Black Hole

Alhamdulillah, segala pujian kita persembahkan kepada Allah, pencipta semesta Jagad Raya. Juga shalawat senantiasa kita haturkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

Talango, Sumenep, Madura, 26 Agustus 2019. Foto: Adin (Dok. Progress)

Bagaimana mungkin kita tidak bersyukur atas segala nikmat pun barokah yang Allah limpahkan kepada seluruh ciptaan-Nya. Ditambah lagi kenikmatan itu dengan wujud ketenteraman hati dalam “Jannatul Maiyah”.

Di dalam Jannatul Maiyah berduyun-duyun manusia hadir dengan membawa segala beban persoalan hidup, yang tentu tidak mudah “dighembol” akibat terlalu beratnya problema multi super kompleks.

Maiyahan, begitulah masyarakat mengucapkan-nya. Kerumunan manusia dari segala penjuru desa ataupun kota datang memenuhi lapangan luas, muda mudi berbondong-bondong seperti orang berangkat shalat Hari Raya Idul Fitri.

Ibu menggendong bayi, kakek nenek ditemani sanak keluarga, semua datang demi mendapatkan Cahaya Ilman nafi’an yang telah lama digelapkan oleh pembodohan.

تَوَسَّلْنَا بِالْمَعِيَه . وَسِرِّ اَهْلِ الْمَعِيَهْ

بِنُوْرِالله ذِي الْمَعِيَهْ . شَفَاعَة لِلْمَعِيَهْ

Manusia berkumpul dalam pekatnya malam, menyambungkan frekuensi dengan semesta alam. Para rahasia kekasih Allah srawung menghibur kesunyian. Terbitlah Sinar Tuhan menerangi kegelapan. Belaian Nur Muhammad mengusap ubun-ubun menjelma pertolongan, teduh damai dalam kebersamaan.

Niat tawashshul Sungkem Ta’dhim kepada leluhur para kekasih rahasia Allah. Nuwun sewu, monggo mundur sejenak ke zaman Majapahit, Para Wali sebelum hingga sesudah Wali Songo, lanjut ke Sayyid Imam Zahid (makamnya di area Sayyid Sulaiman) terus ke Sayyid Muhammad bin Abdul Lathif, Sayyidah Halimah, Sayyidah Rohmah. Juga Mbah Umar “Sang Robin Hood”, Sayyid Muhammad Ikhsan, dari komplek Makam Sunan Bonang, dipindah ke Sentono Arum (Ronopati, Mentoro, Sumiboto, Jombang) makam keluarga Besar, Ndalem Kasepuhan Padhangmbulan.

Dulu saat Mbah Nun masih usia belasan tahun, beliau pernah dipanggil oleh Sayyid Muhammad (Ayah Mbah Nun) untuk menggali tanah di halaman Ndalem Padhangmbulan, dengan bekal petunjuk arah dari Sayyid Muhammad. Beliau berjalan menuju titik tanah yang akan digali. Setelah penggalian tanah mencapai kedalaman tertentu, beliau menemukan botol kaca. Kemudian diambil benda itu sambil membersihkannya. Dan, ternyata di dalam isi botol itu terlihat bungkusan kain aneh. Lalu beliau kembali menghadap Sayyid Muhammad yang telah menunggunya. “Buntelan” itu dilepas kemudian dibuang begitu saja. Setelah dicuci bersih botol itu dibawa pergi ke toko untuk membeli minyak tanah.

Beberapa tahun ini sejak kami Maiyahan sering menyaksikan hal-hal aneh, apalagi saat sinau bareng bersama Mbah Nun dan Kiaikanjeng berlangsung. Di situ kami benar-benar diperlihatkan tentang sesuatu yang sulit diterima nalar. Pernah di salah satu pelosok desa Lamongan, kami lupa nama dusun-nya, saat pertengahan Mbah Nun menyampaikan pencerahan “Wedar Elmu”, tiba-tiba dari belakang panggung kami mendengar bunyi ledakan yang bukan dari listrik atau genset. Bunyi ledakan itu sangat keras dan terasa beda dan sangat tidak wajar. Andai dari aliran listrik tentu sudah padam lampu saat itu. Ledakan itu datang secara beruntun. Akibat mendengar ledakan itu kami refleks bergegas lari kedepan dan bershalawat dengan sekeras kerasnya. Semua jamaah yang mendengar spontan menjawab dengan shalawat pula.

Tanpa jeda waktu bersamaan dengan teriakan jawaban shalawat, mendadak di belakang panggung terdengar teriakan histeris seorang jamaah perempuan yang ditemani oleh beberapa santriwati. Kebetulan yang punya hajat pengajian adalah seorang pengasuh pondok pesantren di sekitar desa tersebut. Akibat mendengar suara kerumunan itu, Mas Islamiyanto vokalis KiaiKanjeng datang dan membantu jamaah yang sedang tidak sadarkan diri tersebut. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain takut juga tak punya keilmuan tentang itu. Dengan tenang Mas Islamiyanto membacakan ayat-ayat dengan suara lirih, tidak sampai berapa menit langsung spontan sadar jamaah tersebut. Teman-teman santriwati sangat senang melihat sahabatnya sadarkan diri dari “kesurupan” yang dialami dengan nyata. Lalu Mas Islamiyanto kembali ke panggung seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah Sinau Bareng selesai, Mbah Nun dihaturkan mampir sejenak ke transit Pesantren. Beberapa santri yang turut menyaksikan kejadian tadi telah berkumpul bersama Kyai dan Ibu Nyai-nya. Lalu kami ditanya tentang ledakan dan kejadian itu. Kami menceritakan apa adanya. Lalu Pak Kyai itu tersenyum seolah telah mengerti apa maksud ledakan yang terjadi saat Sinau Bareng berlangsung.

Pak Kyai dan Mbah Nun tetap santai dan tenang sembari menikmati kopi serta hidangan ringan lainnya. Tentu masih banyak lagi kisah kisah serupa bahkan lebih dahsyat dari kejadian di atas tadi.

Jannatul Maiyah tak dapat ditembus oleh ilmu atau rumus apapun, kecuali hanya bungkus luarnya saja. Semua ilmu penuh keterbatasan, sekalipun miliaran ilmu mencoba menembusnya. Segala ilmu hanya berputar putar di sekitar “lingkaran Maiyah” (Black Hole).

Namun sekali lagi, bukan berarti ilmu tidak diperlukan, justru dengan ilmu itulah kita dapat mengerti tentang batas. Seperti jarum dicelupkan ke dalam samudera, air hanya nempel sangat sedikit di permukaan saja. Maiyah hanya bisa ditembus dengan Kemurnian Tauhid serta Jernihnya Cinta dan Kasih Sayang.

إِلَهِي أَنْتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي أَعْطِنِيْ مَحَبَّـتَكَ وَمَعْرِفَتَك

Artinya : Tuhanku hanya Engkaulah yang kumaksud dan hanya keridlaan-Mu lah yang kucari, berilah daku kemampuan untuk mencintai-Mu dan ma’rifat kepada-Mu.

Surabaya, 30/09/22