Relasi Taktis Sastrawan dengan Seniman Lain

Photo by Laura Chouette on Unsplash

Menjadi sastrawan, lebih-lebih penyair adalah keberuntungan. Sebab potensial banyak teman. Okeh kanca lan balane. Manjing ajur-ajer, mencala putra mencala putri. Jadi, tidak thilang-thileng kaya kethek ndomblong.

Manusia sastra cenderung luwes. Bisa berteman dengan siapa saja. Berteman manusia teater oke. Berteman dengan manusia musik siip. Berteman dengan manusia seni rupa tidak menolak. Berteman dengan manusia tari, yes. Berteman dengan manusia film apa lagi. Berteman dengan tentara, dengan pedagang, dengan petani, dengan wartawan, dengan kusir andong dan penarik becak welcome. Bahkan berteman dengan preman atau gali bisa, ngobrol asyik sambil berbagi udud atau main gaple, sambil saling melontarkan gojekan kere. Atau pisuhan yang sakral.

Mengapa demikian? Karena sastrawan memerlukan sedulur-sedulur itu. Dia menjalin relasi taktis dengan hampir semua orang.

Jurus srawung-nya minimal dua. Empati dan simpati. Empati adalah kekuatan elok dari jiwa manusia. Dengan empati seorang sastrawan dapat merasakan dan membayangkan penderitaan dan kebahagiaan orang lain. Ia bisa merasakan dan membayangkan ini dari gerak wajah, gerak-gerik tangan dan naik turunnya nada bicara orang lain.

Simpati adalah rasa dekat dan mendekat ke orang lain. Untuk apa? Untuk berbagi. Berbagi pengalaman lucu, menyenangkan, sedih, berbagi suasana sepi atau jengkel dan bosan melihat keadaan yang pancet-pancet wae atau dalam kaidah bahasa Arab disebut mabni. Kadang simpati mendorong orang untuk berbagi rezeki kalau orang lain itu memerlukan. Atau sekadar berbagi mau’idloh hasanah dan berbagi harapan.

Dengan menerapkan jurus empati dan simpati seorang sastrawan akan mendapat pasokan bahan tulisan yang tidak ada putusnya. Kadang setelah ngobrol di cakruk dengan seorang atau beberapa orang tetangga yang baru saja menempuh perjuangan berat ketika mudik dan ikut arus balik, seorang sastrawan bisa kebanjiran ide. Tragedi kemanusiaan, komedi kehidupan, ironi sosial dan anomali suasana Lebaran di suatu tempat dan di banyak tempat muncul dalam bentuk ide dan narasi yang menuntut untuk ditulis.

Dengan demikian selama seorang sastrawan menjaga kualitas dirinya sebagai manusia srawung dia tidak pernah mati angin dalam menulis. Di dalam otak dan hatinya selalu hangat atau malah panas oleh ide yang berkepul-kepul. Atau ibarat petani, pekebun, peternak, pekolam ikan dia tidak pernah kekeringan karena mata air mirip tuk umbul yang airnya penuh tekanan melonjak lonjak minta saluran.

Asal-usul empati dan simpati adalah hati nurani dan jiwa yang jernih sehingga empati dan simpati ini bisa luluh dalam bentuk cinta, menjadi energi ruhani yang bergerak karena mencintai kehidupan.

Tema tulisan dia menjadi beragam, gayanya makin matang, diksi yang dipilih tidak sembarangan, selalu berkualitas fasih dan tabligh menurut ilmu balaghoh. Pesan yang ingin disampaikan jelas meski tersembunyi di balik bahasa yang berliku, kadang genit kadang tajam.

Sedang mengapa sastrawan lebih-lebih penyair bersedia menjalin relasi taktis dengan manusia musik? Karena pada dasarnya karya sastra lebih-lebih puisi pada hakikatnya musikal. Ada lapis bunyi dalam setiap kata, kalimat, alenia atau bait dan dalam keseluruhan karya sastra itu sendiri. Dan untuk melatih sensitivitas musikalnya seorang sastrawan menjalin relasi taktis dengan para pemusik.

