Bahasa Garis Pak Eko Tunas

Di galeri Sewusiji, Jl. Gatot Subroto Debong Kulon Tegal, pada tanggal 5-14 Maret 2022 akan digelar pameran tunggal lukisan Eko Tunas. Kurator lukisan ini, Andi Kustomo memberi judul pameran ini dengan Re-Discovery. “Re-Discovery bisa diartikan menemukan kembali. Saya kan lebih pelukis dibanding sastrawan dan teaterwan. Saya belajar melukis di Asri Yogja dan di IKIP N Semarang, bergabung di sanggar Bambu dan melakukan beberapa pameran lukisan. Setelah lama tidak melukis kemudian saya melukis lagi. Menurut Kuratornya, saya menemukan garis awal saya ketika memulai melukis dulu.” Begitu terang Pak Eko ketika dihubungi melalui Video Call.

Eko Tunas, Mocopat Syafaat (Foto Adin, Dok. Progress)

Adanya pandemi diakui sebagai berkah bagi Pak Eko Tunas. Karena pandemi ia jadi banyak berada di rumah. Inilah kiranya alasan dia kembali melukis lagi. “Menulis terus kan ya lelah Mas. Ya sekarang kegiatan saya selang-seling antara menulis dan melukis. Kalau lelah menulis ya melukis, kalau lelah melukis ya menulis.” Satu kegiatan adalah istirahat bagi kegiatan yang lain.

Pak Eko Tunas bersyukur diberi bakat yang banyak. Ia bisa menulis, melukis, dan berteater. Ia biasa bermonolog. Tetapi semenjak sakit stroke mendera, kegiatan berteaternya ia kurangi. “Ada orang bilang tentang kesenian saya, kok nulis, lukis, teater semua dijalani toh? Kemudian aku jawab. Lihat petani itu. Mereka bisa menanam dengan cara tumpangsari, kenapa saya tidak boleh berkesenian dengan cara begitu?”

Banyak dari kita tahu bahwa Pak Eko Tunas adalah sahabat Mbah Nun. Ada istilah 4E yaitu; Emha, Ebiet, Eko, dan Eha. Pada kesempatan itu Pak Eko bercerita bahwa Mbah Nun adalah teman loro-lopo, itu alasan kenapa mereka begitu dekat. “Dulu selama sekitar tiga tahun kami tinggal di rumah yang sama. Rumah kecil saja ukuran empat kali lima meter. Saya menyebutnya kemiskinan yang puitis. Pernah saya mengantar Emha mengisi acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa. Lapar-lapar menunggu ternyata hanya diberi piagam. Dan penyelenggara acara itu sekarang menjadi menteri. Pernah juga diberi bungkusan berisi getuk. Getuk dikorek-korek berharap ada amplop di sana,” terang Pak Eko sambil tertawa berderai-derai.

Atas lukisan-lukisan Pak Eko Tunas yang akan dipamerkan Mbah Nun berpendapat lukisan-lukisan tersebut tampak merdeka dan kaya makna, dan kuat di garis.

Ada empat puluh lukisan yang akan dipamerkan di Tegal nanti. Ada yang berukuran besar, ada pula yang berukuran sedang. Berbagai tema diangkat, mulai kritik sosial hingga politik. Pameran kali ini adalah pameran kesekian yang dia lakukan. Sewaktu di Yogya ia pernah mengikuti beberapa kali pameran. Ia pernah pameran di Surau Kami, di Sanutuke, dan ia juga pernah pameran lukisan keliling. Pada usia muda ia pernah pameran bersama dengan Wowok Legowo, dan Dadang Christanto. Sekarang ini sepuluh lukisannya terpasang di Perpusda Kota Tegal.

Pameran Tunggal Lukisan Eko Tunas: Re-Discovery

Pameran lukisan keliling ini menunjukkan bahwa jalan berkesenian yang ia tempuh memang berbeda. Ia membuat lukisan kecil dengan media krayon di atas kertas. Lukisan tersebut ia masukkan di dalam tas dan ia bawa kemana-mana. Saat ia pentas teater, mengisi acara, bahkan di hotel, ia pamerkan lukisan tersebut di dinding yang tersedia. Bahkan ia pernah pamerkan lukisan dengan cara diletakkan di lantai. Saat Pandemi Pak Eko Tunas suntuk melukis di gudangnya, lalu satu-satu dipajang di dinding dan kemudian membuka pameran lukisan di rumah. Apresian datang dari keluarga, tetangga, hingga teman sejawat.

Menurutnya jika musik berbahasa suara, sastra berbahasa kata, teater berbahasa gerak, maka seni lukis berbahasa garis. Bahasa garis itu terkuatkan oleh S. Soedjojono bahwa estetika adalah jiwo katon, jiwa yang tertuang melalui bahasa garis. Garis bukan sekadar line, tapi bayangkan: garis tangan, garis wajah, garis hidup.

Pak Eko Tunas mengeksplor garis-garis lukisan kanak-kanak anak-anaknya. Ia berusaha keluar dari batas keindahan menurut seumumnya lukisan. Karena “jiwo” nya memang tidak di situ. “Ada pembebasan atau kemerdekaan menemukan diri sendiri, dalam saya berproses karya. Bagi saya, itulah yang terpenting. Lebih dari itu, bagi saya karya seni adalah pengalaman. Baik pengalaman alam maupun intelektual,” ujarnya.

Sedangkan menurut Lutfi AN dari Tegal, bahwa tidak banyak orang seperti Eko Tunas. Ia memiliki kemampuan komplet. Selain melukis, ia bisa menulis dan berteater. Menurutnya, Pak Eko Tunas terpengaruh dengan pelukis Amerika Jean Michel Basquiat. Pelukis grafiti yang menggila di masanya di New York Amerika (1985). Dalam komentarnya Lutfi AN menambahkan bahwa lukisan Pak Eko Tunas adalah menjungkirkan logika atau justru ‘meluruskan’ logika. Konsep-konsep tentang kecantikan umum ia suguhkan dengan cara yang berbeda. “Lukisan Eko Tunas bisa dinikmati dengan dahsyat manakala kita cukup rasa, ilmu, dan kecerdasan abstraksi,” jelas Lutfi AN.