Jamaah Ngadiluhung

Alhamdulillah, makjlig nyampai Rumah Maiyah. Sudah banyak jamaah yang hadir, rata-rata berpakaian putih, terang benderang.

Seorang kawan memanggil saya. Alhamdulillah lagi, bisa lungguh egaliter dengan dulur-dulur Maiyah kombinasi (lama dan baru kenal). Saling salam kami lakukan, saling memperkenalkan diri, saling senyum, dan saling mengulik kabar. Maklum, agak lama tidak bertemu, otomatis mereunikan diri.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Sejurus kemudian, saya mendengar dengan jelas Simbah Ngendikan. Alhamdulillah sak pole, lega hati ini, lunas kangen saya, gembira, sekaligus ayem. “Alhamdulillah Simbah sehat,” kata batin saya. “Semoga semakin sehat dan afiat seperti sediakala,” kata batin saya lagi. Amin.

Jamaah masih terus berdatangan, multi ageman dan berbagai usia. Kegembiraan saya bertambah tebal, kesyukuran saya pada Tawassulan Milad Simbah ke-69 semakin dalam. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, tiada daya dan kekuatan selain dari sisi-Nya.

Tetiba saya ingat “Ilmu Srawung” temuan teman-teman Nahdlatul Muhammadiyyin. Ada 5 fase metodologi Srawung di sana. Pertama, srawung. Bergaul, pergaulan, memperluas pergaulan dengan siapa saja apa saja, dengan meninggalkan “keakuan” diri.

Kedua, tepung. Sesudah bergaul, otomatis akan mengenal, tahu, siapa saja apa saja yang ada pada dunia pasrawungan. Ketiga, dunung.

Saat tahu, kemudian muncul semacam data “ketepatan” identitas hasil identifikasi, potensi, karakter, kemampuan, dari dan pada siapa saja apa saja.

Keempat, tetulung. Ketepatan identifikasi ini kemudian diolah menjadi sinergi kebaikan, dalam bentuk tolong-menolong secara bersama. Kelima, ngadiluhung. Dengan bekal tolong-menolong, bersama-sama berbuat baik, maka dengan sendirinya terkreasi suatu keadaan kemuliaan, adiluhung bersama, bersama dalam tingginya kualitas hidup, bebrayan agung, baik pada lingkar keluarga, masyarakat, dan dunia.

Setiap srawung akan tepung, ketika tepung akan dunung, setiap dunung wajib tetulung, dengan tetulung akan terwujud adiluhung, kemenangan bersama. Tetapi jangan lupa, bekal pokok dari 5 fase Ilmu Srawung adalah “suwung”, menanggalkan “keakuan” diri, egosentrisme individu, sehingga yang terus ada dan tumbuh dalam pikiran kita adalah nalar publik (kedewasaan berpikir untuk kebaikan semua/orang banyak).

“Lik, kopi? Teh?” kawan saya menawari.

“Sembarang Bung, opowae enak kok,” respons saya.

Lho, bagaimana tidak begitu, bagaimana tidak “opo wae enak” di situasi ngadiluhung bersama-sama ini. Apa saja jadi “nyess di hati”. Bagi saya 27 Mei 2022 malam itu adalah malam penuh lantunan do’a keterbaikan bagi Simbah dan semua yang hadir. Malam penuh cinta dan mencintai. Malam penghambaan yang total kepada-Nya. Yang mudah-mudahan Anda (pembaca) yang hadir juga merasakan hal yang sama dengan saya. Rasa-rasanya, bahkan saya tidak ingin mendengar kalimat penutup di acara ini.

Duh, eh tapi…sesuatu kalau berlebihan kan tidak pas juga. Baik lah kalau begitu, kembali saya ceritakan kepada Anda.

Whuss… Meski agak susah memperbanyak obrolan dengan kawan-kawan selingkar saya duduk, kami toh tetap mencuri-curi waktu saling bertanya, di sela-sela lantunan shalawat, pada jeda di antara “bacaan” yang kami baca, kami saling bercerita, saling mendengar. Sesekali tawa kecil menghias raut wajah kami. Alhamdulillah atas perkenan-Mu kami bertemu kembali.

Alhamdulillah atas perkenan-Mu saya punya “PR” lagi, pertanyaan-pertanyaan yang harusnya saya sampaikan ke teman-teman selingkar duduk malam itu. Apa iya teman-teman mau jika saya tawarkan laku “ndunung, tetulung, ngadiluhung” bersama-sama?

Toh kita sudah tepung, masuk dan berada di fase ke-2 metodologi Ilmu Srawung. Toh bukan tidak mungkin kita bisa menjadi Jamaah Ngadiluhung bersama-sama dengan bersama-sama. Ah, bukan suatu hil yang mustahal kok. Bismillah, gass dan semoga, amiin amin amin, insyaAllah.