Silaturahmi Penggiat Maiyah Bersama Mbah Nun di Wonosobo

Primernya adalah Nglumpuk Bergembira

Foto: Adin (Dok. Progress)

Pada hari Sabtu pagi (12/6) berlangsung acara Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah Jateng-DIY. Tempat pelaksanaan yakni di Resto Ongklok, Wonosobo. Acara dihadiri oleh sejumlah Simpul Maiyah, yakni: Maneges Qudroh (Magelang), Galuh Kinasih (Bumiayu), Juguran Syafaat (Banyumas), Mafaza (Eropa), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), dan Manunggal Syafaat (Kuloprogo).

Momen ini sekaligus merupakan ajang temu kangen antara Mbah Nun dengan Penggiat Simpul Maiyah. Acara menunaikan kangen seperti ini telah diselenggarakan di dua kota, Sidoarjo dan Ponorogo, dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan.

Mbah Nun telah hadir sejak awal.

Setelah wirid dan sholawat dilantunkan dan dipungkasi dengan mahallul qiyam, berlanjut Mbah Nun bergabung di tengah-tengah Penggiat. Memulai dengan ramah tamah dan sesi sharing di mana anak-cucu beliau mengabarkan perkembangan simpul selama pandemi.

“Gek-gek do putus asa, do loyo, maka dari itu saya ingin merekonfirmasi, meneguhkan kembali, dan mensyahadati kembali,” ungkap Mbah Nun menyapa anak-cucunya.

Mbah Nun memantik diskusi dengan meminta teman-teman mengungkapkan satu kata tentang Maiyah. Sedulur dari Manunggal Syafaat mengawali dengan urun kata “Seneng”, kemudian penggiat lain mengungkapkan kata, “nyawiji”, menyusul berikutnya kata “presisi, konsistensi, seduluran, ngajeni, membangun, kunci, dan shalawat, serta unik.”

Sesi awal masih sharing-sharing dan refresh mengingat kembali pemahaman tentang Maiyah. Mbah Nun mengingatkan tentang determinasi pemahaman mengenai keuntungan dan rezeki (rizqi). Menurut Mbah Nun, keuntungan adalah hasil ikhitiar manusia, sedangkan rezeki adalah seratus persen langsung dari Allah Swt.

Penjelasan Mbah Nun tersebut berangkat dari tadabbur Surat At-Talaq ayat 2-3: wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhrojaa, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuhu, innallaha baalighu amrihi, qod ja’alallahu likulli syai’in qodroon. Dari ayat ini, Mbah Nun mengibaratkan jika kita setor dua hal kepada Allah, maka kita medapatkan empat hal sekaligus.

Dengan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberi kita jalan keluar (yaj’al lahu makhrojaa) dari berbagai persoalan dan sekaligus akan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka (yarzuqhu min haitsu laa yahtasib).

Selain itu, Mbah Nun juga menguraikan ihwal cinta kepada Allah. Berawal dari cinta ini, maka akan ada ridha atas kehendak Allah, dan karena kita sudah ridha dengan kehendak Allah, maka Allah akan meridhai kita (radliyatan mardliyah).

Menariknya, Mbah Nun menyebut puncak dari semua itu adalah keindahan. Salah satu bentuk keindahan itu adalah Allah memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka tadi. Jika dipikirkan tentu bakal timbul pertanyaan, “Sesederhana itu ya konsepnya?”, meskipun ternyata dalam praktiknya tidak mudah atau tidak sesederhana itu. Tetapi, sebagai manusia bukankah memang tugas kita adalah berjuang dan ikhtiar terus-menerus? Selain itu, Gusti Allah pun tak pernah menagih hasil, melainkan menunggu seberapa besar kesungguhan kita dalam berjuang untuk ridha atas ketetapan Allah kepada kita.

Kemudian Mbah Nun melangkah lebih jauh dengan bertanya, “Maiyah itu untuk negara, masyarakat, atau manusia?” Dalam kerangka pertanyaan ini pula, Mbah Nun mengingatkan bahwa Maiyah bukanlah sebuah kewajiban, tetapi kita membutuhkan nilai-nilai Maiyah untuk diri dan keluarga. Dimanapun berada, kita membutuhkan membawa Maiyah, dalam arti membawa jiwa, nilai-nilai, serta algoritma Maiyah, dan tujuan bermaiyah itu sendiri adalah agar dirahmati Allah.

Dari sini pula, Mbah Nun mengingatkan agar dalam bermaiyah jangan sampai kita salah niat. Kalau terasa beban, jangan-jangan ada yang salah di dalam target yang ada di benak kita. Sebenarnya, menurut Mbah Nun, bermaiyah itu yang primer adalah nglumpuk atau berkumpul. Bahwa setelah berkumpul lalu muncul ide tertentu ya Alhamdulillah. Akan tetapi jangan sampai kita justru terobsesi pada sebuah target ide. Sebab bukan itu primernya. Yang primer adalah nglumpuk dengan gembira.

Terkait situasi saat ini, Mbah Nun memberikan bekal sikap sebagai pegangan, “Ojo keweden tur ojo kemendel, ojo kemantepen, ojo loyo, tetap di garis tengah, jangan pesimis dengan ketetapan Allah, wa la taiasu mirraukhillah.”

Suasana selama acara berlangsung dengan khidmat dan gembira sebagai wujud syukur. Ibaratnya pertemuan siang itu adalah perjumpaan agung, liqoun ‘adhim. Tentang syukur ini ada prinsip penting bahwa kita perlu bersyukur kepada Gusti Allah agar rezeki kita berjodoh dengan ketentuan Allah.

Merespons dua pertanyaan dari teman-tentang yakin atau bagaimana meningkatkan level yakin, Mbah Nun menguraikan bahwa keyakinan itu sebenarnya dinamis. Tingkat menyakini adalah tingkat kewaspadaan kita dengan pegangan ojo terlalu kemajon ojo terlalu minder sesuai dengan posisinya antara ngegas dan nge-rem dan dalam istilah Jawanya adalah empan-papan.

Mbah Nun memberikan contoh dari pengalamannya sendiri dalam aktivitas menulis yakni dengan meminta kepada Gusti Allah. “Nulisku iki njaluk, njalukku iki tak gathukke karo keyakinanku iki, tapi jangan sampai berlebihan. Kemudian supaya perjodohan antara kabulnya Allah dengan harapan kita, antara usaha kita dengan ketentuan Allah, satu-satunya cara adalah dengan meningkatkan intensitas hubunganmu terhadap Allah. Cara meningkatkan intensitasnya yaitu dengan mengingat-Nya dengan metode teknis seperti tarekat-tarekat dengan berdzikir menyebut asma Allah Swt.”

Setelah kurang lebih empat jam melingkar, bercengkerama, dan bermesraan, acara dipungkasi. Setelah itu, semua yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan makan siang yang telah disediakan. Mbah Nun pun bersantap siang bersama-sama di tengah-tengah Penggiat. Mugi berkah-amberkahi. Nuwun.

Lainnya