Poros Bangkalan – Jombang – Jogja

Mbah Nun berziarah di Makam Syaikhona Kholil Bangkalan, 31 Maret 2019.
Foto: Adin (Dok. Progress)

Tulisan ini bukanlah fakta sejarah yang sesungguhnya. Yang terpapar hanyalah persepsi pribadi.

Alkisah, hati beberapa penggiat Simpul Bangbangwetan sejak awal terbentuk sudah agak condong – kalau tidak bisa dibilang lebih mengistimewakan – ziarah ke makam waliyullah Syaikhona Kholil di Bangkalan Madura.

Tidak pernah kami mencari alasan kenapa kok krenteg hati lebih semangat bila ada rencana acara ziarah ke Bangkalan, meski seperti biasanya kami cenderung abai pada hal-hal teknis bagaimana nanti teknis transportasi sampai konsumsi di lokasi.

Tiba-tiba saja ada sak srit lintasan pikiran dan perasaan yang melintas di malam kami esoknya kami akan kembali berangkat mengadakan muhibbah ke Bangkalan, bertepatan malam 12 Ramadhan 1442 H. Jangan-jangan getaran hati kami memang dituntun sejak dahulu untuk mewakili jamaah Maiyah berterima kasih kepada para guru dan para ahli kubur guru kami, namun kami tak sadar sama sekali akan hal itu!

Lalu kenapa dan ada apa dengan Mbah Kholil Bangkalan? Apa hubungannya dengan Maiyah yang dihidayahkan oleh Allah Swt melalui Mbah Nun?

Inilah yang saya maksud di awal tulisan, meski bukan fakta sesungguhnya tapi keyakinan kami mengabaikan `fiqh` teks paten sejarah yang tertulis resmi. Kami hanya saja percaya pada feeling kami.

Kami meyakini jikalau Mbah Kholil Bangkalan adalah waliyullah yang semacam diberi amr oleh Allah Swt untuk mengarsiteki kebangkitan Islam di Nusantara di ujung usainya koloniasasi selama 3 abad. Beliau dengan langkah yang tertuntun ilahi (pastinya) menyeting bahwa santri-santrinya kelak akan menjadi motor gerakan kemajuan Islam yang rahmatan lil alamin.

Tak bisa dipungkiri, gerakan yang diprakarsai oleh NU dan Muhammadiyah hasil ijtihad kedua santri beliau menggelorakan semangat pelayanan umat yang dahsyat sekali efek positifnya bagi umat di Nusantara. Tidak ada yang bisa menutupi fakta sejarah kontribusi NU dan Muhammadiyah bagi peningkatan kesejahteraan lahir batin umat nusantara.

Muhammadiyah dengan titik berat di jalur pendidikan modern dan kesehatan, serta NU yang kuat dijalur pengamalan amaliyah warisan para Wali terbukti menjadi benteng kokoh penahan keruntuhan kemunduran Islam yang lebih parah dari serbuan westernisasi dan moderinisasi yang salah kaprah menafikan keruhiyahan manusia.

Di antara kedua jalur perjuangan ini, Allah Swt turunkan hidayah Maiyah. Maiyah secara sederhana menjembatani gap antara pendidikan modern ala Muhammadiyah dan amaliyah puritan khas NU dalam contoh nyata di setiap majelisnya: Sinau Bareng atau Maiyahan.

Lihatlah lebih dalam, di setiap forum Maiyahan, tradisi diskusi membedah suatu masalah dengan standar keilmuan yang modern, namun tanpa meninggalkan tradisi puritan wirid bareng-bareng serta shalawatan diselingi guyon gandem marem merilekskan jiwa.

Satu sisi yang terlalu modern agak kehilangan ruh, sisi lain yang terlalu tradisi agak melemahkan semangat mengungguli zaman. Maiyah mensitesakan 2 sisi tersebut secara tepat, iya bisa tepat karena bukan hasil olah pikir dan strategi manusia, tapi hidayah Allah Swt semata (seperti sering dituturkan Mbah Nun).

Terlihat, Maiyah dari sudut amr pemberdayaan umat `diperintah` mengambil peran menyatukan 2 poros ma`had (cara) yang selama ini dilakukan dengan 2 cara mainstream : cara NU dan cara Muhammadiyah.

