arena pingpong di SGO (Sekolah Guru Olahraga), di sekitar Suryaden, Jalan Bantul. Tempat saya pernah belajar pingpong dengan benar, dilatih oleh Pak Sumartidjo. Beliau adalah pelatih sekaligus wasit tenis meja tingkat nasional.

Perbedaan bahan karet di bed pingpong tersebut selain warnanya, adalah pada efek ketika kita memukul bola pingpong, menyangkut masalah speed (power), spin dan control terhadap bola pingpong yang sedang dimainkan.

Tidak seperti waktu zaman SD-SMP saya bermain pingpong di ledhok Winongo. Di kampung kami ada sebuah meja pingpong bikinan sendiri yang diletakkan di depan rumah Mas Marno. Setiap siang sampai sore selalu ramai akamsi (anak kampung sini) berkumpul di sekitar meja pingpong, menyaksikan teman-temannya bermain dan sekaligus menunggu giliran kapan bermain. Mereka bersorak bila melihat para pemain saling serang, saling melakukan smash.

Yang masih sangat saya ingat adalah musuh bebuyutan saya yaitu Kang Sihono, yang memiliki gaya khas dalam membuat serve. Kang Sihono mempunyai istilah khusus dalam bermain pingpong manakala dia dicurangi. Misalnya ketika bola smash dari dia masuk menyentuh pinggiran meja, dan lawannya bilang bahwa bola itu keluar, maka Kang Sihono diam saja. Namun pada serve berikutnya ketika sang lawan kehilangan poin maka kang Sihono selalu bilang: ‘bondho suci’. Kira-kira maknanya adalah kecurangan pasti akan selalu terbalaskan.

Di dalam tinjauan kesehatan, olahraga apapun (termasuk pingpong) mempunyai beberapa manfaat. Selain unsur gerak badan (olah fisik), pingpong juga mempunyai unsur rekreatif. Ada unsur gembira, ada unsur katarsis. Dari tinjauan sosiologis, ajang pingpong ini menarik massa untuk berkumpul, dan kemudian di situ ada interaksi sosial-emosional, sehingga timbul ide-ide untuk membangun kampung. Memajukan kampung. Rencana kerja bakti, jadwal ronda bahkan jadwal rencana kegiatan Ramadhan langgar Al-Amin di kampung saya.

Ada juga tinjauan lain yang berpijak pada kalimat yang berasal dari mahakarya pujangga Romawi pada abad kedua, Decimus Lunius Juvenalis, dalam Satire X, yaitu “Mens Sana in Corpore Sano”. Ungkapan ini sangatlah tidak asing dan banyak digunakan untuk jargon olahraga dan kesehatan di seluruh dunia.  Lalu apa arti kalimat itu? ‘Di dalam badan yang sehat, ada jiwa yang sehat’. Bila dinalar, memang benar kalimat itu. Bahwa di dalam badan yang sehat (baca tidak sakit) akan terdapat jiwa yang sehat. Kalau kita sedang demam dan batuk, maka kita akan jadi malas, uring-uringan (karena nggak bisa dolan dan beraktivitas yang lain). Dengan kata lain adalah bila badan kita sakit maka jiwa kita ikut sakit. Gitu, kan?

Marilah kita tinjau dan kita renungkan, berapa banyak masyarakat kita yang badannya sehat tetapi jiwanya sakit. Arogan, mau menangnya sendiri, tega terhadap rakyat kecil, berbohong, sombong, menyakiti hati, ingkar janji, dan macam-macam lainnya. Fenomena ini bisa kita lihat di lapisan masyarakat manapun.

Atau ini, kita lihat yang lebih gampang dan nyata, marilah kita lihat fenomena orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Bahasa awamnya adalah ‘wong edan’ yang suka jalan wira-wiri di jalan dengan pakaian compang-camping, bahkan sering tanpa pakaian.

Kita renungkan fakta ini. Apakah ODGJ tersebut pernah sakit secara fisik? Batuk? Pilek? Mriyang? Padahal makannya tak tentu. Hampir pasti tak sehat makannya, tetapi tetap saja sehat secara fisik. Bahkan aktivitas fisiknya bisa jadi melebihi orang biasa. Berjalan kesana-kemari, tidur beralas tanah dan beratap langit. Panas dan hujan tak menjadi halangan baginya.

Jiwanya sakit tetapi fisiknya sehat. Apalagi kalau jiwanya sehat. Lalu apakah bukan menjadi ‘Mens Sano in Corpore Sana’?