Kemoterapi Kombinasi Puasa

Ketika kita berbicara masalah ‘pahala’ atas apa yang kita perbuat, kita jalani dan kita kerjakan, maka (menurut saya) seolah kita sedang bertransaksi dagang dengan Tuhan. Apalagi yang menyangkut pahala puasa. Padahal Allah sendiri dalam sebuah hadits qudsi berfirman, “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Sudah jelas bahkan sangat jelas dalam hadits qudsi tersebut.

Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Kalau ibadah lain bisa dilihat jejak digitalnya, bisa direkam audio maupun visualnya. Syahadat bisa direkam. Sholat, zakat, dan ibadah haji bisa dilihat buktinya dengan audio visual, bahkan bisa dipakai untuk tampil di sosmed. Lha kalau puasa, apakah bisa direkam audio visualnya? Apakah kelihatan pada suara dan apakah bisa dipotret? Maka semakin menambah kuat keyakinan kita bahwa ibadah puasa ini hanya untuk Allah saja. Hak prerogatif Allah. Lha wong Allah saja berpuasa kok! (tentang hal ini bisa dibaca dalam tulisan Cak Nun berjudul Dan Tuhan pun Bepuasa).

Yang bisa saya lakukan adalah mencari-cari rahasia di balik puasa ini menurut disiplin ilmu yang saya tekuni. Kalau dalam tulisan yang lain saya pernah membahas tentang beberapa fenomena puasa dalam hubungannya dengan biologi manusia, maka yang ini pun tak jauh dari situ. Dalam dunia kedokteran terutama dalam cabang ilmu yang mempelajari tentang penyakit ganas, didapati bahwa pola makan dan gaya hidup adalah dua faktor utama yang meningkatkan risiko kanker.

Timbulnya jenis kanker tertentu, seperti kanker kolorektal (kanker di usus besar dan di dubur) dan kanker payudara, telah menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kebiasaan ini (pola makan). Mestinya kalau kita makan sebatas yang kita perlukan, tak berlebihan seperti dituntunkan oleh Nabi Muhammad Saw., maka insyaAllah kita terhindar dari penyakit ini. Ini manfaat puasa ditinjau dari faktor penyebab keganasan.

Lalu bagaimana puasa ditinjau dari sisi pengobatan?

Seperti kita ketahui bersama, ada tiga modalitas utama dalam pengobatan kanker yaitu pembedahan (operasi), radioterapi (terapi sinar), dan kemoterapi (dengan obat-obatan). Kemoterapi sendiri diberikan secara sitemik ke dalam tubuh yang juga akan mempengaruhi sel-sel yang sehat ikut kena imbasnya. Lalu apa peran puasa? Apakah puasa akan menghalangi kemoterapi, karena dengan puasa badan menjadi lapar dan tidak fit? Ataukah justru puasa bisa berperan dalam menunjang proses kemoterapi ini?

Dalam sebuah penelitian multisenter yang dilakukan oleh peneliti dari Jerman, Itali, dan Amerika Serikat, dan dipublikasikan pada 2012, dihasilkan bahwa dibandingkan dengan salah satu strategi saja, kemoterapi kombinasi puasa lebih efektif dalam menunda perkembangan berbagai tumor dan mengurangi jumlah organ yang terlibat akibat kanker kulit yang menyebar.

Pada penelitiaan tentang kanker payudara, neuroblastoma , dan kanker kolorektal dengan menggunakan model tikus ini menunjukkan bahwa puasa dapat memperpanjang kelangsungan hidup secara keseluruhan dengan melindungi sel-sel sehat dari kemoterapi sambil secara efektif menghambat perkembangan tumornya. Tentu masih banyak penelitian yang mencoba melihat apa makna puasa dalam hubungannya dengan penyakit dan tentu dalam kaitannya dengan kesehatan.

Saya sendiri merasa menjadi sangat bodoh melihat fenomena ini. Biarlah saya menjalaninya dengan kemampuan saya. Tak akan menghitung pahala apapun, karena itu hanya Allah yang akan menentukannya. Karena dalam puasa ini, ketika saya sembunyi-sembunyi mampir ke warung untuk jajan, makan dan minum, tak ada orang yang melihat dan tahu. Tapi Allah Maha Melihat sesuatu. Saya terinspirasi oleh kata-kata Cak Nun, “Tidak usah mengharap pahala, yang penting asal Tuhan tidak marah pada saya.”

Saya teruskan saja (belajar) puasa ini.

Ada dua kebahagiaan orang yang berpuasa: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya. Aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak misik.

Yogyakarta, 14 April 2022