(Sinau Puasa, bag. 10)

Puasa Untuk Tombo Ati

Image by İbrahim Mücahit Yıldız from Pixabay

Di tengah suasana Ramadhan tahun ini, tiba-tiba saya teringat salah satu baris dalam bait tembang Sinom Serat Wedatama, karya Kanjeng Gusti Adipati Arya Mangkunegoro IV, yaitu:

Sanintyasa pinrehatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Yang artinya:

Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu), Dengan sikap teguh membatasi makan dan tidur.

Sambil mendengarkan tembang Sinom tersebut, saya coba memahami makna dari bait ke 16 dari serat Wedatama tersebut.

Bait itu mengajarkan dan memberi bekal kepada kita bahwa dalam pergaulan sehari-hari kita harus selalu mawas diri dan selalu mengembara untuk tirakat dalam mewujudkan kehendak hati dengan laku prihatin serta membatasi makan (puasa) dan membatasi tidur (ibadah malam).

Puasa sebagai cara atau laku, tarekat/tirakat dalam mewujudkan keinginan, cita cita ataupun tujuan. Banyak sesepuh (pendahulu kita) melakukan laku puasa ini untuk keberhasilan dirinya sendiri maupun berpuasa untuk anaknya atau keluarganya, demi keberhasilan cita-citanya. Ada pula macam-macam puasa dilakukan untuk tujuan tertentu.

Sedangkan kalau kita simak ajaran dari Sunan Kalijaga yang sangat kita kenal yaitu bait bait tombo ati,

Tombo ati iku ono limang perkoro
Kaping pisan, moco Qur’an sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat, wetengiro ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Ada lima (5) perkara untuk mengobati hati. Di dalam bait ini sekali lagi puasa (wetengiro ingkang luwe) dan ibadah malam (sholat wengi lakonono) — yang mirip dengan kalimat pada bait serat Wedatama — merupakan unsur dalam terapi penyakit hati.

Lha kok butuh tombo ati? Apakah hati sakit sehingga butuh tombo? Jelas, penyakit hati gampang sekali melekat pada setiap insan. Sombong, ujub (takjub pada diri sendiri), iri dan dengki, kikir dan riya adalah bentuk-bentuk penyakit hati. Penyakit ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari hari.

Sabda Nabi Saw, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati,” (HR. Bukhari).

Bila dia sakit, maka dia butuhkan obat, dan salah satu lakunya adalah puasa. Tentu puasa ini tidak berdiri sendiri. Poin-poin dalam Tombo Ati saling berhubungan satu sama lain. Begini, kalau seseorang bisa membaca Al-Qur’an dan maknanya, maka dia pasti seorang ahli ibadah malam dan pasti ahli dzikir, dst dst.

Sedangkan puasa Ramadhan yang kita lakukan ini adalah semata-mata untuk Allah. Nabi Saw bersabda, “Semua amal anak-cucu Adam akan dilipatgandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, sebab sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya”. (HR. Bukhari).

Dari hadits di atas tampak jelas bahwa adalah hak prerogatif Allah untuk menentukan pahala ibadah puasa. Sementara dari sisi kita, kita hanya mencoba mencari hikmah dan manfaat dari puasa vkita, versi manusia yang tentu ilmunya hanya seperti butir debu di tengah padang pasir.

(bersambung)

Lainnya