Rawa Kalibayem dan Wajah Penataan Wisata Kita

Tulisan ini bisa saja dianggap sebagai tulisan yang subjektif, sebab pelaku dalam tulisan ini memiliki hubungan nasab dengan penulis. Tapi coba kita tanya ulang, ulasan mana, bahkan dalam jurnal ilmiah sekalipun yang tidak memiliki nilai subjektivitas. Subjektivitas justru memberi ruang diskusi untuk menentukan mana hipotesis yang mendekati kebenaran. Tafsir Al-Qur’an sekalipun tidak ada yang menjamin kebenaran atas interpretasi terhadap Al-Qur’an, meskipun tentu kita yakini bahwa Al-Qur’an sebagai kalamullah seratus persen benar.

Masyarakat Jawa (tentu yang masih asli lengkap dengan pranata ilmunya) sudah sangat terlatih untuk memahami perspektif. Dalam pemahaman arah mata angin misalnya. Timur itu disebut dengan wetan atau wiwitan yang bermakna permulaan sedang barat disebut kulon atau kahuluan yang juga berarti permulaan. Permulaan hari pun di-arif-i dengan mengadopsi baik dengan sistem lunar ataupun solar. Ada yang menganggap awal hari adalah matahari terbit, ada pula yang menganggap awal hari adalah matahari terbenam. Ini penting untuk diutarakan di awal, agar ruang diskusi dalam menanggapi subjektivitas lebih terbuka.

Tulisan ini mengulas tentang sebut saja area wisata baru di kawasan Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, meskipun lebih tepatnya bisa disebut area umum (public space). Saya mengadopsi kata wisata karena pada perjalanannya, pengurus area umum tersebut mencoba memperlakukannya sebagai area wisata dengan konsep yang hanya ikut-ikut saja dengan trend yang sebenarnya sudah jenuh. Area umum ini bernama Rawa Kalibayem. Area ini adalah tanah kancingan yang mulanya, sebelum tahun 2004 adalah area sawah. Meskipun jika dirunut pada sejarahnya, area tersebut memang mulanya sebuah rawa yang digunakan sebagai bagian dari pesanggrahan milik Kerajaan Mataram Islam. Sumber lain menyebutkan bahwa Rawa Kalibayem digunakan juga sebagai area latihan perang untuk prajurit Mataram Islam.

Hingga ketika longsor besar terjadi pada tahun 2004 dan mengubah area sawah kembali menjadi badan air, Rawa Kalibayem berulang kali berubah penataannya. Dari yang awalnya sebagai tempat pemancingan tanpa ada aksesoris pelengkap sarana umum, hingga pada tahun 2019 lalu berdiri patung Semar di tengah rawa dan beberapa infrastruktur tambahan. Meskipun pada fase berjalannya sampai pertengahan 2021, terjadi konflik dan membuat penataan rawa terbengkalai.

Belajar dari Rawa Kalibayem sungguh sebenarnya beberapa dari kita tidak siap untuk memimpin dan dipimpin. Jikalau dalam akhir Surat Al-Hasyr, kepemimpinan dimulai dengan suatu sikap muta’alimul ghoibi wa syahadah atau sikap untuk bisa menentukan laku masa depan dengan memperhatikan ilmu dan fakta empiris dari masa sebelumnya, maka yang terjadi di Rawa Kalibayem adalah sikap yang seolah-olah ‘alimul ghoib sehingga pada akhirnya berimbas pada perekonomian warga yang sebenarnya bisa menaruh harapan dari penataan Rawa Kalibayem.

Sebenarnya penataan Rawa Kalibayem sudah berjalan dengan cukup elegan dengan melibatkan warga dengan dibentuknya Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata. Sudah bertahun-tahun koordinasi dengan pemerintah daerah berjalan dengan baik dan bahkan menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengangkat kesejahteraan warga. Sembari menunggu infrastruktur selesai misalnya, untuk memperkenalkan bahwa ada area umum baru kepada masyarakat luas, dibuatlah lapak jual beli seperti program Sunday Morning di UGM. Para pelapak ini didata dan akan ditempatkan dengan adil pasca proyek penataan infrastruktur selesai.

Juga masalah komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah, Pokdarwis secara rutin bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi DI. Yogyakarta yang saat itu masih digawangi oleh Bapak Ir. Aris Riyanta, M.Si. Masalah publikasi juga terlihat menonjol dengan melibatkan warga yang aktif di bidang jurnalistik. Penataan dimulai secara terkonsep dan rapi meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Permasalahan mulai muncul ketika proyek infrastruktur fase pertama mendekati rampung. Karena mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap keadilan pembagian lapak, sekelompok warga minoritas yang menganggap dirinya mempunyai kekuatan mencoba mengambil alih proses penataan.

