Mensyukuri Anugerah Teladan

Fuadus-Sab’ah, Jombang, Juli 2017 (Foto Adin | Dok. Progress)

Sejak masih dalam kandungan, seseoarang sudah dianjurkan untuk dilatih mendengarkan sesuatu. Entah itu melalui komunikasi dengan orangtuanya, suara-suara musik yang lembut, maupun suara murottal Al-Qur’an. Menurut ilmu pengetahuan, janin dalam kandungan sudah mampu menangkap suara-suara dari luar.

Tanggung Jawab Tutur Kata dan Perilaku Kita

Meminjam bahasa Mas Sabrang dalam dialognya bersama Mbah Sujiwo Tejo bahwa informasi paling mudah masuk melalui indera pendengaran. Pasalnya, tanpa berniat mendapatkan informasi tersebut pun, telinga kita bisa menangkap suara-suara yang muncul. Informasi melalui suara bisa saja tertangkap oleh telinga kita, sekalipun kita belum sempat mempersilakannya. Itulah kemudian di antara alasan yang mendorong Mas Sabrang untuk menekuni bidang yang erat kaitannya dengan suara, musik.

Saking kuatnya kekuatan suara, tak jarang ketika kita sedang terlelap tidur, dan ada suara dari luar, suara-suara tersebut pun bisa turut menghiasi bunga tidur kita. Ketika ada yang sedang bercakap-cakap misalnya, tak jarang percakapan tersebut ikut masuk dalam mimpi kita.

Yang perlu digarisbawahi, meskipun informasi melalui suara ini berpeluang lebih cepat tertangkap oleh kita, tetapi untuk mendapatkan informasi lebih detail, kita masih memerlukan yang namanya indera penglihatan. Sebut saja saat kita mendengar suara “Duarrrr…”, dalam benak kita akan muncul banyak kemungkinan yang masih menduga-duga. Apakah itu ban meletus, apakah ada orang yang terjatuh, suara tembakankah, atau kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Di sini lah kita memerlukan bantuan penglihatan untuk mengonfirmasi kebenarannya.

Artinya, di sini baik suara maupun gambaran visual sama-sama mempunyai peran yang penting untuk menyumbangkan sebuah informasi, sebuah kabar. Dan artinya lagi, sebagai makhluk yang dibekali kemampuan untuk menyumbangkan suara dan memperlihatkan gerak-gerik perilaku, sesungguhnya kita pun secara tidak langsung juga bertanggung jawab akan informasi yang kita munculkan dari diri kita sendiri.

Anugerah Teladan

Merupakan nikmat dan kemurahan Tuhan yang sungguh tak terkira, ketika Tuhan mengirimkan sosok-sosok yang bisa kita jadikan teladan. Jika masyarakat zaman dulu diberikan kesempatan langsung untuk melihat dan mendengar keindahan perilaku manusia agung, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang tak jarang kita mengenal beliau sebagai visualisasi Al-Qur’an berjalan. Maka, menjadi anugerah yang tak terkira, ketika Tuhan masih memberikan kesempatan untuk kita melihat, menemui, dan belajar banyak dari sosok yang mampu meneladani Kanjeng Nabi tersebut. Ini semua merupakan nikmat informasi yang teramat mahal dan berharga.

Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya jika kita tak lagi diberikan kesempatan melihat, menemui, dan belajar dari sosok-sosok seperti itu. Kita tidak mendapatkan informasi-informasi mengenai kebajikan-kebajikan yang tervisualisaikan dengan baik, benar, dan indah, akankah kita masih mampu menyerap pelajaran-pelajaran kebaikan dengan baik juga? Akankah kita masih diberikan bocoran keagungan sifat makhluk pilihan, kekasih Tuhan? Akankah kita masih mampu juga meneruskan estafet informasi-informasi kebajikan tersebut? Sedang tak jarang, apa yang keluar dari diri kita adalah hasil yang kita olah dari apa yang kita dapatkan. Kita dengar, lihat, dan pikirkan.

Terima kasih kepada Ustadz Fuad, yang sedikit banyak telah menyumbangkan banyak informasi kebajikan sebagai teladan sekaligus memberikan gambaran dan mencontohkan bagaimana keagungan sifat Kanjeng Nabi.

Keselarasan antara apa yang dituturkan dengan apa yang diperlihatkan lewat perilaku beliau. Sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan mengambil sikap, agar tak sampai menyakiti bahkan memberatkan yang lain. Padahal, beliau sendiri selalu total ketika berbagi untuk orang lain. Terlebih dalam berbagi ilmu, beliau selalu tampak bersungguh-sungguh. Di usia beliau yang memasuki kepala tujuh, beliau tetap berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam menyampaikan ilmu. Di saat yang seusia beliau atau bahkan ada yang lebih muda lebih memilih meminta yuniornya untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis karena masih belum terbiasa mengikuti perkembangan teknologi, namun tidak dengan beliau. ‘Hanya’ sekadar untuk kajian rutin pun beliau lebih memilih untuk mengikuti teknologi zoom, membuat PPT, bahkan beliau juga mempersiapkan silabusnya. Apa saja yang akan beliau sampaikan dalam kajian tersebut, apa goals-nya.

Tak jarang diri ini yang masih jauh lebih muda, malu sendiri melihat semangat dan totalitas beliau. Hingga akhirnya, segala do’a baik tercurahkan kepada Ustadz Fuad dan keluarga, semoga senantiasa dijaga, disehatkan lahir batinnya, dilimpahruahi dengan kasih sayang Tuhan. Meski rasanya teramat malu jika memohon diberikan mampu meneladani beliau, tapi hati kecil tak mampu dibohongi. Duh Gusti, mampukan kami. Izinkan kami menjadi bagian dari orang-orang yang terkumpul dengan para kekasih-Mu.

Sugeng tanggap warsa, Ustadz. Barakallah fii ‘umrik wa umuurik. Dan terima kasih buat semua yang telah Ustadz berikan.