Penyair Taufiq Ismail contohnya. Karya dia digubah menjadi lagu oleh kelompok Bimbo, Achmad Albar, dan Chryse. Kelompok teater dan musik kampus serta sekolah menengah malah punya tradisi melakukan musikalisasi puisi dan ini dilombakan sampai tingkat nasional.

Seorang sastrawan pun bersedia menjalin relasi taktis dengan manusia teater karena karya sastra yang baik mengandung nilai dramatik yang tinggi. Nilai dramatik yang kompleks tetapi tetap mengandung keutuhan dalam karya sastra membuat karya sastra berkualitas tinggi. Apalagi dalam teori sastra yang sampai hari ini masih kokoh, naskah drama termasuk bagian dari karya sastra. Naskah drama menjadi urusan sastrawan dan penggarapan naskah drama untuk dipanggungkan menjadi urusan manusia teater.

Relasi taktis antara manusia sastra dengan manusia teater menjadi sesuatu yang lumrah dalam masyarakat modern Ini. Kebanyakan penulis naskah drama adalah sastrawan. WS Rendra, Arifin C Noer, Motinggo Boesye, Kirjomulyo, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun, Putu Wijaya,  Mohammad Diponegoro misalnya. Biasanya naskah drama mereka sangat kuat, bernilai dramatik tinggi, mudah dihapal sehingga seorang manusia teater bernama sutradara teater seringkali tidak perlu melakukan bedah naskah atau mengubah naskah agar siap dipanggungkan.

Sutradara teater diuji kemampuannya dalam menafsirkan naskah drama yang siap dipentaskan dalam bentuk ekspresi teaterikalnya. Aktor teater pun diuji menghapal naskah seluruhnya agar bisa menghidupkan pertunjukan berdasarkan bahasa ekspresi panggungiyah yang digariskan sutradara.

Sastrawan pun banyak yang menjalin relasi taktis dengan senirupawan karena dalam seni rupa ada gelombang warna, gelombang garis dan gelombang bidang atau bentuk dan dimensi. Gelombang-gelombang semacam ini ada dan berbentuk di dalam karya sastra. Ada gejala baru dimana seorang sastrawan juga menjadi pelukis. Misalnya Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Muhamad Fuad Riyadi, dan Gus Mus. Lukisan mereka biasanya puitis.

Seorang sastrawan juga tidak menolak jika harus menjalin relasi taktis dengan manusia tari. Sebab dia menyimpan imago-imago koreografis dalam karya sastranya, khususnya puisi. Dengan demikian seorang pencipta tari dengan kemampuan kreatifnya dapat membuat pertunjukan tari berdasar karya sastra. Goenawan Mohamad pernah mencoba hal ini.

Manusia sastra juga tidak tabu kalau menjalin relasi taktis dengan manusia film karena karya sastra mengandung hal-hal yang filmis. Ini yang terjadi pada Arifin C Noer, Iman Chaerul Umam misalnya.

Yang jarang dilakukan orang adalah sastrawan yang menjalin relasi taktis dengan arsitektur. Barangkali hanya segelintir orang yang telah melakukannya. Misalnya Darwis Khudori dan guru dia, Romo Mangunwijaya. Kalau arsitek yang menjalin relasi taktis dengan pelukis kaligrafi malah ada. Misalnya Ahmad Nukman dari Bandung. Atau arsitek yang menjalin relasi taktis dengan sastrawan ada. Yaitu Ahmad Fanani yang karyanya mendapat penghargaan Agha Khan.

Nah, relasi taktis yang dibangun oleh sastrawan berdampak positif bagi karya sastra dia karena menambah kekayaan tematik, juga kekayaan estetik dalam kemungkinan karya sastra dia. Penggarapan karya sastra lewat media estetik lainnya menjadi lebih mudah dilakukan. Karya inter media, bahkan transmedia berdasar bahan garapan karya sastra pun mudah diproses dan diproduksi. Termasuk di Yogyakarta.

Yogyakarta, 24 Mei 2021

Lainnya