Pelesetan

Esai ini dimuat dalam Majalah Tempo, 23 Februari 1991

Bahasa pelesetan sedang kambuh di Yogya. Naluri memelesetkan kata menular ke berbagai kalangan pergaulan, juga ke forum diskusi dan pementasan kesenian.

Kalau orang pidato menyebut Sri Sultan Hamengkubuwono, seseorang nyeletuk “Buwono Sudarsono”! Kalau penyair baca sajak “Disapu angin….”, terdengar suara “Angin Rais”! Kalau baca puisinya kepanjangan, hadirin teriak “Gedawan! Gedawan!”, dan satu oknum menyambung “Gedawan Mohamad”, serta lainnya “Gedawan Solo”! dan “Gedawan Durna”!

Pelesetan, Majalah Tempo, 23 Februari 1991

Kalau di lesehan Malioboro Anda mendengar pembeli minta “to school! to school!”, itu perpadatan dari ayam goreng to school yang dipelesetkan berdasar I am going to school.

Sering kali pelesetan itu bersambung-sambung dari orang ke orang. Kata krambil, artinya kelapa, yang oleh lidah Yogya diucapkan “kambil”, akan dilanjutkan menjadi “Kambil menyelam minum air”. Air? Air love you. Kemudian love you sebelum berkembang. Kalau ada kompor meledak alias njeblug, reaksi orang ialah “Njeblug and the Beautiful”, film seri televisi The Bold and the Beautiful itu. Janganlah sekali-kali menyebut nama Umar Kayam, karena tergolong pelesetan elementer untuk diteruskan kayam goreng, goreng petruk….

Belum diteliti apakah naluri pelesetan diam-diam merefleksikan kenyataan bahwa banyak nilai telah selalu dipelesetkan, hukum dipelesetkan, makna denotasi setiap kata memang terbiasa terpeleset-pelesetkan di jalanan licin eufemisme kultur yang kita cintai bersama ini.

Saya sendiri sering terpeleset dalam memilih bahasa dan memilih modus ekspresi atau perilaku sehingga realitas, yang saya pahami dalam “sunyi” di batin saya, gagal saya hantarkan kepada orang lain. Kalau keterpelesetan itu menggesek kepentingan kekuasaan negara, risikonya sederhana: ditegur, disensor, diajak silaturahmi meskipun itu disebut interogasi, atau paling jauh diamankan. Tapi kalau keterpelesetan itu menyangkut Tuhan, Nabi, atau agama, efeknya bersifat “pelesetologis”. Yang marah kepada saya adalah para “pemilik” Tuhan, Nabi, dan agama; yang menabrak saya adalah kapasitas pemahaman orang tentang Tuhan, Nabi, dan agama; sehingga terkadang saya hampir terlepeset untuk “menghafalkan” bahwa merekalah Tuhan, Nabi, dan agama.

Kemungkinan besar budaya pelesetan — dengan multi-wajah kaca benggalanya — merupakan salah satu historical discource yang serius untuk diperhatikan.

Mungkin juga tidak. Gejala pelesetan mungkin sekadar modus paling populer dari pembebasan. Kita gagal mengatasi terlalu banyak persoalan sehingga kita berusaha lari: pembebasan diri hanya bisa diselenggarakan dengan eskapisme. Perlawanan empirik tak bisa, jadi ya perlawanan psikologis saja, itu pun berlangsung dalam skala subyektif. Dan untuk tidak merasa malu oleh kekalahan, kita carikan filosofinya dan kita dramatisasikan. Potensi eskapisme model begini muncul melalui jenis estetika seni, maniak diskusi, konsumtivisme atas benda-benda, juga tradisi overestimasi terhadap banyak gejala yang kita sangka gejala keagamaan.

Terserahlah. Biarlah para pujangga dan kaum empu yang memfatwai kita soal itu. Saya sendiri sedang bernikmat-nikmat mendengar pelesetan sana pelesetan sini di Yogya. Kalau “Abdurahman Wahing” pasti bunyinya “Ehnnnnn. Ehuuuuuuuuu!”. Ketika Habibie menjelaskan kepengurusan struktur matriks, anak-anak di rumah teriak — “Matrik aku”, soalnya orang Jawa menyebut “mati aku” dengan “matik aku”.

Apakah kita sudah capek bersedih dan bingung? Baru saja penyiar televisi melaporkan dengan pilu, ratusan penduduk sipil Irak tumpas oleh bom Amerika, orang-orang meratap-nyanyi — “Wahai, Perang Teluk! Teluk cium! Cium wanara! Wanara masjid!”

Dan ketika sebagai penyanyi kasidah, saya mendayu-dayukan “Ya Habibie, Ya Habibie….”, lantas saya transfer menjadi rock ’n roll dengan “Oh, ICMI! Icmi Aziz ! Aziz Mukhaffafah! Oh, ICMI, I Love you, you you kangkang!” Tiba-tiba seorang rekan wartawan datang membawa berkas-berkas yang ia peroleh dari temu pers pengumuman daftar pengurus ICMI.

Kami serumah kaget “setelah” mati karena ternyata nama saya tercantum di situ sebagai Ketua Bidang Dialog Kebudayaan. Saya menjadi sangat tegang dan gemetar. Itu soal kecil bagi Habibie, bagi ICMI, dan bagi siapa saja. Tapi saya tegang dan gemetar. Kami seisi rumah berdiskusi sepanjang malam.

Aku berkata seperti dalam film-film serius: “Aku ingin bertanya kenapa aku tak diberi tahu, kenapa aku tak ditanya mau duduk di situ atau tidak tapi aku takut. Aku ingin menolak karena aku tahu diri, aku tahu ketidakmampuanku, tapi aku takut. Aku ingin bilang itu bukan maqam-ku, tapi aku takut. Aku ingin mengatakan bahwa kesanggupanku satu-satunya sekarang ini ialah belajar kembali menulis puisi, tapi aku takut. Aku takut dan sunyi. Aku takut kepadamu, kepada engkau semua. Aku sunyi darimu, dari engkau semua.”