Agar Potorono Tetap Menjadi Potorono

Ketika suatu hari libur sekolah saya dolan ke dusun Mertosanan Kulon desa Potorono, saya diajak seorang teman bernama Sugeng menerobos sawah yang tengah ditanami tebu. Saya diberi ilmu bagaimana niteni atau cara mendeteksi tebu yang manis dan empuk. Dengan bersenjata arit teman saya mengetuk ruas tebu. Kalau terdengar suara plethek nyaring, berarti tebu itu manis dan empuk, kabarnya tebu ini berasal dari Kuba Amerika Selatan. Sebelum tebu empuk dan manis dipotong kami melakukan ritual minta izin entah kepada siapa untuk menikmati tebu yang ditanam di sawah waega desa teman saya itu. Saya dan teman saya membawa pulang tebu itu dan menikmatinya di rumahnya.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dengan teman ini saya juga cukup akrab karena pernah bersama-sama membeli sepatu bekas di dekat Klenteng atau depan toko kopi hie sebelah utara Kantor Bernas yang ketika dipakai pawai dengan gagah, sepatu itu jebol lagi dengan mulutnya yang menganga mempertunjukkan paku-pakunya yang runcing. Saya dan teman itu cuma tertawa kecut. Hari berikutnya saya membalas dendam kepada kaki saya, dengan memakai sepatu tentara yang berat dan besar kepunyaan ayah saya yang bunyi paku di bawah sepatu malah membuat perempuan adik kelas saya justru ketakutan ketika saya dekati. Sepatu menjadi pangkal dari patah hati, begitu saya menyebutnya.

Meski Desa Potorono waktu itu sudah menjadi desa basis Muhammadiyah, sejak tahun 1920-an dan terhubung secara kultural dengan basis Muhammadyah yang lain, Kotagede (teman saya yang pernah jadi Lurah Potorono ini bersaudara dekat dengan para tokoh masyarakat kampung Joyopranan Kotagede selatan yang pernah ditinggali Pak AR Fakhrudin kecil waktu sekolah di SD Muhammadyah Kleco Kotagede), kehiduapn warganya tetap komunal dan warga menjadi makkluk solider, sepanjang hidupnya para aktivisnya memikirkan dan memperjuangkan kepentingan orang lain. Ini betul-betul Muhammadiyah gaya ndeso yang militan tetapi rendah hati, tidak suka menonjolkan diri selalu berbuat diam-diam menyelesaikan masalah. Meski ini masalah yang kelihatan sepele, masalah konsumsi pengajian di desa Potorono.

Suatu malam saya dan teman-teman Kotagede mendatangi pengajian Muhammadiyah di sebuah dusun yang peserta pengajiannya melimpah karena warga lain dusun tapi sama sedesa sama-sama hadir, juga para tamu seperti saya mendapat pelayanan istimewa. Warga dusun itu patungan membuat nasi bungkus dengan lauk yang lezat ratusan bungkus dan dibagikan kepada yang hadir. Warga dusun dengan tulus memasak, membungkus, mengumpulkan di tempat panitia. Setiap yang hadir wajib mau menerima suguhan ini dan tentu saja kami menerima dengan senang hati. Kami mendengarkan pengajian dengan khusyuk campur sedikit ngantuk karena perut kenyang, kadang diselingi obrolan dengan suara lirih. Yang mengisi pengajian adalah muballigh kondang dari Piyungan. Dan isi pengajian masih menjadi perbincangan atau menjadi viral di kalangan warga dan kami di sekolah. Sayang saya sekarang lupa isi lengkap pengajian itu. Intinya bagaimana menjadi wong apik dalam hidup yang sering menghadapi godaan.

Paseduluran dan pasrawungn yang kental sesama alumni sekolah saya, dimotori teman dari desa Potorono terus terjaga. Termasuk menjaga awetnya grup WA. Sebab ada peraturan ketat yang menggembirakan di grup ini bahwa setiap anggota grup harus bisa melucu atau melontar humor dan kalau menulis pesan hendaknya yang mencerahkan dan saling mendukung kalau ada seseorang punya usaha. Pesan dalam akhir surat Al ‘Ashr, pesan kebenaran harus dilakukan dengan kemasan kesabaran, dan kesabaran diformat dengan dengan optimisme dan optimsme dibumbui humor, kenangan indah dan harapan yang menggembirakan. Jadi medsos kami, alumni Ma’had Islamy, betul-betul aneh nyleneh di luar arus utama medsos yang cenderung panas dan berisi hal-hal yang memerosotkan nilai kemanusiaan.

Medsos kami yang berwajah ndeso dan naif ini menyejukkan dan saling menghormati antar anggota grup. Ini medsos yang sangat terasa berwatak komunal khas Potorono. Ada teman yang bilang baru panen padi dan sudah digiling menjadi beras, segera disambung oleh teman lain dengan bilang akan datang ke rumah yang punya beras untuk membeli beras itu. Apalagi kalau ada teman yang menawarkan produk makanan ringan yang langsung disambar atau diborong teman lain dengan mendatangi rumahnya. Ketika buku saya berjudul Berguru Kepada 40 Pendekar agama, jurnalistik dan sastra terbit, teman-teman di grup memesan buku ini. Ada yang saya antar sendiri, ada yang saya minta tolong tetangga yang pengemudi ojek online untuk masuk desa Potorono dan sekitarnya.

Komunalitas pergaulan khas desa Ptorono masih berlangsung di medsos, khusunya di WA Grup. Kabar gembira tersampaikan, juga kabar teman yang sakit dan berusaha mengobati dirinya di rumah sakit, semua teman mendoakan dengan tulus. Berita meninggalnya teman anggota grup dari angkatan sekian karena pandemi juga diberitakan yang kemudian menimbulkan hujan doa yang mengharukan karena ada yang menyelipkan kenangan indah bersama almarhum. Kemudian, ada teman mengabarkan bagaimana tubuhnya capai karena habis mencangkul di sawahnya diminta teman lain untuk istirahat dan disuruh mencari isteri biar ada yang menghibur, dan ini diamini oleh teman lain. Teman itu dengan malu-malu mengucapkan terima kasih atas saran dan doa teman-teman.