Saya sangat memahami rekam jejak kejadian pengambilalihan program penataan Rawa Kalibayem tersebut sebab, dua hari sebelum ayah saya, yang ditunjuk sebagai ketua Pokdarwis menyerahkan amanahnya, beliau sempat menghubungi saya untuk meminta pendapat tentang penataan rawa. Tentu setelah ayah meletakkan amanahnya, kelompok minor (sebut saja kelompok minor) ingin menunjukkan tajinya dalam mengelola area umum.

Sudah terlihat kemudian, bagaimana pengalaman kepemimpinan yang tidak dimulai dengan proses muta’alilimul ghoibi wa syahada berdampak pada warga sekitar. Kelompok minor yang dipimpin oleh salah satu seniman perupa itu, pada awalnya membuat infrastruktur yang seolah-olah akan menjadi point of interest dari pengunjung. Dibangunlah spot foto menyerupai kapal dari bambu, patung-patung dengan konsep yang aneka mulai dari binatang hingga anoman, dan secara sepihak membuat kapling-kapling tempat berjualan.

Satu hingga tiga bulan, Rawa Kalibayem ramai pengunjung. Seperti keumuman tempat wisata lain yang hanya menjual spot foto, para pengunjung hanya termotivasi oleh rasa ingin tahu saja. Mereka hanya berkunjung sesekali dan tidak ada sesuatu yang membuat mereka menjadi “returning customer”. Bahkan arena flying fox yang dibuat pun tidak menarik pengunjung lebih banyak. Banyak pihak pada akhirnya berebut lahan hidup dengan membuat lahan parkir dan sistem tiket berbayar untuk masuk. Tiket untuk masuk area umum yang tak lebih dari 2,5 Ha dan dengan pengelolaan yang jauh dari kata memadai tentu justru menimbulkan efek kontraproduktif bagi kedatangan pengunjung. Jumlah pengunjung pun surut.

Sampai tulisan ini ditulis, Rawa Kalibayem sepi pengunjung. Bukan hanya karena dampak Covid-19, tetapi lebih karena penataan yang miskin konsep. Ketua kelompok minor, sebagai seorang perupa selalu mengatakan bahwa konsep penataan didasarkan tak hanya kepada aspek wisata, tetapi juga pada aspek seni dan budaya. Sayangnya konsep yang dibawa selalu naif untuk bisa dilakukan sampai tahap implementasi. Sebelum munculnya huru-hara penataan, pokdarwis hampir selalu memenangkan festival budaya yang diadakan oleh Pemerintah Yogyakarta ataupun dari pihak enterprise.

Air Rawa Kalibayem seolah menjadi cermin, bahwa penataan yang dilakukan tanpa konsep dan hanya berebut lahan penghidupan masing-masing tanpa memperhatikan kemaslahatan banyak orang, akan berujung pada pencapaian kesejahteraan yang kontraproduktif. Belum lagi kelatahan konsep wisata yang menjamur di Yogyakarta yang hanya menekankan pada fenomena eksistensialisme dan bukan kontemplatif.

Berkaca pada public space yang dibangun di Eropa misalnya, di mana warga bisa mengekspresikan kreativitasnya dengan gratis dan bertanggung jawab. Karena public space adalah ruang yang bisa digunakan bersama, tanggung jawab penggunaan seperti kebersihan menjadi kewajiban bersama. Pengunjung bisa melakukan swafoto tanpa tergantung pada object foto yang meskipun artifisial, tetapi tidak terlalu dipaksakan untuk dibuat-buat. Public space tidak selalu dimaknai sebagai tempat wisata baru yang dipaksakan untuk proses komersialisasi. Public space adalah hak warga untuk mendapatkan ruang interaksi dalam kehidupan sosial. Bahwa dalam proses interaksinya men-trigger kegiatan ekonomi itu perkara lain. Tetapi yang baku adalah penyediaan ruang kehidupan warga yang tidak melulu eksploitatif.

