Belajar Kepada Pasien #3

Sakit, Menderita, dan Berulang

Photo by Eduardo Soares on Unsplash

Malam itu kami ngobrol. Saya, Andes, dan ibunya. Di kamar tempat Andes dirawat. Saya sedang jaga malam waktu itu, sehingga ada kesempatan untuk ngobrol sesudah keliling melihat semua pasien di bangsal. Kami ngobrolin hal yang remeh-temeh, tentang lingkungannya, masa kecilnya, dan segala hal yang berhubungan dengan kehidupannya.

Saya pun sesekali menceritakan pengalaman masa kecil saya yang sangat dekat dengan ibu saya. Saya selalu membantu nguleg sambel kalau ibu memasak. Ibu selalu meminta saya nguleg sambel dengan cowek dan munthu, karena hasil ulegan saya sangat lembut dan sampai tak tampak sisa biji cabe dalam sambel itu.

Andes adalah seorang anak kecil, kelas 4 SD di daerah dekat pesisir Yogya. Dia sudah dirawat beberapa hari dengan keluhan sakit perut yang berulang-ulang, tak kunjung sembuh. Sudah berkali-kali diperiksakan. Sudah banyak obat yang dikonsumsi. Sudah seringkali mondok dengan hasil nanti sembuh sebentar dan kumat lagi.

Bagi kami kasus ini “bagus” dan “menarik”, tetapi bagi pasien tentu hal ini sesuatu yang tak diharapkan. Sakit, menderita, dan berulang.

Sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu mengupayakan yang terbaik demi kesembuhan pasien. Salah satunya dengan mendiskusikan kasus ini dari berbagai aspek dan berbagai subspesialis yang ahli di bidangnya.

Saya sudah menyiapkan segala macam persiapan untuk terselenggaranya diskusi penting ini. Berbagai konsultasi sudah saya layangkan. Banyak divisi di bagian anak yang terlibat. Beberapa juga antar departemen. Di antaranya adalah divisi Gastrohepatologi (urusan perut dan liver), divisi Nephrologi anak (urusan perkemihan), Neurologi anak (persyarafan), Psikologi Anak, dan bagian Tumbuh Kembang. Sedangkan lintas departemen yang sudah saya siapkan adalah departemen Radiologi dan departemen Kebidanan dan Kandungan. Banyak pihak yang akan terlibat dalam diskusi tersebut sehingga menimbulkan komentar dari Prof. Tony (alm) pembimbing saya waktu itu.

Iki sing durung mbok konsuli mung bagian Psikiatri (yang kamu belum konsultasi tinggal bagian Psikiatri),” begitu komentar beliau sambil tersenyum dan menggoda.

Lha dos pundi malih Prof, kasusnya memang sulit dan pelik (hasil pemeriksaan penunjang pun tidak menunjukkan adanya kelainan yang signifikan),” jawab saya.

Sampai pada giliran diskusi kasus sulit tersebut. Diikuti banyak residen (dokter yang sedang sekolah spesialis) dan para ahli di bidangnya. Dari bagian Radiologi berkesimpulan tak ada yang aneh dengan hasil pemeriksaan/pencitraan pada pertu. Demikian pula dari bagian Kebidanan dan Kandungan yang tidak menemukan kelainan yang berarti. Divisi Nephrologi anak yang tadinya menduga adanya infeksi pada saluran kemih (ISK), ternyata tidak juga berkesimpulan bahwa itu adalah ISK.

Demikian pula dengan para ahli lain yang diundang tidak menemukan adanya kelainan yang berarti. Alhasil, tidak berakhir dengan sebuah kesimpulan yang yakin terhadap kasus tersebut. Namun menghasilkan sebuah rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan di bagian Elektromedik.

Hari berikutnya saya lakukan rekomendasi tersebut, dan malam harinya saya jaga malam dan ngobrol dengan Andes.

Sebenarnya saya juga sudah mencari tahu jawaban dari hasil pemeriksaan siang tadi. Dan (walaupun belum resmi) saya mendapati jawaban: tidak dijumpai adanya kelainan. Makanya saya mencoba eksplorasi dan coba saya gali. Saya ingat Swargi Simbah-putri saya yang sangat lembut pernah bilang, “bocah kuwi yen kagol iso dadi lelara” (seorang anak kalau kecewa bisa menjadi penyakit).

Saya terinspirasi dengan pesan Simbah saya itu dan saya coba mengeksplorasinya. Karenanya, saya ngobrol dengan Andes dan ibunya malam itu ngalor-ngidul. Sampai pada satu pertanyaan saya kepada Andes, “Ndhuk, kowe sakjane pengen opo to? (Nak, sebenarnya kamu ingin apa?)”.

Andes masih diam sambil menggeleng. Saya eksplorasi lebih lanjut, “Opo biyen tau dijanjeni sesuatu? (Apakah dulu pernah dijanjikan sesuatu?)”.

Di situ Andes dan ibunya saling berpandangan sesaat dalam diam, dan akhirnya si ibu berkata: “Oh iya, Dok, saya jadi ingat, sejak kelas 2 SD, kira-kira 2 tahun yang lalu kami memang menjanjikan Andes untuk membelikan sebuah sepeda”.

Saya mendengarkan dengan saksama.

“Tetapi sampai saat ini kami belum sempat membelikannya karena memang keadaan yang belum memungkinkan dan kemudian Andes bolak-balik masuk RS. InsyaAllah kami akan memenuhi janji tersebut sepulang dari RS ini”.

Andes tersenyum. Senyum yang sangat bermakna dan penuh arti!

Keesokan harinya hasil elektromedik memang sesuai dengan apa yang saya dengar sebelumnya: tak ada kelainan. Andes kemudian pulang dan saya wanti-wanti betul untuk datang kontrol dua minggu lagi.

Saat saya bertugas di Poli, waktu itu adalah kontrol ke-2 Andes setelah 2 bulan lalu mondok. Andes datang bersama ibunya, dan dengan senyum riang dia bisa bercerita bagaimana senangnya dia bermain dengan sepeda barunya bersama teman sebayanya di kampungnya sana daerah Srandakan. Bebas dari sakit perut!

Recurrent Abdominal Pain dan atau Chronic Abdominal Pain Psychological sering kita jumpai di kunjungan klinik. Bahkan angkanya, menurut beberapa tulisan, bisa mencapai 30-40%. Selain keluhan perut (bahkan bisa sampai muntah), keluhan sakit kepala adalah dua keluhan yang paling sering disampaikan di tempat praktik. Ini sangat sering saya jumpai pada anak-anak pada awal usia sekolah, dan pada saat mereka kecewa terhadap sesuatu atau tidak bisa menghadapi sesuatu masalah, sehingga munculnya adalah sakit perut atau pusing. Tidak ada hasil yang berarti pada pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Saya kemudian googling untuk mencari pasien kecil saya tersebut, yang tentu sekarang sudah dewasa dan barangkali sudah berputra. Barangkali saya bisa menemukannya. Saya ketik Andes P*********a kemudian klik enter.

Yogyakarta, 23 Juni 2021.

Lainnya