CakNun.com

Sesosok Makhluk Bernama
Novi Budianto

Pengantar Pameran “Madhep Mantep” Novi Budianto

Pengantar

Mulai 19 hingga 30 November 2022, bertempat di Pendhapa Art Space Yogyakarta, Pak Nevi Budianto KiaiKanjeng menggelar pameran tunggal bertajuk “Madhep Mantep”. Saat pembukaan pameran pada 19 November 2022 sore hari, Mbah Nun diminta memberikan sambutan dan membuka secara resmi pameran tersebut. Selain itu, Mbah Nun diminta menuliskan pengantar untuk pameran Pak Nevi ini. Berikut tulisan Mbah Nun berjudul “Sesosok Makhluk Bernama Novi Budianto.”

Saya tidak bisa menyebut peristiwa “Madhep Mantep” di Art Space ini sebagai “Pameran Lukisan” atau “Pameran Karya Rupa” atau “Pameran Ekspresi Visual” atau kategorisasi apapun sebagaimana umumnya aktivitas seni budaya masyarakat. Maka saya setuju informasi dan poster kegiatan ini hanya menyebut “Pameran Tunggal” dengan subyek dan judulnya.

Foto Novi Budianto, salh satu pendiri KiaiKanjeng pada saat masa muda.
Novi Budianto

Meskipun saya juga tidak akan serta merta menyalahkan andaikan ini disebut “Pameran Lukisan”, sehingga semua orang akan bersentuhan dengannya malalui pemahaman dan ilmu seni lukisan dan sekitarnya: alirannya, genrenya, atau berbagai term yang menyertainya. Tetapi saya tidak mau mempersempit eksitensi Novi Budianto dengan idiom atau terminologi yang terlalu teknis kasat mata seperti itu. Minimal “Madhep Mantep” ini adalah “Pameran Salah Satu Level Penampakan” sesosok makhluk yang kita mengenalnya sebagai Novi Budianto. Sebab ada sisi dan level-level lain penampakan makhluk antik ini yang bisa dikatakan lebih dahsyat dan memiliki kandungan makna-makna dan nilai-nilai yang lebih mendalam, ragam, dan supra-dimensional.

Misalnya Nevi sebagai Maestro penemu multi-genre musik KiaiKanjeng, yang di tengah 30 tahun kiprahnya keliling hampir sampai ke 5.000 titik di Indonesia dan dunia, tatkala pentas di Islamic News of Excellent di London, British — Gordon Brown (yang menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris ketika itu), sesudah menyaksikan pementasan KiaiKanjeng menyatakan “seharusnya masyarakat dan politik dunia diatur sebagaimana KiaiKanjeng memanage musiknya, pelaku, alat-alat dan hasil bunyinya”.

Pernyataan Gordon Brown itu mustahil dipahami oleh dunia sekarang, apalagi oleh Indonesia, yang Pendidikan kemanusiaan dan kebangsaannya sudah dirusak sejak 1855. Yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam yang juga sudah kehilangan substansi dan keutuhannya sejak abad 11 Perang Salib dan dipuncaki perusakan pandangan atas dirinya sendiri oleh Renaissance abad 16-17. Kemudian dirayakan kebusukan dan kebosokannya sejak 1945.

Oleh karena itu demi Tuhan saya tidak akan meneruskan informasi dan pemikiran tentang yang barusan saya ungkap itu. Siapa yang tidak “awang-awangen” untuk menelusuri apa saja yang terdapat di jarak antara musik KiaiKanjeng dengan “manajemen global”. Menemukan jejak telapak kaki Nusantara menjelang gonjang-ganjing sebentar lagi hingga 2024 saja kita tidak becus.

Maka kalau saya menuliskannya, akan menambah komplikasi, bias-bias, dan keruwetan. Sedangkan dunia sekarang, yang sudah dipersempit urusannya, didangkalkan, diremeh-temehkan dan diperendah level nilainya — sudah akan menghasilkan perang dunia, perang nuklir dan biologi, serta Auto-Kiamat yang diinisiatifi sendiri oleh para stakeholder dunia.

Jadi nikmati saja guratan-guratan Novi Budianto di Pameran “Madhep Mantep” ini secara otentik dan “nriman” apa adanya dengan latar belakang sejarah, wacana, dan pemahaman Anda masing-masing. Tidak perlu belajar atau mempelajari apa-apa untuk menikmati “Madhep Mantep”. Kalaupun ada pesan saya, hanya satu: tuluskan hatimu, merdekakan isi pikiranmu dari berbagai macam intervensi dan penjajahan dari kiri kanan dan seputarmu, yang dekat maupun jauh, lokal maupun global.

Nevi “ngiguh” karya-karyanya sampai ke Pameran di Art Space ini dengan madhep mantep sepenuh-penuhnya. Dia tidak akan terpengaruh oleh apapun saja pendapat atau persepsi kita. Bahkan saking madhep-mantepnya, Nevi juga sudah sangat terlatih untuk tidak menengok kiri kanan atau samping dan belakang.

Syukur Anda mau sedikit tahu bahwa Nevi bukanlah seorang perupa yang sedang berpameran karya-karya goresannya. Nevi bukanlah seseorang sebagaimana yang disangka oleh kebanyakan orang. Nevi adalah sesosok makhluk yang diciptakan tanpa ada duanya. Hanya satu sejagat raya.***

Yogyakarta
7 November 2022

Lainnya

Raksasa, Pegawai, mBilung

Raksasa, Pegawai, mBilung

Patangpuluhan, Minggu keempat Mei 1990

TAMU jauh kita itu pada hakikatnya mengidap tiga kegelisahan yang ia sadari dan tiga kegelisahan yang tak ia sadari.

Ngono Yo Ngono 
Nanging Ojo Ngono

Ngono Yo Ngono 
Nanging Ojo Ngono

Setiap orang hari ini memang dianjurkan atau diseyogyakan untuk membangun sendiri di dalam hati dan pikirannya kesadaran lockdown atas hidupnya, disuruh atau tidak oleh pihak manapun.