Nyegara

Image by JUAN FERNANDO YECKLE from Pixabay

Rumus untuk bagaimana menyikapi apapun yang terjadi pada hidup itu sederhana saja. Yang engkau benci belum tentu jelek, yang engkau suka belum tentu baik. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Itu berlaku untuk apapun saja yang menimpa kita. Termasuk misalnya kalau Anda mempunyai pasangan yang segala sesuatunya berkebalikan dari Anda, maka jangan frustrasi, tetapi bersyukurlah. Itu artinya tumbu ketemu tutup. Jodoh yang sempurna. Kalau sifat, tabiat, selera, dan pemikiran sama, maka apalah asyiknya berumah tangga. Tidak ada dinamika. Sintesis hanya terjadi ketika ada tesis dan antitesis. Hikmah akan muncul ketika terjadi benturan. Seperti dilambangkan dengan ikan bekal Nabi Musa ketika mencari Nabi Khidlir yang yang tiba-tiba kembali hidup dan meloncat ketika berada di pertemuan dua laut, Majma’ul Bahrain.

Anda telah dipilih mendapatkan pelatihan sepanjang hidup untuk mencapai derajat orang-orang yang dibersamai Allah, yaitu orang yang sabar. Bukankah seperti halnya maut dan rezeki, jodoh adalah ketentuan Allah Swt. Anda juga akan termasuk orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan belajar untuk “merasa berat dengan penderitaan orang lain” dan berlaku lemah lembut. Karena syarat utama untuk bisa seperti itu adalah mempunyai sifat sabar.

Apalagi kalau jodoh Anda bukan hanya berkebalikan, tetapi ditambah fitur sumbu pendek, maka itu ibarat mendapatkan instruktur atau sparing partner terbaik yang akan meningkatkan kualitas kelulusan Anda nantinya. Selain derajat yang tinggi, sabar adalah satu dari dua kunci kebahagiaan dunia akhirat, yaitu sabar dan syukur. Dan cukup menjadi sabar, maka syukur juga pasti akan diraih karena keduanya sisi mata uang yang sama. Sabar adalah syukur atas hal-hal yang tidak disukai, dan syukur adalah sabar atau menahan diri terhadap apa-apa yang disukai. Betapa beruntungnya Anda!

Awalnya mungkin semua perbedaan, bahkan yang 180°, bisa diselesaikan dengan cinta. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika yang lebih banyak tersisa adalah tanggung jawab, maka perbedaan itu semakin banyak memakan energi batin, kalau tidak diatasi dengan kebijaksanaan. Sebagian besar perbedaan di pasangan kita itu akan tetap di sana, betapapun kita ingin mengubahnya. Jangan protes, ya memang begitu, setiap individu diciptakan unik. Mau tidak mau kita harus bisa menerimanya, karena hanya itu cara untuk bertahan. Dan kita akan dilatih setiap hari untuk bisa bersikap menerima, walaupun sebenarnya mungkin tidak setuju.

Ngelmu kalakone kanti laku. Kalau sudah berlatih setiap hari maka pastilah menjadi ahli. Akan sangat mudah untuk mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Pada umumnya orang mengira bahwa mereka harus setuju untuk bisa menerima dalam hati. Padahal banyak sekali hal di dalam hidup yang berada di luar kontrol kita dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Dan kita memboroskan energi batin dengan menolaknya.

Dari yang konyol remeh-temeh, jengkel melihat teman yang punya pendirian begitu bodohnya tetapi tidak menyadari kebodohannya dan terus berkoar-koar di grup yang kita terpaksa mengikutinya demi sopan santun. Ataupun yang besar-besar, dada kita sempit dengan sangat banyak kebusukan di hampir semua bidang kehidupan yang terjadi di Indonesia. Kita sedih dan marah melihat bagaimana orang bodoh dan pembohong masih saja bisa bercokol berkuasa, padahal sudah jelas-jelas tidak berkompeten. Itu memang sangat erat relevansinya dengan hidup kita, tetapi jauh sekali dari jangkauan kita untuk memecatnya. Tetapi itu sudah mengkonsumsi banyak sekali energi batin kita.

Kunci untuk bisa menerima apapun saja adalah menyadari sepenuhnya bahwa segala urusan kembali pada Allah Swt. “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imran: 109). Yang membuat kita lelah adalah kita mengurusi yang bukan urusan kita. Hatimu akan tenang kalau engkau tahu diri untuk tidak mengurusi yang bukan urusanmu. Yang mungkin menjadi urusanmu hanyalah niat dan usahamu. Yang harus kau sucikan dan lakukan dengan sebaik-baiknya. Sementara hasil atau kejadian yang benar-benar termanifestasikan adalah hak prerogatif Allah. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, kehendak Allah yang akan terwujud. Jadi kenapa kita tidak menerimanya saja.

Tapi yang sering kita lakukan adalah kebalikannya, serius memikirkan atau mengurusi soal hasil, tapi berupaya seadanya. Kita seringkali memelihara rasa khawatir karena diam-diam dengan bodohnya kita menyangka bahwa rasa khawatir mencegah terjadinya sesuatu yang kita khawatirkan itu. Dan kita dengan bodohnya terus berangan-angan akan sesuatu yang kita inginkan karena menyangka khayalan itu akan membantu mewujudkan impian kita.

Kita bisa gila kalau memelihara penolakan terus-menerus dalam hati kita. Hati harus seluas samudera, menampung apa saja yang dialirkan sungai kehidupan ke dalamnya. Kita harus nyegara. Berat memang, tapi ganjarannya besar, yaitu innallaaha ma’as shabiriin. Adakah karunia yang lebih besar selain diakui kebersamaannya dengan Sang Pencipta. Itulah maiyatullah.

Lainnya