Rawa Kalibayem jika dikelola dengan planning yang jelas dan sistem pengelolaan yang transparan akan kembali berdaya guna sepenuhnya untuk masyarakat. Alih-alih menjadi terbengkalai sebab penataan yang asal jadi, mengikuti trend zaman yang semakin jenuh, dan nafsu kekuasaan, Rawa Kalibayem bisa dikembalikan ke fungsi awalnya sebagai ruang terbuka yang bisa diakses siapa saja tanpa harus berbayar. Rawa Kalibayem dapat difungsikan sebagai :

  1. Area edukasi di sisi utara

    Supply air ke Rawa Kalibayem berasal dari saluran irigasi dengan nama yang sama. Kualitas air irigasi bisa dikategorikan buruk dengan parameter fisik berupa warna dan bau. Meskipun kandungan mikro di dalam air belum diteliti, tetapi parameter fisik dan limbah rumah tangga dan peternakan yang masuk ke sungai tanpa pengolahan tentu menurunkan baku mutu air. Area utara rawa di mana berfungsi sebagai inlet air dari saluran irigasi ke rawa, bisa dibangun area pengolahan air dengan cara fisik dan biologis. Cara fisik digunakan dengan membuat talud melintang sungai dari batu dan dibuat dengan bentuk cascade sehingga terjadi proses filtrasi dan aerasi dari terjunan air yang terjadi. Pengolahan lain dapat dilakukan dengan melewatkan air pada media filtrasi alami dari akar tanaman cattail atau biasa disebut lembang. Pelajar dari tingkat SD sampai SMA dapat menggunakan area tersebut untuk ruang belajar dan penelitian.

  2. Area olahraga di sisi barat daya

    Area olahraga dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah jogging track sepanjang talud pertama yang mengelilingi rawa. Dibuat jembatan penyeberangan orang untuk membuat circular track di sisi sebelah utara dan disepakati arah perputaran joggingnya agar mengurangi potensi bahaya untuk terpeleset ke dalam rawa serta dibuatkan pembatas berupa pohon perindang sepanjang jogging track. Beberapa spot di antara pohon perindang diberi tempat duduk yang digunakan sebagai fasilitas penggemar olahraga memancing. Sisi barat daya digunakan sebagai rest area dilengkapi dengan alat gym sederhana dan area olahraga skateboard.

  3. Area seni di sisi tenggara

    Area seni dapat berupa mini open teater di sebelah tenggara yang masih menyisakan area cukup luas sebagai pertunjukan seni teater. Dua pulau buatan juga bisa digunakan sebagai wahana instalasi seni ataupun pertunjukan panggung disesuaikan dengan kebutuhan penampilan.

  4. Area komersial di sisi barat dan timur

    Area komersial berupa warung yang dikelola paguyuban warga ditempatkan secara rapi dan terkonsep di area sisi barat dan timur. Bangkitnya ekonomi berasal dari pengunjung yang menyempatkan untuk melakukan aktivitas baik dari sisi pendidikan, seni budaya, maupun olahraga. Event dapat diselenggarakan rutin sebagai sarana marketing Rawa Kalibayem.

Dari Rawa Kalibayem tentunya kita banyak belajar. Tentunya tentang wajah penataan pariwisata di Yogyakarta yang melulu mengumbar eksistensi berupa spot foto yang seragam. Pernah kita alami bagaimana fenomena taman penuh dengan kembang Amarilis baik di Gunungkidul, Bantul, ataupun Sleman. Bahkan spot foto kita seperti tidak menawarkan otentitas. Sebut saja di daerah wisata sungai di Bantul yang menawarkan suasana foto seperti di Jepang. Krisis kebudayaan seperti ini menjalar seperti benalu di dunia pariwisata dan kuliner.

Kita tentu sangat bersyukur bahwa dengan adanya APBD, desa memiliki modal untuk mengembangkan ekonomi warga. Tetapi tidak adanya konsep dan miskinnya data yang dimiliki desa, membuat arah perkembangan desa seperti tidak jelas juntrungannya. Konsep wisata sekedar copy paste. Padahal kalau dilihat secara psikologis, pengunjung tidak akan mengeluarkan kocek lebih dalam untuk mengunjungi tempat wisata yang seragam dan banyak sekali jumlahnya. Belum lagi tingkat titik jenuh dari keseragaman wisata. Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah desa tak hanya berpikir ekonomi jangka pendek yang seumur jagung. Kembalikan saja ruang interaksi bersama yang memang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan warga sembari menganalisis potensi desa yang bisa dikembangkan bersama. Dan itu tak cuma sekadar membuat desa wisata.

Yogyakarta, 26.05.2021

Lainnya