Maiyah dari sudut pandang perannya dalam social enginering (rekayasa sosial – untuk tujuan langit bukan dunia) adalah sejajar dengan apa yang telah dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah dalam 1 abad ini. Maiyah meski yang termuda sebagai sebuah pergerakan, malah dirasa menyatukan 2 term, 2 cara gerakan, 2 kutub poros pengabdian para pejuang kebangkitan Islam di Nusantara. Maiyah menawarkan perbaikan metode menjadi lebih hakiki, lebih menyentuh kalbu dan pikiran umat melalui Maiyahan Sinau Barengnya.

Lihatlah, tak bisa dipisahkan Sinau Bareng dengan wirid serta pepujian dan memohon syafaat Rasulullah. Kurang lengkap rasanya ada majelis wirid dan shalawat tanpa ada kupasan ilmu yang menyentuh permasalahan umat sehari-hari. Maiyah serasa cincin yang mempersatukan kitdua poros gerakan kebangkitan Islam di Nusantara.

Cincin. Ini dia puncak ilmu otak atik gatuk saya kali ini. Ternyata, buyut Mbah Nun, adalah pewaris cincin Syaikhona Kholil Bangkalan. Mbah Imam Zahid yang diberi hadiah cincin Mbah Kholil diyakini adalah murid sepantaran (bahkan mungkin lebih senior) dari dua tokoh pendiri NU dan Muhammadiyah.

Mbah Imam Zahid dengan pengaruhnya di Jombang, memberesi lingkungan cikal bakal pesantren Tebuireng berdiri, terutama dari para begal dan pendekar penolak dakwah KH. Hasyim Asy`ari.  Sebagai sahabat, Mbah Imam Zahid berjuang membantu di belakang layar, menyiapkan dan babat alas untuk cikal bakal pesantren sahabat ngajinya di Bangkalan.

Warisan cincin dari Mbah Kholil Bangkalan rasanya menemukan makna dalam kiprah Maiyah saat ini. Maiyah mendamaikan, mempersatukan, meninggikan derajat semua pihak untuk menomorsatukan persatuan dalam ber-Islam. Cincin memang tidak kelihatan nyata perannya karena terselip di jari. Jari yang dipakaikan cincin maka pemakainya terasa meningkat derajatnya. Karena cincin cita-cita Islam rahmatan lil alamin di bumi Nusantara bahkan dunia insyaallah bisa tercapai, yaitu dengan ma`had Maiyah.

Dari Bangkalan Al-Maghfurlah Syaikhona Kholil kami yakini meletakkan pondasi gerakan kebangkitan Islam melalui kebangkitan kemanusiaan manusia secara seharusnya manusia. Inisiasi pondasi gerakan pembarahuan Islamnya Rasulullah dari Bangkalan mengkristal dan mewujud melalui NU di Jombang dan Muhammadiyah di Jogja.

Maiyah lahir di tengah keputusasaan kapan Islam rahmatan lil alamin tercapai di bumi Nusantara. Dengan keputusan Allah Swt menugaskan dan memberi amr kepada anak turun Mbah Imam Zahid yang lahir di Jombang dan berkiprah dari Yogyakarta. Inilah mungkin rahasia poros Bangkalan – Jombang – Jogja.

Saya pribadi meski dianggap mengigau tetap akan memegang keyakinan ini. Bagi saya nggak ada rugi akidah sedikit pun dengan meyakini otak atik gatuk ini. Tulisan belepotan ini tak mengurangi keyakinan saya dan beberapa teman bahwa poros Bangkalan – Jombang – Jogja insyaallah adalah takdir pembawa pencerahan di abad kegelapan ini. Semoga kami bisa istiqomah mengikuti markah lajur Maiyah, meski mungkin ada kecut hati (sedikit) bahwa kayaknya nasib kami pelaku jalan Maiyah juga akan seperti Mbah Nun dan kakek moyangnya: peran tak terlihat, hasil tak tercatat, dan bahkan alamat pastinya adalah bombardir cemoohan manusia modern. Wallahu a’lam bisshawab.

Lainnya